Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (7)

Marinir AS dalam perang Teluk 1991.

Marinir AS dalam perang Teluk 1991.

Memupuk kesetiaan

Saddam menaruh simpati terhadap bagian-bagian dunia Arab yang lebih miskin. Sebaliknya, ia juga kagum terhadap bagian-bagian lain yang berhasil membangun, misalnya Sudan dan Mauritania.

Ia menghormati presiden Mauritania dulu, Mokhtar Ould Daddah, setelah suatu kejadian kecil di KTT Arab di Rabat tahun 1974. Ketika raja-raja dan para presiden Arab berbicara tentang bantuan-bantuan yang mereka perlukan, Presiden Ould Daddah mengatakan bahwa negerinya amat menderita karena kekeringan, dan amat sangat membutuhkan bantuan. “Tapi kini bantuan itu tak diperlukan lagi karena hujan telah turun. Al-hamdu lillah!”

Sikap Presiden Mauritania itu amat mengesankan Saddam. Dalam keadaan miskin ia tak memperlihatkan sikap lemah, apalagi minta belas kasihan. Saddam secara spontan tergerak untuk mengumpulkan sumbangan bagi Mauritania, yang menghasilkan jumlah 15 juta dolar.

Saddam bersama adik tirinya, Barzan, ketika perang dengan Iran, 1980.

Saddam bersama adik tirinya, Barzan, ketika perang dengan Iran, 1980.

Presiden baru negara itu, Kolonel Muhammad Khouna Ould Haydallah berkunjung ke Irak bulan Mei 1980. Menanggapi sambutan hangat baginya, Presiden baru Mauritania itu berkata, “Sehubungan dengan prinsip Perjanjian Nasional yang diusulkan Presiden Saddam Hussein tanggal 8 Februari 1980, dan demi memelihara kemerdekaannya, Mauritania telah mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan untuk menyingkirkan unsur-unsur militer asing dalam perminyakan negara.”

Ini bermakna penting bagi Saddam. Dalam keadaan miskin dan butuh bantuan, Mauritania bisa bersikap seperti demikian.

Saddam mengklaim bahwa ia membenci kelakuan buruk, tak peduli hal itu dilakukan orang yang paling dekat dengannya. “Orang yang terdekat dengan saya akan menjadi orang yang paling jauh jika ia berbuat salah!” katanya.

Hal ini sedikitnya sudah ia buktikan ketika anak sulungnya Uday, menembak pengawal pribadi Saddam. “Saddam menyerahkan anaknya kepada yang berwenang untuk diadili, tanpa ada kesan ingin melindungi sang anak. Ini merupakan credit point kewibawaanya, yang menbuat orang bisa menerima dengan tulus kepemimpinannya,” tulis Faruq Nasution dalam majalah Panji Masyarakat awal Februari 1991.

Tapi buku ‘Di balik wajah Saddam’ yang diterbitkan CISR (Centre For Islamic Studies and Research) tanpa menuliskan tahun dan bulan terbitnya (tapi pasti tahun 1990), mengatakan bahwa saddam mengirim anaknya itu ke Swiss. “Ia tinggal beberapa minggu di swiss sampai diusir pemerintah Swiss. Lalu kembali ke Baghdad menjadi pemimpin federasi pemuda dan mengetuai Komite Olimpiade Irak.”

Saddam punya kiat sendiri untuk memupuk kesetiaan anak buahnya. Antara lain, ia selalu menjadi orang pertama yang datang ke kantor dan pulang belakangan. Ia juga tak pernah memanggil para pembantunya dengan nama panggilan mereka sehari-hari, tapi selalu menggunalan pamggilan khas Partai (sosialis) “kawan”, atau dengan gealr-gelar yang mereka miliki, seperti “Dr.” dan lain sebagainya.

Ia selalu menekankan adanya kesempatan yang sama bagi semua orang. “Kita ingin agar warga negara ini hidup di sebuah negara yang keadilan ditegakkan, dan bukan koneksi-koneksi.”

Ia keras jika perlu, tapi ia juga mengatakan, “Jangan membelenggu tangan dan kaki rakyat, menghentikan kemungkinan mereka bergerak, dan kemudian mengharap mereka untuk tidak mengeluh dan memberontak.

Konon, saddam juga menolak penonjolan golongan dan diskriminasi. Sebelum menjadi Presiden, ia pernah diberitakan mengejutkan sebuah panitia arsitek yang menagani proyek perumahan, katanya, “Anda melibatkan diri dengan politik dan menerapkan diskriminasi, karena dasar yang Anda gunakan ketika membangun dua buah rumah adalah status sosial orang-orang yang akan menempatinya, bukan ukuran keluarga mereka. “

Akhirnya proyek itu diubah, sesuai instruksi Saddam.

“Saddam tak pernah merasa bahwa ia memerintah negara, tapi lebih suka memerankan suatu pengabdian kepada negara, “ tulis Fuad Matar.

Ayah dan anak-anaknya

Setiap hari Saddam Hussein bekerja di kantornya, di Istana Presiden, sampai larut malam. Ia memang dikenal sebagai pekerja yang tak kenal lelah. Hampir-hampir gila kerja. Tak heran jika ada beberapa orang yang sering merasa kehilangan, lalu berusaha mencarinya, antara lain anak perempuannya yang bungsu, Hala (5 tahun).

Hala sering mendatangi ayahnya di istana. Tak peduli sang ayah sedang sibuk, Hala selalu muncul dengan berbagai permintaan. Meminta ayahnya bercerita, atau membuatkan gambar mobil, atau pesawat terbang, dan Saddam rupanya tak pernah marah kepada bocah ini. Ia bahkan segera bangkit dari tempat duduknya untuk memangku si kecil, menciumnya, lalu mengobrol sebentar.

“Ayah masih harus bekerja. Lihat, pekerjaan Ayah banyak. Kalau kau mau menunggu, nanti Ayah buatkan gambar yang bagus!” begitu bujuknya.

Ada kalanya ‘telepon khusus’ berdering ketika sang Presiden tengah sibuk bekerja. “Saya minta waktu Ayah satu jam saja malam ini,” kata suara di ujung sana. Kali ini yang ‘menggangu’ adalah putri tertua Saddam, Raghad (13 tahun). Saddam mendengar suara anak itu begitu riang ketika ia menyanggupi. Keriangan sang putri balas merambati hati ayahnya, dan ini menjadi semacam selingan yang memberi tenaga baru bagi Saddam. Ternyata Raghad ingin agar sang Ayah mengantarnya ke toko dan memilihkan sepotong baju untuknya. Saddam menemani puterinya, tapi di toko puluhan orang mengerumuni Saddam. Raghad mendapati sepotong baju, tapi tak mendapatkan yang didambanya, yaitu berbelanja dengan nyaman bersama Ayah.

Sampai di rumah seorang gadis berusia delapan tahun, Rana, menyambut kedatangan mereka dengan wajah cemberut. “Huh, kakak dibelikan baju, saya tidak!” rajuk anak itu.

“Jangan marah dulu,” kata Saddam. “Coba kauambil bungkusan yang Ayah tinggal di mobil.”

Saddam pernah mengatakan bahwa ia tak membeda-bedakan semua anaknya yang berjumlah lima orang, namun ia mengaku memberikan perlakuan khusus terhadap anak-anak perempuannya yang berjumlah tiga orang. Dalam sejarah disebutkan bahwa di zaman kegelapan (Jahiliyah) bangsa Arab tidak menyukai anak wanita. Hal itu rupanya masih bersisa hingga sekarang, dan Saddam agaknya ingin membuktikan bahwa ia tidak termasuk salah satu di antara yang demikian.

Karena anak tertuanya bernama Ady, atau lebih dikenal sebagai Uday (dalam huruf Arab keduanya ditulis secara sama: عدى), Saddam pun mendapat panggilan adat (tradisional) Abu Ady (ayah si Ady).

Tahun 1980, usia Ady 17 tahun. Badannya tinggi langsing, hampir setinggi ayahnya. Saat itu ia sudah terjun ke dalam berbagai kegiatan Partai, dan sibuk dalam latihan-latihan militer. Sedangkan putranya yang kedua, Qushay (قصى), waktu itu hampir berusia 15 tahun. Ia kurang dikenal seperti kakaknya, yang sering diberitakan melakukan berbagai skandal.

Ady, konon, mendapat nilai bagus untuk pelajaran fisika dan kimia di sekolahnya, dan waktu itu ia bercita-cita untuk memperdalam bidang fisika nuklir di universitas. “Irak membutuhkan ilmuwan-ilmuwan di bidang ini,” katanya. Karena itulah, agaknya, ia bergabung dengan suatu ‘klub nuklir’ di negaranya, tanpa melupakan latihan-latihan militer yang cukup keras. “Setiap orang Irak harus dilatih dan disiapkan!” katanya tentang latihan tersebut.

Ady sudah menjadi anggota Partai sejak berusia 12 tahun, dan menjadi pemimpin Partai di sekolahnya. Ia banyak membaca buku-buku tentang Baath dan bertanya kepada ayahnya jika menemukan hal-hal yang sulit dipahami.

Adiknya, Qushay, mengatakan ingin menjadi perwira angkatan bersenjata. Ia bersama Ady belajar di Baghdad College. Di situ mereka juga belajar bahasa Inggris dan Prancis, selain bahasa Arab. Sementara Raghad dan Rana, belajar di sekolah Karkh(un), berbaur dengan para pelajar pria. Keduanya ingin menjadi dokter.

Belakangan, menurut buku Di Balik Wajah Saddam, Raghad menjadi istri kapten menteri perindustrian militer, dan Rana menjadi istri kapten Pasukan Pengawal Presiden. Ady atau Uday, menurut buku itu pula, belakangan menjadi cukong ekonomi, perdagangan dan pasar gelap. Sementara Qushay bekerja di biro khusus.

Persis tanggal 15 Januari 1991, Ady yang juga dikenal sebagai Ketua Panitia Olimpiade Irak dan ketua persatuan sepakbola negerinya, mengirim surat kepada ayahnya dari medan perang; antara lain berbunyi:

“Salam untukmu, lambang keberanian dan kejantanan. Kami rela berkorban jiwa untukmu. Saya tulis surat ini ketika dalam perjalanan di Irak Selatan menuju Kuwait, untuk bergabung dengan singa-singa jantan Irak yang pemberani, yang siap mempertahankan martabat negeri tercinta. Sebenarnya saya ingin menjumpai Ayah sebelum berangkat. Tapi sudah lah, nanti kita akan berjumpa lagi dalam keadaan sehat sejahtera.”

Surat itu diberitakan radio Baghdad tanggal 17 Januairi 1991, bersamaan dengan tercurahnya hujan bom yang dimuntahkan angkatan udara dari tentara agresor yang disebut pasukan multinasional.

Sejarah telah membuktikan bahwa kedua ayah dan anak itu memang akhirnya bisa saling bertemu lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: