Iga Kucing

Duh, Noval, tega banget! Aku kan bukan untuk dipotong lho!

Duh, Noval, tega banget! Aku kan bukan untuk dipotong lho!

Ini cerita dari teman saya, Bowo, yang punya dua putra ganteng-ganteng bernama Noval dan Khaidar. Noval, yang putra sulung, sangat aktif dan ‘cerewet’.

Selain sebagai kontraktor, Bowo adalah pemilik sejumlah warung iga (sapi dan kambing) bakar di Bekasi. Sebagai pengelola warung, ada kalanya ia mengeluh ketika warungnya agak sepi, dan rupanya keluhan itu secara diam-diam direkam Noval dalam kepalanya.

Suatu hari, ketika Bowo mengajak keluarganya mampir di sebuah warung ayam goreng, Noval berkata, “Yah, mendingan kita jual iga ayam aja supaya warung kita ramai!”

“Wah, ngga bisa, Nak! Ayam kan ngga ada iganya!” sahut Bowo sambil tertawa.

Di hari lain, ketika Noval melihat seekor kucing di rumahnya, ia berkata pula pada sang ayah, “Yah, gimana kalo kita jual iga kucing?”

“Wah, ngga boleh, Nak! Kucing kan haram.”

“Kenapa kucing haram Yah?”

“Karena ada taringnya,” kata sang ayah.

Noval diam sesaat.

Kemudian katanya pula, “Tapi, Yah, kalo kepalanya udah dipotong kan taringnya ngga ada!”

Advertisements
Comments
3 Responses to “Iga Kucing”
  1. pandi says:

    coba pake iga mawarni. he.. he.. bakal rame.. mau.. mau.. halo agos2 (maaf, ngelantur)

  2. Ahmad Haes says:

    Wah, ternyata kamu lebih tega dari Noval ya? he he

  3. Fahrul says:

    jadi pengen nyobain sop iga kucing he..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: