Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (6)

Hubungan Istimewa Saddam dan Bakr

saddam21Tanggal 23 Juli 1979, sebelum pengadilan istimewa itu dibentuk, Saddam berpidato di Universitas Al-Mustansiriyah.

“Kawan-kawan! Jangan merasa kalah. Kita menjalankan suatu Revolusi untuk menghancurkan basis-basis imperialisme, untuk menyinari seluruh dunia Arab dan mengubah kehidupannya secara radikal, untuk membuatnya menjadi maju, untuk menyapu bersih kemunduran, keterbelakangan, dan korupsi. Seluruh rakyat bersama Anda sekarang, dan organisasi Anda sudah beranggota satu juta orang.”

Pidato-pidato Saddam membangun simpati rakyat terhadapnya. Satu pertanyaan timbul pada saat itu. Mengapa Saddam Hussein dengan kualitas negarawan yang demikian tinggi tidak mengambil kekuasaan sejak lebih awal?

Untuk menjawab pertanyaan itu, harus diingat bahwa setelah Revolusi 17 Juli 1968, memilih lebih baik tetap dalam Partai, tanpa memegang posisi apa pun dalam pemerintahan. Ia yakin bahwa Pemerintah akan mampu mengatasi segala persoalan jika ditegakkan atas dasar persekutuan politik yang kuat. Tapi, Presiden Bakr menolak hal itu, sehingga Saddam harus menempati posisi dalam pemerintahan sebagai Wakil Presiden.

Pemindahan kekuasaan dari Bakr kepada wakilnya, Saddam Hussein, membuktikan bahwa hubungan mereka istimewa. Sebagai wakil, Saddam tak pernah membuat perbedaan pandangan menjadi pertentangan. Kenyataannya, persekutuan mereka menjadi padu karena kesamaan tekad. Keduanya pun sadar sepenuhnya bahwa usaha-usaha untuk mendobrak sistem ‘kepemimpinan ganda’ mereka memang selalu ada. Ini merupakan kenyataan yang unik di dunia Arab. Biasanya, orang pertama dan kedua selalu dalam ketakutan terjebak dalam perangkap masing-masing, sehingga akhirnya hanya satu orang yang berkuasa penuh. Hal itu tidak terjadi di antara Bakr dan Saddam.

Saddam selalu menghormati Bakr. “Karena saya tak pernah menganggap penghormatan kepada orang lain sebagai ciri kelemahan,” katanya. “Hal itu bahkan cenderung membuktikan kepribadian yang kuat. Jika seseorang bersikap setia, itu bukan tanda bahwa ia orang lemah. Presiden Bakr adalah Sekretaris Komando Regional. Dalam Partai kami, kami selalu menghormati orang-orang yang lebih tua. Di samping itu, hubungan berlangsung satu arah. Seorang Baath boleh menjadi pemikir cemerlang; tapi ia tetap manusia biasa yang hidup sebagaimana rakyat umumnya.”

Saddam kemudian menyebut hubungan Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Khatthab dalam sejarah kepemimpinan umat Islam awal.

“Siapa yang lebih kuat antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Umar dan Ali? Ketika Umar meminta nasihat Ali, apakah itu menandakaan bahwa Umar lebih lemah dari Ali? Saya kira bukan.”

Ketika akhirnya Saddam Hussein tampil sebagai Presiden Republik Irak sekaligus pemimpin Partai, tanggall 17juli 1979, rakyat Irak tidak tampak terkejut. Mereka mengenalnya sebagai pemimpin selama bertahun-tahun. Negara-negara Arab selain Irak dan negara-negara asing, yang bersahabat maupun yang bermusuhan dengan Irak, juga hanya berkata bahwa ‘orang kuat’ Irak itu akhirnya jadi Presiden.

Tentu saja mereka juga ingin tahu apa yang akan dilakukan Saddam setelah ia menjadi Presiden. Sudah pasti ia tidak akan meneruskan begitu saja haluan politik Bakr, karena persoalan-persoalan pun segera muncul, meminta penyelesaian cara baru. Salah satu persoalan itu adalah timbulnya konflik dengan Iran.

Setia Kawan

Di tengah berkecamuknya perang, melalui tayangan CNN kita menyaksikan gambar Saddam melakukan shalat dan berdoa. Di awal masa pemerintahannya ia sering mengungkapkan kesadaran beragamanya dengan cara melakukan kunjungan-kunjungan kepada rakyatnya. Dengan cara ini ia merasa dapat menyaksikan secara langsung situasi tidak adil yang merajalela di mana-mana.

Hanya beberapa hari sebelum ia resmi menjadi kepala negara dan pemimpin Partai, Dewan Komando Revolusi memaklumkan Peraturan Kesejahteraan Sosial, untuk menjamin keamanan sosial bagi mereka yang berusia lanjut. Peraturan itu meliputi rumah-rumah negara, untuk anak-anak, pemuda dan para yatim piatu. Saddam juga sering mengadakan pertemuan dengan orang-orang Baath dari segala lapisan dan membicarakan banyak topik dengan mereka.

Ia mengunjungi anggota anggota-anggota partai yang berjuang sejak revolusi 1968. Kawan-kawan di masa sulit itu sering dikejutkan kedatangannya yang tiba-tiba ke rumah mereka. Ia bertanya tentang banyak hal dan membantu memecahkan masalah-masalah mereka, Saddam bertindak sebagai pendengar, lalu mengemukakan pandangan-pandangannya yang didukung dengan contoh-contoh dan analisis.

Ia memang menaruh hormat terhadap orang-orang yang lebih tua dalam Partai. Saadoun Shaker menuturkan sebuah kisah yang terjadi di penjara. Ia dan teman-temannya memotong terali besi, menggunakan gergaji besi yang dibawa istri Saddam dalam suatu kunjungannya. Mereka membiarkan besi-besi yang telah putus itu berdiri di tempatnya agar tidak diketahui para sipir. Lebih sebulan kemudian, Saddam mengatakan kepada teman-temannya bahwa Partai melarang mereka lari dari penjara. Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan penguasa mengharuskan orang-orang Baath dipindahkan ke sel lain. Sel bekas mereka kemudian ditempati orang-orang Komunis. Lalu, suatu hari, terali besi yang telah dipotong itu tersenggol dan jatuh bergelimpangan. Para sipir menganggap orang-orang Komunis itu lah yang melakukan pemotongan. Akibatnya, mereka mendapat upah siksaan.

Saddam tak sampai hati membiarkan mereka jadi korban. Ia lalu minta izin untuk bertemu pemimpin penjara, mengatakan bahwa pemotongan terali itu dilakukannya sendiri karena ia punya rencana untuk lari, tapi rencana itu ditunda atas permintaan Partai. Saddam kemudian dikembalikan kepada kawan-kawannya tanpa mendapat siksaan, karena ia dan kawan-kawannya sudah divonis mati. Saadoun juga mengisahkan bahwa Saddam selalu berusaha membangkitkan semangat kawan-kawannya di penjara, sehingga mereka tidak menyerah kepada tekanan para petugas dan tetap bersikap sebagai tawanan politik yang mempunyai ideologi dan perjuangan.

Dalam pemeriksaan ketika ditanya tentang pekerjaannya, ia menjawab, “Saya pejuang revolusi dalam Partai Baath Sosialis!”

Jawaban ini membuat sang penanya tidak berkutik, dan sejak saat itu kawan-kawannya pun memberikan jawaban begitu bila mendapat pertanyaan yang sama.

Hingga menjadi Presiden, Saddam selalu makan belakangan, baik dalam perjamuan-perjamuan maupun acara-acara makan di istana.

“Kebiasaan ini sudah saya saksikan sejak kami dipenjara,” tutur Saadoun. “Saddam tak mau makan sebelum melihat kawan-kawannya makan!”

Saadoun juga menuturkan bahwa sebelum mereka masuk tahanan, Saddam mengajari mereka cara-cara menghadapi interogasi. Tapi selain pandai membuat petugas interogasi mati kutu, Saddam juga pandai menjalin hubungan baik dengan para petugas penjara. Itu membuat mereka bersikap baik padanya, siap melayaninya, menghormatinya, bahkan banyak yang siap membantunya lari.

Pada akhirnya pelarian dari penjara itu, seperti telah dituturkan, memang dilakukan. Saddam kemudian tinggal di sebuah kamar kecil yang lantainya berlapis matras dan tikar bambu. Tiap hari Saddam duduk dan menulis di atas tikar itu, karena memang tak ada meja tulis. Tulisan-tulisannya kemudian disebarkan kepada para anggota partai. Hubungannya dengan Saadoun Shaker mulai akrab sejak saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: