Golput, Semoga Bukan Golongan Semaput

Satu putih dan satu hitam. Tapi tak ada hubungannya dengan golput kok.

Satu putih dan satu hitam. Tapi tak ada hubungannya dengan golput kok.

Ada yang bilang golput adalah anak haram demokrasi. Mungkin karena demokrasi berselingkuh dengan demon-(hantu)-krasi. Tentu anak yang aneh karena dari perkawinan dengan hantu itu malah menghasilkan anak yang ‘putih’.

Tapi yang lain mengatakan pula bahwa golput justru anak sah demokrasi, yang kelahirannya tidak pernah diharapkan karena bisa mempermalukan orangtuanya. Kenapa? Karena demokrasi, kata para pakar, sepanjang sejarahnya selalu melahirkan ironi. Kata mereka pula, demokrasi bukan lah jaminan untuk menghasilkan pemimpin yang baik, apalagi terbaik. Bahkan pada tahun 1999 yang lalu, Cak Nur (Nurcholis Madjid) mengatakan bahwa demokrasi bisa saja menampilkan tuyul sebagai presiden; dan rakyat tidak boleh menolak. Nah, dengan kenyataan demokrasi yang demikian, alangkah memalukan ketika ia melahirkan anak bernama golput, yang kelahirannya justru semakin mempertegas citra (buruk) demokrasi.

Karena sifatnya yang antagonis, putihnya golput bukan lambang kebersihan tapi hanya ibarat panu (yang ‘menempel’ pada wajah demokrasi yang hitam?).

Bukan sebuah sistem
Fatwa ulama yang mengharamkan orang jadi golput sama saja dengan menyatakan babi haram. Semua muslim tahu bahwa babi memang haram (dimakan), tapi babi sudah ada dan akan tetap ada.

Golput memang sebuah kenyataan.

Karena demokrasi adalah sebuah sistem, yang tidak bisa mewadahi semua aspirasi, maka tentu ada pihak yang eksis di luar sistem. Benar lah Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang mengatakan (tahun 2004) bahwa dengan bergolput berarti ia menempatkan diri di luar sistem. Sayangnya, golput itu sendiri bukan sebuah sistem, tapi hanya sebuah cara untuk memprotes sistem (demokrasi) secara pasif, bahkan mirip dengan tindakan ngambek, kata orang Jawa, atau pundung dalam bahasa Sunda. Sebuah tindakan menjauh karena merasa tidak diperhatikan.

Jadi, karena bukan sistem, bahkan hanya sebuah ‘lembaga’ protes, golput tetap menempati posisi yang lemah, karena tidak menawarkan alternatif. Bahkan seandainya ia bisa menggelinding dan membesar seperti bola salju, golput tetap hanya menawarkan sebuah persoalan, bukan jawaban. Sebagai contoh, ketika sebagian orang golput menyatakan menolak semua capres dan cawapres yang ada, seharusnya mereka mengajukan capres dan cawapres alternatif, lengkap dengan segala argumen yang membuat mereka mengajukan orang-orang yang bersangkutan. Pendeknya, jangan menolak (ikut pemilu) cuma untuk menolak.

Memberdayakan golput
Sejelek apa pun golput, menurut ‘orang sistem’, ia tidak boleh dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Bila dianalogikan sebagai anak, seorang anak yang ngambek atau pundung sedikit atau banyak pastilah merugikan dan menyedihkan orangtuanya. Satu segi, bisa saja si anak berbuat demikian karena ia memang cenderung mengada-ada atau ingin tampil beda. Tapi segi lain, bisa jadi si anak berbuat demikian karena orangtuanya yang tidak beres, tak becus mengurus anak, bahkan tak mampu mengelola rumahtangga. Bila ini yang terjadi, golput seharusnya menjadi pemicu kesadaran untuk mawas diri.

Sebaliknya, bagi pihak golput itu sendiri, bila ternyata si ‘orangtua’ memang tidak mau melakukan otokritik, mereka tentu harus melakukan tindak lanjut agar gerakan mereka tidak buntu pada ujung menolak untuk menolak. Bila demikian, sistem yang terus menggelinding hanya akan membuat mereka tergilas, atau setidaknya terserempet sehingga membuat mereka jatuh semaput (pingsan).

Kita tahu bahwa orang menjadi golput karena berbagai alasan; bahkan ada yang sengaja ada pula yang terpaksa. Contoh yang terpaksa adalah sebuah keluarga yang di masa orba merupakan pendukung fanatik PPP. Suatu hari, bapak dari keluarga itu bertengkar dengan ketua RW yang pendukung Golkar. Alhasil, pada masa pemilu keluarga tersebut tidak mendapat surat panggilan untuk mencoblos. Hal itu berlangsung sampai beberapa kali pemilu, sampai akhirnya keluarga tersebut menjadi tak peduli dengan urusan pemilu. Contoh yang menjadi golput secara sengaja, sebut saja kasus yang paling menyolok, Gus Dur. Ia menjadi golput dengan alasan yang begitu jelas, kecewa terhadap KPU yang menjegalnya dalam pencalonan dirinya sebagai presiden.

Kekecewaan Gus Dur terhadap KPU tidak bisa dianggap sebagai kekecewaan pribadi, karena Gus Dur adalah wakil dari sebuah komunitas. Bagusnya, Gus Dur masih berbaik hati terhadap sistem (buatan KPU) yang telah menyingkirkannya sehingga ia merasa cukup dengan menelan kekecewaannya sebagai kekecewaan pribadi. Kalau saja ia mau mau lebih ‘galak’ tentu tak ada salahnya bila ia mengajak seluruh simpatisannya untuk golput.     Bahkan mungkin akan lebih baik bila Gus Dur justru menobatkan diri atau dinobatkan sebagai ‘presiden’ para golput.

Tidak bersatu dan tidak punya figur pemimpin adalah faktor yang paling melemahkan posisi tawar golput. Sebaliknya, bila bersatu dan memiliki pemimpin juga tidak perlu ditakuti bahwa golput akan menjadi ancaman bagi penguasa. Sesuai dengan namanya, golput (golongan putih) tentu harus teguh dalam keberpihakannya terhadap kebenaran yang putih (netral). Dengan demikian, orang golput tidak mungkin melakukan tindakan anarkis, karena tindakan demikian hanya akan dilakukan oleh golongan hitam.

Golput yang terlanjur lahir tidak boleh hadir sia-sia. Apalagi, kata orang, pilihan menjadi golput dilakukan oleh mereka yang (kebanyakan) intelek. Dalam tubuh golput tentu terkumpul orang-orang yang memiliki berbagai keahlian. Bila mereka benar-benar bersatu ibarat satu tubuh, mereka bisa menjadi oposan yang mampu mengontrol dan menyorot penguasa secara tajam. Bila mereka mengritik seorang menteri yang tidak becus melaksanakan tugasnya, misalnya, mereka bisa menyebutkan orang mereka yang mumpuni.

Yang jelas, ada di luar sistem bukan sesuatu yang haram; terutama karena hak menjadi warga negara, warga bumi, adalah hak yang diberikan oleh Tuhan, bukan oleh penguasa politik suatu negara. Sebaliknya, penguasa politik suatu negara, yang menjadi penguasa dengan melakukan bujuk-rayu terhadap rakyat, pada hakikatnya harus siap mengemban amanat Tuhan untuk memberi rasa aman kepada setiap warga negara yang tidak melanggar hukum.

catatan:

Tulisan ini dibuat tanggal 6 Juli 2004. Hampir tak ada penyuntingan. Semoga masih “enak dibaca dan perlu”.

Baru saja tulisan ini di-upload, SMS KPU masuk: “Sukses Pemilu 2009 adalah sukses bangsa. Mari sukseskan pesta demokrasi 9 April 2009.”

Oke Boss!

Comments
4 Responses to “Golput, Semoga Bukan Golongan Semaput”
  1. Pedy says:

    Sungguh naif mereka haramkan golput dengan dalih agama:

    Top 10 Alasan Sesat Wajibnya Pemilu

  2. dir88gun says:

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

  3. ahmadhaes says:

    Wa ‘alaikumus-salam wr wb!
    Dengan senang hati, demi ikhwan muslim dan perjuangan Islam, silakan, silakan. Terimakasih juga atas kunjungan Anda.

  4. Maria Jensen says:

    Great post and straight to the point. I don’t know if this is truly the best place to ask but do you guys have any ideea where to employ some professional writers? Thanks 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: