Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (5)

saddam-husein

Presiden Bakr Yang Malang

Ada beberapa bangunan disediakan bagi para pejabat pemerintah dan untuk kantor berbagai departemen di sekitar Istana Presiden. Presiden Ahmad Bakr tinggal di salah satu gedung di situ. Bakar adalah satu di antara orang-orang pertama dalam gerakan Revolusi Partai, dan ia pun terlibat dalam peristiwa mahapenting Partai Baath Sosialis Arab di Irak pada tanggal 17 Juli 1979.

Orang militer ini menghabiskan waktu luangnya untuk melakukan hal-hal yang tidak berkaitan dengan urusan negara. Ia bangun tidur ketika hari masih gelap, lalu berangkat ke kebunnya untuk menyiram dan memangkas tanaman yang tumbuh tak teratur. Ketika ia merasa letih, ia pun beristirahat sejenak, ditemani cucu-cucunya. Hidupnya penuh dengan kenangan, yang kebanyakan tragis. Putranya wafat dalam usia 23 tahun karena kecelakaan mobil, di saat Bakr belum bangkit dari kesedihannya karena ditinggal mati istrinya. Kemudian, suami putrinya juga meninggal; membuat Bakr terbebani tanggung-jawab untuk mengurus putri dan cucu-cucunya.

Bakr juga mempunyai pengalaman sedih yang tak berhubungan dengan keluarga. Ia turut hanyut dalam tragedi-tragedi Partai Baath sejak masa-masa sulitnya hingga partai itu meraih kekuasaan. Selain itu, Bakr lama menderita diabetes, sehingga mengharuskannya dirawat di Prancis. Karena sakitnya itu, Bakr tak dapat melakukan perjalanan ke luar negeri untuk membalas kunjungan-kunjungan resmi para kepala negara lain. Kunjungan-kunjungan di wilayah Irak pun hanya bisa dilakukan sesedikit mungkin, dan hanya pada kesempatan-kesempatan yang sangat penting.

Bakr adalah orang malang yang selalu dirundung kesedihan. Bila urusan-urusan Partai tidak ikut ‘malang’, hal itu terjadi karena kehadiran Saddam Hussein di sisinya. Tapi hal itu pun agaknya malah menambah beban kesedihannya. Waktu lima jam yang diisinya dengan kegiatan kantor kepresidenan dirasanya tidak cukup. Ia merasa telah membebani Saddam Hussein, sang kawan dan wakilnya. Bakr menyaksikan sendiri betapa Saddam datang ke kantor seiring fajar menyingsing, dan baru pulang setelah tengah malam. Kendati hal itu menerbitkan rasa senang dan bangga, ia juga merasakan sesuatu yang teramat menekan dada, karena ia adalah orang militer. Orang militer sejati tidak akan pernah suka membiarkan tugas pribadinya diselesaikan orang lain.

Sebenarnya sakit Bakr tidak begitu parah. Tapi ia tak sanggup mendengar pertanyaan-pertanyaan rakyat Irak tentang kesehatannya. Agaknya mereka mengira ia memaksakan diri untuk bekerja, sehingga mereka menganjurkannya untuk mengundurkan diri, supaya bisa beristirahat. Bakr sering berpikir apakah ia akan menjadi seperti Jenderal Franco, yang mengangkat pengganti tapi tetap memegang tampuk kekuasaan hingga ajalnya datang? Atau hendak seperti Breznev, yang terus memegang kekuasaannya sementara sakitnya kian memburuk? Ada dua adegan di televisi yang terus hidup dalam ingatan Bakr. Yang pertama menggambarkan Breznev dalam Pertemuan Puncak Soviet-Amerika. Breznev mendengar dengan susah-payah, berdiri dengan susah-payah, bahkan menuruni tetangga dengan lebih susah-payah lagi. Upacara-upacara resmi pun jadi harus dipersingkat agar tidak memperparah penyakitnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah adegan Breznev menandatangani perjanjian SALT bersama Presiden Jimmy Carter. Betapa repotnya Breznev menerakan tandatangan!

Adegan lain yang mengganggu pikiran Bakr adalah pingsannya Menteri Luar Negeri Soviet, Andrei Gromyko di Amerika. Mereka tahu bahwa diri mereka tidak sanggup lagi bertugas, tapi mereka tidak mau menyingkir untuk memberi kesempatan kepada orang lain! Gambaran-gamaran seperti itu membuat Bakr merasa malu, dan akhirnya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.

Jadi, Bakr mengundurkan diri bukan karena struktur pemerintahan membatasi geraknya, atau kerena kekuasaan politik dalam Partai memojokkannya. Tidak. Bakr adalah orang kuat dalam posisi yang kuat, karena peran bersejarah yang telah dimainkannya. Ia ikut membawa Partai Baath ke puncak kekuasaan. Keputusan untuk mundur diambilnya, selain karena alasan-alasan pribadi di atas, mungkin karena ia merasa bahwa persoalan dalam negeri Irak, juga bangsa Arab dan dunia internasional membutuhkan seorang pemimpin muda yang dinamis, yang mampu dan cakap memimpin, bukan hanya memerintah. Bakr melihat pemimpin yang dimaksudnya itu ada di sisinya, yaitu Saddam Hussein.

Ternyata keputusan Presiden Bakr itu menjadi salah satu tonggak sejarah penting bagi Partai Baath di Irak. Selanjutnya, cara pemindahan kekuasaan yang berlangsung saat itu, juga menjadi sesuatu yang unik. Beberapa orang anggota Partai memang telah diberi tahu lebih dulu tentang keputusan itu. Tapi, tak seorang pun di luar Dewan tahu bahwa pengumuman penting itu akan dilakukan pada tanggal 16 Juli 1979, sehari sebelum ulang tahun Revolusi Partai Baath. Ketika rakyat Irak duduk di depan pesawat televisi untuk mendengarkan pidato Presiden Bakr, mereka mengira bahwa yang akan disiarkan adalah pidato peringatan Revolusi. Tapi, ketika Bakr mulai berbicara, beberapa saat setelah kata pembukaan, “Saya selalu siap selama hidup saya untuk melaksanakan tanggung-jawab yang dipikulkan kepada saya oleh Partai dan Dewan, selama saya mampu. Tapi, saya …”, mulailah rakyat Irak mengerti bahwa pengumuman penting akan disampaikan. Bakr melanjutkan kata-katanya, “… seperti telah saya katakan kepada kawan-kawan, terutama kepada kawan saya yang tercinta Saddam Hussein, bahwa kesehatan saya tidak lagi mengizinkan saya untuk menjalankan tugas yang dianugerahkan Dewan kepada saya. Maka, saya telah meminta kepada mereka untuk membebaskan saya dari tugas itu. Kemurahan hati Saddam Hussein dan kawan-kawan dalam kepemimpinan Negara, telah mendorong mereka untuk membicarakan hal ini, dan mereka siap mengurangi beban yang ada di pundak saya. Tapi, saya tekankan, sebaiknya saya dibebaskan dari tanggung-jawab dalam Partai dan Negara. Saya merasa lega sekarang, karena mereka telah mengabulkan permintaan saya.” “Bersamaan dengan itu,” sambung Bakr, “saya ucapkan selamat kepada saudara dan sahabat Saddam Hussein yang segera akan menempati posisi yang saya tinggalkan. Saya sangat yakin bahwa Dewan telah memilih orang yang tepat; karena dari segi pendirian, pengabdian kepada Partai, keberanian, dan kemampuannya, ia memang pantas menjadi pemimpin.”

Eksekusi Gaya Arab

Pidato Ahmad Hassan Bakr mengesankan seolah-olah pengangkatan Saddam Hussein sebagai presiden berjalan lancar dan mulus. Sebenarnya tidak demikian. Tanggal 10 Juli naskah pidato sudah disiapkan. Esoknya diadakan rapat Dewan Komando Revolusi. Pada saat itulah, secara mendadak Muhie Abdul-Hussein Musyhadi, Sekretaris Dewan Komando Revolusi, berdiri untuk meminta Dewan memveto pernyataan Presiden Bakr. “Apa yang Anda kehendaki?” tanya Presiden Bakr. “Saya telah menjelaskan alasan-alasan saya untuk mengundurkan diri.”

“Sulit dipahami mengapa Anda harus mengundurkan diri. Jika Anda memang sakit, kenapa tidak ambil cuti saja?” sahut Muhie.

Perkataan itu menyinggung perasaan Bakr dan beberapa orang yang hadir. Muhie Abdul-Hussein bukan orang yang layak berkata demikian kepada Presiden Bakr. Kendati ia Sekretaris Dewan (yang diketuai Bakr sendiri) dan karena itu ia merupakan orang dalam Istana, ia adalah orang yang relatif baru dalam Partai Baath, dan belum lama menempati jabatannya sebagai Sekretaris Dewan. Tugasnya hanya lah membuat catatan hasil rapat; suatu posisi yang tidak memberinya hak untuk berbicara seperti itu kepada Presiden. Pendek kata, sikap sang Sekretaris itu mencurigakan orang-orang lama Partai.

Sebelumnya, beberapa pimpinan Partai yang dekat dengan Bakr memang telah lama menyatakan keraguan mereka tentang tabiat dan kepribadian sang Sekretaris. Konon pula, ia memeperoleh kedudukannya secara tidak wajar, dan ada desas-desus yang mengatakan bahwa ia orang Persia (Iran). Karena tindakannya itu dianggap akan mengganggu kemulusan pemindahan kekuasaan, maka Saddam mengusulkan untuk mempercepat prosesnya. Dewan segera mengumumkan penggantian sejumlah menteri; juga memaklumkan pengadaan pos bagi Wakil Utama Perdana Menteri dan lima pos untuk Wakil Perdama Menteri. Keputusan ini diumumkan tanggal 16 Juli, setelah Hassan Bakr mengundurkan diri dan Saddam Hussein menjadi Presiden.

Selain Muhie Abdul-Hussein, ada beberapa orang lagi yang dicurigai. Muhie sendiri segera diganti oleh Brigadir Jenderal Tariq Hamad Al-Abdallah. Yang lainnya adalah Muhammad Ayish, yang disingkirkan dari jabatan Menteri Perindustrian dalam pemerintahan yang dibentuk Saddam Hussein. Sedangkan Adnan Hussein, yang juga dicurigai, dibiarkan menempati posisi Wakil Keempat Perdana Menteri dan Kepala Kantor Kepresidenan.

Hari berikutnya, tanggal 17 Juli 1979, Saddam Hussein untuk pertama kalinya berpidato sebagai Ketua Dewan Revolusi dan sebagai Presiden Republik Irak. Ia menyebut mantan Presiden, Hassan Bakr, sebagai bapak dan kawan yang agung. “Kemarin Anda sekalian telah mendengar pidato Bapak dan kawan yang agung, Abu Haitham. Rujukan pidatonya sungguh unik. Pengalihan kekuasaan berjalan lancar, sopan, dan konstitusional, serta sesuai dengan tradisi. Unik, tapi tidak ganjil, karena itu berasal dari peradaban kita, bangsa Arab,” kata Saddam. Rupanya ia mencoba mengingatkan pendengarnya tentang sejarah pengalihan kekuasaan Khalifah Abu Bakar kepada Umar bin Khatthab. Lebih lanjut, Saddam menguraikan sistem pemerintaannya, “Saya tidak akan menyuruh kawan-kawan di Dewan dan di Partai, atau saudara-saudaraku rakyat sekalian, untuk melakukan sesuatu yang saya sendiri tidak akan melakukannya. Saya juga tidak akan melarang Anda sekalian tentang sesuatu yang bagi saya sendiri larangan itu tidak berlaku. Tugas kita adalah berjuang untuk keadilan dan menentang penindasan.”

Langkah selanjutnya, Saddam memerintahkan pemeriksaan atas komplotan tersebut di atas. Sebuah pengadilan segera dibentuk, dengan Naim Haddad sebagai kepalanya. Haddad adalah anggota Dewan Komando Revolusi, Komando Regional dan Komando Nasional. Hasil kerja pengadilan ini adalah terjaringnya 22 orang yang dituduh melakukan pengkhianatan berat dan kemudian dijatuhi hukuman mati; 33 orang tertuduh lain yang divonis hukuman penjara setahun hingga 15 tahun, dan 13 orang yang dibebaskan dari segala tuduhan. Tanggal 8 Agustus, 21 orang menjalani eksekusi mati. Seorang lainnya, Ahmad Karim, divonis in absentia. Kawan-kawan dari pihak militer bersama para anggota sipil Partai dari seluruh negeri melaksanakan eksekusi itu. Demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan setelah eksekusi dijalankan. Jelasnya, setelah Pengadilan menjatuhkan vonis terakhir, diputuskan agar para anggota Partai melaksanakan eksekusi, karena para pengkhianat itu semua adalah anggota Partai juga. Hal itu diharapkan akan membantu membangkitkan moral para anggota Partai yang setia, setelah beberapa waktu belakangan mereka digoyahkan sedemikian rupa.

Eksekusi dilakukan dengan cara meminta setiap Cabang mengirimkan delegasi yang dipersenjatai pistol. Setelah ratusan delegasi berkumpul, mereka melaksanakan eksekusi terhadap para pengkhianat itu secara bersama-sama. Itu merupakan sesuatu yang baru dalam sejarah Partai Baath.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: