Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (10)

Gagal Menjadi Nebukadnezzar

Nebukadnezzar II, tokoh idola Saddam.

Nebukadnezzar II, tokoh idola Saddam.

Dalam Perang melawan Iran itu, untuk pertama kalinya kota Baghdad mengalami serangan udara. Saat itu lah mulai tampak bahwa ibukota Irak itu adalah sasaran empuk untuk serangan udara, dan bahwa jaringan radarnya tidak efektif untuk memberikan perlindungan secukupnya. Sejak perang pecah pada tahun itu, semua mata melirik pada pangkalan nuklir yang dibangun Saddam, terutama dengan adanya propaganda bahwa Israel telah menyerang pangkalan itu sebelum perang.

Namun, sebenarnya Irak telah membangun perlindungan sedemikian rupa, yang menggagalkan serangan Israel tersebut. Israel hanya bisa merusak alat perlindungan itu, yang segera dapat diperbaiki Irak.

Yang menarik dari perang itu adalah kenyataan bahwa Angkatan Udara Irak tidak dilibatkan dalam pertempuran. Sebagai akibatnya, sementara Iran kehilangan 200 dari 400 pesawatnya dalam beberapa hari di awal perang, Irak sendiri cuma kehilangan beberapa buah pesawat. Konon, pesawat-pesawat Irak disebarkan di seluruh wilayah Irak dan di luar negeri (antara lain di Suriah) dengan tujuan melindungi pasukan yang telah bertempur di front Mesir dalam perang Arab-Israel tahun 1973.

Pada waktu itu, pesawat-pesawat Hauwker-Hunter Irak memotong jalan udara Israel dalam suatu serangan di Bukit Sinai.

Khomeini tiba di Mehrabad setelah bertahun-tahun tinggal di Irak dan Prancis.

Khomeini tiba di Mehrabad setelah bertahun-tahun tinggal di Irak dan Prancis.

Dalam perang melawan Iran, Irak menegaskan pendiriannya bahwa ia tidak berperang melawan pasukan dan rakyat Iran, tapi cuma memerangi rejim Khomeini dan para Pengawal Revolusi Iran. Saddam Hussein cuma akan memerangi Iran selagi Khomeini masih hidup!

Memang benar bahwa perang itu membuat Khomeini mampu menciptakan persatuan nasional dan melenyapkan perbedaan-perbedaan. Tapi, dengan perang itu pula, Iran menjadi sukar untuk berkembang menjadi sebuah negara baru yang agresif.

Perang Irak-Iran yang makan waktu 8 tahun adalah perang pertama antara negara-negara anggota OPEC, dan tidak begitu banyak melibatkan peran negara-negara super power (walau ada yang menyebut bahwa Amerika meminjam tangan Saddam untuk menghantam musuh barunya, Iran, yang menyebut Amerika sebagai Setan Besar).

Yang menarik, dalam perang Irak-Iran itu pula untuk pertama kalinya dipertontonkan rontoknya senjata-senjata buatan Amerika (yang digunakan Iran) oleh senjata-senjata buatan Soviet dan Prancsis (yang digunakan Irak). Terbukti pula bahwa senjata-senjata yang dibeli Irak dari Brasil juga efektif.

Kualitas kepemimpinan Saddam Hussein mulai banyak diperbincangkan orang di masa perang dengan Iran. Dalam suatu kunjungannya menjumpai pilot Irak di front pertempuran, ketika tentara Irak ada di luar Abadan, Saddam berkata, “Begitu banyak musuh yang tidak menghendaki Irak menempati posisinya yang sebenarnya, karena mereka tahu bahwa hal itu akan membawa kebaikan bagi bangsa Arab.”

Fuad Matar, sang penulis biografi resmi Saddam Hussein, menyimpulkan bahwa Saddam Hussein berusaha memainkan suatu peran besar di dunia. Peran itu akan menghasilkan Irak yang kuat, tak peduli apa pun bahaya yang mengancamnya. Memang itulah impian Saddam Hussein, anak petani miskin, yang kata orang suka mempersamakan dirinya dengan tokoh kuno bangsanya yang termashur, Kaisar Nebukadnezzar (ejaaan Inggris: Nebuchadnezzar).

Dalam wawancara dengan Fuad Matar, Saddam mengatakan, “Nebukadnezzar menghadirkan dalam ingatan saya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah pra-Islam kuno. Saya diingatkan bahwa seseorang yang berpandangan luas, beriman, dan berperasaan, akan bertindak dengan bijaksana namun praktis, mencapai tujuan-tujuannya, dan menjadi orang besar yang membuat negaranya menjadi negara besar. Yang terpenting bagi saya ketika berbicara tentang Nebuchadnezzar adalah kaitannya dengan kemampuan bangsa Arab dan pembebasan Palestina.

Nebukadnezzar, kenyataanya, adalah adalah orang Arab dari wilayah Irak, walaupun Irak purba. Nebukadnezzar adalah orang yang mengangkut sejumlah budak Yahudi dari Palestina. Karena itulah, setiap saya ingat Nebukadnezzar, saya suka mengingatkan bangsa Arab, terutama orang Irak, tentang tanggungjawab-tanggungjawab sejarah mereka. Itu merupakan beban yang seharusnya tidak membuat mereka berhenti bertindak, bahkan sebaliknya terus bertindak karena latar belakang sejarah mereka. Sepanjang sejarah, sebelum dan sesudah Islam, telah banyak orang yang berusaha membebaskan Palestina.”

Bila kita berempati pada Saddam, mungkin kita bisa memahami bahwa dengan mengingat sejarah kuno Irak, dengan mengingat dan mengidentifikasi diri sebagai Nebukadnezzar, Saddam ingin membebaskan Palestina dan bangsa Arab dari cengkeraman Israel. Untuk itu, pertama-tama, ia harus membangun Irak yang kuat. Sayangnya, barangkali, Saddam telah melakukan langkah-langkah yang salah (kontra produktif), sehingga ambisinya menjadi terlalu mudah dibaca (dan dihancurkan) lawan.

Tindakannya memulai perang dengan Iran, memang telah memperlemah Iran —yang konon juga mempunyai ambisi untuk menjadi ‘polisi kawasan Teluk’. Tapi, seiring dengan itu, akibat perang yang begitu lama, kekuatan Irak juga menjadi banyak terkuras.

Belum lagi Irak cukup beristirahat dengan melakukan gencatan senjata bersama Iran, Saddam sudah memulai lagi apa yang disebut “Perang Teluk I” (bila yang dimaksud adalah perak antara Irak melawan AS dan sekutunya; tapi menjadi “Perang Teluk II” bila perang Irak-Iran dianggap sebagai “Perang Teluk I”), diawali dengan menduduki Kuwait pada tanggal 2 Agustus 1990. Akibatnya, Dewan Keamanan PBB mengijinkan penggunaan kekerasan terhadap Irak, bila pasukan Irak tidak ditarik dari Kuwait hingga tanggal 15 januari 1991. Keputusan (resolusi) PBB (urutan ke-11, no. 678) itu didukung oleh 12 dari 15 anggota, ditentang oleh Kuba dan Yaman, sementara RRC menyatakan abstain.

Selanjutnya, AS yang waktu itu dipimpin Presiden George Bush, ayah Presiden George Walker Bush, memimpin sekutunya untuk menyerang Irak pada tanggal 16 januari 1991. Pertahanan wilayah udara Irak, yang pada waktu perang dengan Iran pun sudah diakui Saddam sebagai lemah, tentu menjadi lebih empuk lagi bagi “pasukan multinasional” yang mengerahkan banyak pesawat pembom untuk menghujani kota-kota Irak dengan berbagai jenis bom tercanggih saat itu.

Kita tahu, sejak saat itu, Irak bukan hanya telah dihancurkan secara fisik dan militer, melalui perang yang diakhiri dengan gencatan senjata pada tanggal 28 Februari, tapi juga lewat jalur (boikot) ekonomi.

Advertisements
Comments
One Response to “Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (10)”
  1. Chaedar says:

    Menarik juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: