HUKUM RIMBAWAN

TENGKORAK

Hukum apakah yang berlaku di dunia internasional, dari dulu sampai sekarang? Jawabannya adalah: hukum rimba, atau hukum lautan (di sana ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar; ikan lebih besar dimakan ikan yang lebih besar lagi, dan begitu seterusnya).

Di dunia ini, dalam pergaulan antar bangsa-bangsa manusia, kendati ada yang disebut hukum internasional, yang berlaku dan dominan tetaplah hukum rimba, dalam arti bangsa (negara) yang kuat menjadi penentu hukum, menjadi penentu benar dan salah. Karena itu, membangun keku-atan merupakan tujuan utama bangsa-bangsa. Membangun kekuatan itu, tidak lain, adalah sebuah upaya untuk bisa menang atau setidaknya bertahan dalam arena adu kekuatan di segala bidang. Adu kekuatan, dengan kata lain, adalah perang.

Kehidupan manusia, dari masa ke masa, di seluruh permukaan bumi, tidak pernah luput dari sentuhan dan aroma perang. Perang seolah menjadi keharusan, menjadi kebutuhan manusia, untuk bisa hidup.

Perebutan sarana hidup —pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal) dan segala asesori ketiganya, yang menimbulkan perang itu, bahkan tampak menjadi sumber ilham (inspirasi) bagi penciptaan hukum itu sendiri. Artinya, dalam konteks ini, hukum yang muncul adalah: siapa kuat, dia menang; siapa menang, dia dapat (yang dibutuhkan). Sebaliknya, tentu: siapa lemah, dia kalah; siapa kalah, dia kehilangan (segalanya).

Agresi AS dan sekutunya ke Irak adalah contoh sempurna dan masih hangat tentang berlakunya hukum rimba itu. Karena tahu dengan pasti (bukan hanya merasa) bahwa dirinya kuat, AS tidak sungkan-sungkan untuk mengambil keputusan unilateral (sepihak) untuk menyerang Irak. Per-timbangan PBB, dan negara-negara yang menentang, bahkan juga hukum internasional, dikesampingkan se-enaknya.

Kemudian, di mendan perang, AS dan sekutunya (Inggris, Australia, Spanyol, dan lain-lain), sebagai bang-sa-bangsa berbudaya, apakah peduli pada nilai-nilai kejujuran, kejantanan, dan sikap ksatria? Tidak. Mereka da-tang untuk menyerang dan menang, bukan untuk memeragakan nilai-nilai moral atau budaya mulia. Mereka da-tang dengan jumlah pasukan besar, tanpa harus merasa malu bahwa jum-lah tentara dari negara yang mereka serang sudah menyusut sangat banyak karena pemerintahnya sudah jatuh miskin akibat perang sebelumnya dan akibat embargo ekonomi selama 12 tahun. Mereka juga datang dengan senjata-senjata mutakhir super cang-gih dan sangat lengkap, tanpa harus merasa iba menyerang negara yang persenjataannya sedikit dan kuno, bahkan sebagian besar sudah lebih dulu dihancurkan melalui paksaan PBB dan para agresor. Mereka, para agresor itu, rupanya tidak pernah peduli walau mereka akan disebut pengecut.

Setelah Irak kalah (sejak awal memang sudah diketahui pasti kalah), lihatlah betapa banyaknya keuntu-ngan yang bisa diraih sang angresor melalui jalur perdagangan minyak dan pembangunan ulang sarana-sarana kehidupan yang rusak. Juga melalui jalur politik, betapa semakin luasnya pengaruh mereka di dunia. Sebaliknya bagi pihak yang kalah, mulai dari Saddam Hussein, warga Irak, bangsa Arab, dan umat Islam, sungguh tak ternilai harga kehilangan yang harus diderita, baik dari segi ekonomi, politik, moral, maupun kebudayaan. Sakit dari kekalahan (yang sangat pantas itu) bahkan tidak bisa ditangisi, karena air mata sudah tak bisa lagi menjadi ukuran kesedihannya.

Tapi, sekali lagi, itulah hukum rimba. Itulah hukum yang benar-benar positif (berlaku) di atas segala hukum yang dinyatakan sebagai hu-kum positif dalam kehidupan manu-sia.

  1. Tidak ada hukum yang bisa mengatasi hukum kebutuhan hidup. Lihatlah bagaimana anjuran-anjuran untuk memboikot produk-produk Amerika (dan sekutunya) dimentahkan, karena adanya ketergantungan eko-nomis (kebutuhan hidup) banyak o-rang   pada produk-produk itu. Lihat pula di arena lokal, bagaimana serunya penentangan terhadap undang-undang anti pornografi dan pornoaksi. Argumentasi para penentang itu intinya cuma berkisar seputar seni dan rejeki (duit).

Seni mewakili kebutuhan akan ‘keindahan’ yang merupakan konsumsi hati (perasaan). Rejeki, jelas, mewakili kebutuhan hidup yang ber-hubungan dengan perut. Hati butuh hiburan, perut butuh makan-minum. Bagi si seniman, gejolak hati harus dipuaskan dengan berekspresi, walau harus bertingkah seperti hewan. Dan ketika ekspresinya dianggap indah oleh masyarakat, maka si seniman berhak mendapat banyak duit.  Bagi sebagian masyarakat, ekspresi seniman yang indah, selain menjadi hiburan juga bisa menjadi tumpangan untuk mendapatkan duit pula.

Manusia rupanya bukan hanya hewan berlogika (hayawãnu-nãtiq), tapi juga – kebanyakan –  logikanya selalu mengacu pada poros UUD;  yaitu – seperti yang sering dikatakan –  ujung-ujungnya duit!

Jadi, raja rimba – yang melahirkan hukum rimba – bulanlah singa, tapi duit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: