Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (8)

Konon, di tahun 1991, ratusan kilang minyak Kuwait diledakkan tentara Saddam ketika mereka dipaksa mundur oleh pasukan AS dan sekutu-sekutunya.

Konon, di tahun 1991, ratusan kilang minyak Kuwait diledakkan tentara Saddam ketika mereka dipaksa mundur oleh pasukan AS dan sekutu-sekutunya.

Saddam Dan Sajidah
Jika nama Saddam (aslinya shaddam/ صدّام) mempunyai bebarapa arti yang ‘seram’, antara lain kata dasarnya berarti menumbuk atau menghantam dengan badan, istrinya sendiri bernama Sajidah (orang Barat biasa menulis Sajida) yang secara harfiah berarti yang bersujud atau tunduk. Sebagaimana halnya nama dan sifat berpadu dalam diri Saddam Hussein, begitu pula agaknya dengan istrinya. Sebagai istri, Sajidah dikenal sangat berbakti pada suaminya. Tapi berita-berita yang tersiar belakangan menyebutkan tentang ‘pemberontakan’ Sajidah terhadap suaminya yang merupakan saudara sepupunya itu.

Ada yang mengisahkan bahwa melalui tangan anaknya tertua, Sajidah  membunuh orang kepercayaan Saddam yang bernama Kamil Hana Jajo. Konon, orang ini selain bertugas sebagai pencicip makanan, juga menjadi pemeriksa wanita-wanita yang ingin bertemu Saddam. Memang ada berita-berita yang menyebut Saddam termasuk play boy. Tapi, ada pula yang mengatakan bahwa Saddam cuma mengambil seorang wanita saja setelah Sajidah, yang diresmikannya menjadi istri kedua.

“Hingga tahun 1978, orang Irak tak tahu tentang kehidupan rumahtangga Saddam,” tulis Fuad Matar. “Mereka tak tahu berapa anaknya, bagaimana cara Saddam mengurus mereka, dan lain-lain. Saddam menjaga agar kehidupan pribadinya tidak diketahui rakyat. Yang mengenal keluarganya hanyalah  orang-orang tertentu Partai saja.”

Tapi kemudian, tahun 1978, majalah Al-Mar’a  (Arab, al-mar’ah: wanita) yang diterbitkan Federasi Umum Wanita Irak, menampilkan profil Saddam Hussein dan keluarganya. Sejumlah foto Saddam dengan istri dan anak-anaknya dimuat. Majalah itu juga mengutip pandangan Saddam tentang kehidupan berkeluarga. “Segalanya harus didasarkan kepada saling pengertian tentang tugas masing-masing,” tutur Saddam yang tahun itu masih sebagai Wakil Presiden.

“Yang terpenting,” lanjut Saddam, “jangan membuat istrimu merasa rendah semata-mata karena ia wanita. Jika wanita merasa demikian, kehidupan keluarga tak ada lagi. Hubungan keluarga harus didasarkan pada rasa saling hormat.”

Sajidah bekerja sebagai kepala sekolah. Setiap pagi ia bersama empat anaknya meninggalkan rumah pukul tujuh, sementara yang terkecil, Hala, tinggal di rumah bersama pengasuh. Hal itu diketahui Fuad Matar setelah ia mendapat izin Saddam untuk bertemu dengan keluarga Saddam di tahun 1980, untuk melengkapi biografi Saddam Hussein yang diterbitkan setahun berikutnya.

“Istri saya naik pangkat dari wakil menjadi kepala sekolah tak lama setelah Revolusi, melalui prosedur yang normal,” kata Saddam. “Ia tidak mendapatkan perlakuan istimewa. Gajinya sama dengan kepala sekolah yang lain. Ia tetap harus bertanggung-jawab dengan segala tugasnya seperti yang lain.”

Kunjungan-kunjungan Mendadak
Suatu pagi, beberapa bulan setelah menjadi Presiden,  Saddam Hussein mengendarai mobilnya di sepanjang jalan Baghdad. Tiba-tiba ia melihat seorang anak  lelaki seusia putra keduanya, Qushay, berdiri di trotoar. Saddam menghentikan mobilnya di dekat anak itu. “Mau ke mana?” katanya.

“Saya mau ke sekolah!” jawab anak itu.

“Ayo ikut saya!” kata Saddam sambil membuka pintu mobil. Meski mulanya agak terperangah, anak itu kemudian ikut. Dalam perjalanan, Saddam bertanya pula, “Kamu anggota Baath?”
“Tentu saja. Kita semua orang Baath!” jawab si anak.

Mobil terus melaju hingga mendekati Sekolah Menengah Atifiyah. Lalu anak itu balik bertanya, “Bapak ini siapa sih?”

“Saddam Hussein!”

Kini anak itu benar-benar terperangah.

“Tenanglah. Saya akan mengantarmu ke sekolah; sekalian ingin bertemu dengan guru-gurumu,” kata Saddam lagi.

Anak itu girang bukan kepalang. Ia bangga sekali pagi itu bisa masuk sekolah dengan diantar Presiden!

Pagi lainnya, Saddam berkunjung ke rumah penduduk.

Tuan rumah tampak agak bingung ketika ia datang. Bukan karena mengenalnya sebagai Presiden, tapi karena tak punya hidangan yang layak untuk menjamu sang tamu. “Kami tak mendapatkan telur selama beberapa hari, karena persediaan di pasar terlalu sedikit. Kami hanya bisa menghidangkan roti dengan mentega, selai dan teh,” katanya.

“Ya, mari kita makan itu saja!” kata Saddam.

Mereka lalu bersantap pagi sambil mengobrol tentang banyak hal. Beberapa hari kemudian, pasar di daerah itu telah menyediakan telur dalam jumlah yang cukup.

Kunjungan-kunjungan semacam itu telah dilakukan Saddam sejak sebelum menjadi Presiden,  dan makin bertambah sering setelah ia menjadi Presiden. Salah satunya adalah kunjungan ke pasar-pasar di Karrada dan Syawaka. Dengan mengenakan yasymak dan busana nasional, ia menanyakan harga-harga. Ternyata harga barang-barang di situ lebih  mahal dari yang diperkirakannya.

“Kenapa kau menjual barang-barang dengan harga yang lebih mahal dari yang disiarkan televisi?” tanya Saddam kepada seorang pedagang.
“Karena harga-harga yang disiarkan televisi itu tidak menguntungkan,” jawab pedagang itu seenaknya.

Saddam mencopot yasymaknya, lalu katanya, “Saat ini kamu sedang berhadapan dengan Saddam Hussein!”
Si pedagang lari ketakutan. Saddam memanggilnya sambil mengatakan bahwa ia tidak akan mengapa-apakan si pedagang, tapi ia harus berjualan sesuai peraturan yang telah ditetapkan.

Di televisi Irak, Saddam mengusulkan acara Diskusi Bulanan.  Pada kesempatan itu, rakyat mengajukan pertanyaan-pertanyaan lewat telepon kepada para pejabat yang dipajang di televisi. Mereka harus memberikan jawaban-jawaban yang jelas dan meyakinkan.

Saddam juga membuka pintu untuk kunjungan-kunjungan rakyat yang ingin menemuinya di Istana Presiden. Dalam pertemuan mingguan di Istana, sekitar 200 warga Irak datang mengadukan berbagai masalah. Di kantor Presiden juga ada telepon khusus untuk melayani percakapan dengan rakyat. Hal itu pun masih ditambah dengan izin bagi  rakyat untuk menulis surat kepada Presiden.

Kadang-kadang Saddam malah mengajak tamu-tamu Irak untuk turut serta dalam kunjungan-kunjungan kepada rakyatnya. Salah seorang tamu yang pernah mengalami hal itu, di antaranya, adalah Presiden Aljazair, Chadli Ben Jedid, yang berkunjung ke Irak cuma sehari. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan sang Presiden, Saddam mengajaknya berkunjung ke satu rumah penduduk.

Televisi Irak menyiarkan berita kunjungan itu pada malam harinya.

Minyak dan Anak-anak
Dari sekian banyak tempat yang dikunjungi Saddam, yang paling disukainya adalah mengunjungi sekolah dan taman kanak-kanak. Hal itu dilakukannya mungkin karena ia tidak mengenal ayahnya yang wafat sebelum ia lahir, dan setelah menjadi ayah ia sendiri terhalang untuk menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya karena sibuk dengan perjuangan Partai. Tapi, alasan utamanya adalah karena ia sangat memikirkan masa depan Irak. Saddam ingin agar anak-anak Irak mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Saddam adalah pencipta dari kalimat-kalimat seperti:  Sumber daya manusia bermula dari anak-anak. Anak-anak adalah ibarat marmer untuk bahan patung, dan gurunya dapat mengubahnya menjadi suatu bentuk yang bagus, lebih sempurna dari yang dapat dihasilkan oleh alam atau zaman.

Pada saat media cetak Iran menulis berita-berita tenang kudeta di Irak, koran-koran Irak sendiri malah menonjolkan berita-berita tentang pertemuan-pertemuan Saddam dengan anak-anak dari taman kanak-kanak Bara’im dan Rayahim. Saddam mendengarkan mereka menyanyi, membagi-bagi hadiah, dan bercakap-cakap dengan para guru. Alhasil, sejak saat itulah para pejabat Irak, bahkan pendiri Partai Baath sendiri, Michael Aflaq, jadi sering mengadakan pertemuan dengan anak-anak dalam kesempatan-kesempatan resmi. Michel Aflaq bahkan sudah begitu jauh memperluas teori partainya dengan menambahkan sesuatu yang oleh Saddam disebut ‘Teori Baath Tentang Anak’.

Tanggal 1 Juni 1980, Saddam memperingati ulang tahun kedelapan nasionalisasi minyak Irak dengan cara tak terduga. Ia mengundang sejumlah anak-anak remaja, pria dan wanita, dari Barisan Depan Partai. Kemudian, seperti seorang ayah yang mendongeng untuk menidurkan anak, Saddam menceritakan bagaimana terjadinya proses nasionalisasi itu, dan kehidupan macam apa yang dialami Irak sebelum itu. Ia ingin menyatakan kepada mereka bahwa langkah besar itu dilakukan untuk mereka, generasi masa depan Irak.

Anak-anak itu diundang karena prestasi mereka di sekolah. Suatu hari nanti mereka akan menduduki jabatan-jabatan penting dalam negara, dan mereka akan selalu mengingat kisah-kisah yang dituturkan Saddam Hussein. “Sebelum  nasionalisasi, perusahaan-perusahaan minyak (asing) itu melakukan trik-trik terhadap Irak. Mereka mengatakan kepada Pemerintah Irak bahwa di pasar tidak ada permintaan atas minyak Irak. Dengan cara begitu, mereka membuat harga minyak Irak jadi murah, supaya mereka mendapat untung besar! Kalian tahu? Sebelum minyak dinasionalisasi, kas perbendaharaan negara kosong! Tapi, setelah nasionalisasi, pendapatan Irak dari minyak berjumlah jutaan dinar. Dengan itu, Negara bisa membangun gedung-gedung sekolah, pabrik-pabrik, dan rumah sakit.  Dengan itu pula, Negara bisa mengadakan pakaian seragam bagus yang kini kalian kenakan.”

Saddam juga menceritakan bahwa di masa itu, seorang pejabat penting, apalagi presiden, tak akan mengunjungi kota dan rumah mereka. Kunjungan seorang Mutassarif (gubernur)  hanya akan terjadi beberapa tahun sekali, dan rakyat akan mencuci jalan-jalan, menghias kota, hanya untuk melihatnya datang, makan bersama pejabat lokal, lalu pergi lagi. “Kita bahkan tidak bisa berbicara dengan polisi. “Tapi kini, kalian bisa bercakap-cakap dengan ‘kawan’ kalian, Saddam Hussein!”

Anak-anak itu kemudian dimanfaatkan Saddam untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada orangtua mereka.

Kunjungan-kunjungan Saddam ke sekolah tentu saja menimbulkan dampak baik bagi anak-anak sekolah.  Para ibu jadi cenderung mendandani anak mereka serapi mungkin, dengan pemikiran siapa tahu Saddam Hussein mengunjungi sekolah mereka.

Saddam terus melakukan kunjungan ke mana-mana, meski diprotes oleh para pejabat keamanannya. Mereka mengeluhkan kesulitan menjamin keamanan Presiden jika ia terus mengunjungi daerah-daerah yang tidak bisa dimasuki mobil, masuk ke pasar-pasar dengan menyamar, atau melakukan operasi melek huruf dengan sekonyong-konyong bertamu ke rumah keluarga yang tak dikenal. Tapi, Saddam malah mengatakan bahwa kunjungan-kunjungannya akan kehilangan makna bila dilakukannya bersama para petugas keamanan.

Saddam bertindak mengikuti tradisi yang diyakininya sebagai cara terbaik untuk mengatur Negara. Suatu tradisi yang jelas bertentangan dengan tuntutan teknologi dan persoalan yang banyak dibicarakan orang tentang keamanan.

Keberhasilannya dalam kampanye pemberantasan buta huruf adalah salah satu prestasi yang ia banggakan. Hal itu jelas sangat berkaitan dengan sejarah dirinya pribadi. Seandainya ia tidak mempunyai kemauan keras untuk mengubah keadaan, ia tak akan pernah mendapatkan pendidikan, dan akan terus menjadi petani miskin di dusun. Sungguh tak akan terbayang olehnya untuk menjadi pemimpin partai atau kepala negara.

Masyarakat Irak pada waktu itu memang kuno alami. Meraka pada umumnya menentang perubahan meskipun hal itu akan mendatangkan kebaikan.Pria dan wanita Irak menjadi ‘tawanan’ tradisi, dengan catatan bahwa wanita adalah tawanan kelas berat. Sekitar satu abad lalu, suatu usaha dilakukan untuk mengubah keadaan itu. Para bapak berusaha memberi pendidikan kepada anak-anak perempuan, tapi usaha ini digagalkan adat. Sebuah buku yang ditulis pada tahun 1897 oleh ulama Baghdad terkenal, Syeikh Naaman bin Abit-Thana al-Alussi, menggambarkan dengan tepat kepercayaan-kepercayaan yang berlaku di Irak:

“Mengajar wanita membaca dan menulis, hanya akan membuat mereka makin berbahaya. Mereka mudah berkhianat dan berdusta, sehingga kepandaian tulis-baca hanya akan membuat mereka semakin jahat dan menyeleweng. Begitu seorang wanita melek huruf, ia akan menyurati si Zaid, menulis pesan pada si Amir, mengirim syair pada si Azab dan lelaki-lelaki lain.  Mengajar wanita tulis-baca sama saja dengan meberikan pedang kepada orang-orang yang bersifat dasar jahat, atau seperti memberikan sebotol anggur kepada pemabuk. Lelaki terbaik adalah mereka yang membiarkan wanita tetap bodoh.”

Saddam memandang kampanye melek huruf sebagai kampanye melawan musuh bangsa yang berbahaya. Karena itulah ia membuat segala peraturan yang ketat, yang disertai sangsi-sangsi hukum. Alhasil, revolusi sosial pun benar-benar terjadi. Ratusan wanita bergegas mengikuti kursus-kursus, meski harus sambil menggendong bayi. Buruh-buruh, para petani, dan mereka yang terlalu miskin untuk masuk sekolah, juga turut berbondong-bondong mengikuti kursus.

Saddam juga merekrut wanita ke dalam militer. Untuk itu ia mengatakan, “Ada dua alasan. Pertama, kami memandang bahwa setiap penduduk pria maupun wanita, setara dalam hal kapasitas dan kecakapan, dan karena itu tugas-tugas negara harus dipikul oleh semua. Kedua, kami menyadari bahwa Israel menggunakan wanita dalam ketentaraan, semata-mata karena ingin meruntuhkan moral bangsa Arab. Mereka tahu bahwa bangsa Arab punya penyakit merendahkan wanita. Israel seolah-olah ingin mengatakan kepada bangsa Arab, ‘kalian yang merendahkan wanita akan kami taklukkan dengan wanita.’”

Lebih jauh, Saddam mengatakan bahwa dulu ‘kawan-kawan’ (anggota Partai) wanitanya berperan sebagai kurir di masa perjuangan bawah tanah. Mereka juga memindahkan perlengkapan perjuangan dari satu tempat rahasia ke tempat rahasia yang lain. Mereka bahkan membantu ‘kawan-kawan’ pria lari dari penjara. Itu hanya sedikit contoh. Terutama, kami tidak bisa melalaikan Islam dan ruh (semangat) Islam. Islam tidak menempatkan wanita dalam harem (ruang khusus gundik-gundik para raja dan bangsawan). Islam memandang pria dan wanita saling melengkapi; yang satu tidak bisa berbuat tanpa peran serta yang lain.”

Dalam pertempuran di daerah Khatji, tanggal 30 Januari 1991, pasukan Irak menawan Melissa Rathbun-Nelly dari Divisi Angkutan ke-233 AD Amerika. Orang bertanya-tanya tentang nasib wanita berusia 20 tahun itu. Ayahnya, nun di negeri agresor sana dengan sedih mengatakan, “Saya berharap anak saya mati, bila saya ingat bagaimana perlakuan orang Irak terhadap wanita.”

Waktu itu tersebar berita bahwa pasukan Irak di Kuwait banyak yang melakukan pemerkosaan. Tapi, Saddam segera memaklumkan bahwa wanita belia yang gemar bertualang itu akan diperlakukan sesuai Konvensi Jenewa dan syari’at Islam. Bicara soal syari’at (peraturan) Islam dalam hal tawanan perang, secara ringkas dapat disebutkan bahwa Islam tidak membenarkan penganiayaan dalam bentuk apa pun.

Dalam Perang Teluk II, pasukan Irak juga menawan tentara wanita AS berusia 19 tahun bernama Jessica Lynch. Jessica, yang merupakan anggota Kompi Pemeliharaan Senjata 507 disergap tentara Irak di Nassiriyah, Irak Selatan, pada tanggal 23 Maret, bersama 5 tentara AS lainnya. Yang lima orang, kecuali Jessica, ditayangkan televisi Irak.

Pihak AS mengira Jessica sudah tewas. Belakangan, tentara AS menemukannya sedang dirawat di sebuah rumahsakit karena menderita luka-luka. Tidak ada cerita bahwa ia diperlakukan sewenang wenang oleh tentara atau rakyat Irak yang didatangi Jessica sebagai musuh.

Advertisements
Comments
One Response to “Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (8)”
  1. hello there and thank you for your information I have definitely picked up anything new from right here. I did however expertise a few technical issues using this web site, since I experienced to reload the site a lot of times previous to I could get it to load properly. I had been wondering if your web host is OK? Not that I am complaining, but slow loading instances times will sometimes affect your placement in google and can damage your quality score if ads and marketing with Adwords. Well I am adding this RSS to my email and could look out for a lot more of your respective fascinating content. Ensure that you update this again soon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: