Jati Diri Dan Bunuh Diri

Aokigahara, hutan di kakai Gunung Fuji, tempat orang Jepang bunuh diri.

Aokigahara, hutan di kaki Gunung Fuji, tempat orang Jepang bunuh diri.

Lima hari lalu (20 Maret) blog CNN memuat kisah tentang pria Jepang bernama Taro, yang berusaha bunuh diri setelah kehilangan pekerjaan.
Berikut cerita lengkapnya.

Hal yang membuat sejarah Taro terungkap bukanlah sorot matanya atau cara berjalannya yang menyeret kaki. Sejarah itu terungkap melalui bekas irisan di pergelangan tangannya, dan luka-luka yang setahun setelah usaha bunuh dirinya masih dalam proses kesembuhan. Ia menyingsingkan lengan bajunya, untuk memperlihatkan pergelangan tangannya kepada Kyung Lah, koresponden CNN di Tokyo, sambil mengatakan bahwa ia masih berpikir untuk bunuh diri karena tawaran kerja tidak juga datang.

“Saya kehilangan jati diri,” kata pria berusia 46 tahun itu. Hal itu terjadi, katanya, karena ia dipecat dari kerjanya sebagai sopir di sebuah pabrik besi.
Bagi orang Jepang, pekerjaan adalah identitas. Kehilangan pekerjaan membuat Taro merasa dirinya tak bernilai.

Taro sudah tahu tentang Hutan Aokiahara, yang terkenal di Jepang sebagai hutan tempat bunuh diri. Ia memutuskan untuk pergi ke sana dan lenyap ditelan kegelapan hutan belantara.

Berhari-hari ia ‘berkelana’ di hutan itu, menanti kedatangan sang maut. Tapi agaknya irisan di pergelangan tangan kurang dalam dan udara di dalam hutan itu tidak cukup ganas. Ia akhirnya terperosok di semak belukar, dalam keadaan haus, lapar, dan menderita radang dingin di jemari kakinya. Ia bahkan hampir kehilangan beberapa jari kakinya karena radang tersebut. Dan ia sudah hampir mati ketika seorang pendaki menemukan dirinya.

Sang pendaki kemudian menelepon petugas kesehatan dan polisi.

Selanjutnya, rumah sakit tidak sudi menerimanya, kata Taro. Karena ia pengangguran dan tuna wisma, semua rumah sakit menolaknya. Polisi akhirnya mempertemukan Taro dengan sebuah organisasi credit counseling, yang akirnya mencarikan rumah sakit yang mau merawatnya.

Selama empat bulan Taro tinggal di rumah sakit tersebut. Setelah ia cukup baikan untuk keluar, organisasi yang sama mencarikannya pula penginapan untuk tempat ia tinggal sambil mencari pekerjaan.

Sampai sekarang, ia belum mendapatkan pekerjaan.

Itulah salah satu gambaran tentang keadaan Jepang yang dilanda resesi ekonomi yang terus memburuk.

“Tak banyak pertolongan yang bisa kami harapkan,” kata Taro pula.

Yang dimaksud dengan “kami” olehnya adalah mereka yang kehilagan pekerjaan dan bangkrut.

Taro yakin, ketika perusahaan-perusahaan besar Jepang memecat puluhan dari ribuan karyawan, maka para buruh kontrak yang sebelumnya sudah tergolong miskin itu, semakin banyak yang melakukan bunuh diri.

Catatan nasional Jepang pun membuktikan bahwa angka bunuh diri di negara itu pada Januari 2009 meningkat 15 persen dibanding Januari 2008.
Selain itu, Jepang memang mempunyai sejarah budaya bunuh diri. Seppuku, misalnya, adalah ritual bunuh diri dari budaya samurai.

Bagi seorang samurai, seppuku adalah bagian dari tanda kehormatan. Seorang samurai lebih memilih bunuh diri, misalnya, daripada menyerahkan dirinya ke tangan musuh. Mereka juga melakukan bunuh diri untuk menutup malu.

Budaya bunuh diri memang masih bertahan di tengah mereka yang tidak kenal agama yang mengajarkan bahwa pelaku bunuh diri bakal masuk neraka di akhirat.

Taro sendiri mengatakan bahwa ia masih berpikir untuk bunuh diri, meski keinginan untuk hidup terasa lebih kuat.

Hanya ada satu hal yang bisa menghapus pikiran itu, katanya.

Apa?

Pekerjaan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: