Keringat Ponari

ponari-sweat

“Keringat Ponari” adalah terjemahan saya untuk “Ponari Sweat”, nama minuman fiktif dari seorang humoris jenius yang tidak saya kenal. Sang humoris jenius ini, tentu saja, diilhami oleh kasus Ponari, seorang bocah ingusan yang namanya tiba-tiba booming alias ‘meledak’, karena dipercaya mempunyai kemampuan supranatural (kesaktian) untuk menyembuhkan segala penyakit.

Ternyata, sang humoris itu juga telah mengilhami saya untuk membuat tulisan ini.

Syahdan, begitulah agaknya manusia. Memikirkan dan kemudian melakukan sesuatu seringkali hanya karena reflek (reflect) atau refleksi (reflection). Pantulan atau percikan.

Ini tak ada hubungan dengan gerak atau tindakan refleks (reflex) semisal bersin, batuk, dan sebagainya. Saya sedang bicara tentang cara manusia berpikir dan berkreasi, yang pada dasarnya merupakan kecakapan (kadang juga bisa jatuh jadi kebodohan) dalam menangkap pantulan atau percikan ide(-ide) dari ide(-ide) yang lain. Itulah manusia. Makhluk penangkap pantulan. Bahasa ‘filosofis’ dari peniru alis tukang contek.

Tak ada manusia yang merupakan kreator murni! Dan kalau seandainya ada, dia akan jadi Tuhan kedua! Dengan begitu, dia tak perlu tinggal di bumi Allah, karena dia akan menciptakan alamnya sendiri, makhluknya sendiri. (Ayo siapa yang mau coba-coba?).

Kembali ke soal keringat Ponari.

Pertama, saya membayangkan Ponari yang kegerahan karena dikerumuni ratusan (atau ribuan?) orang. Ketika itulah keringat bocah kecil itu bercucuran dan memercik. Orang-orang lalu berebut, berdesakan, berhimpitan, saling sikut, saling tabrak, saling injak, saling tendang. Hanya karena ingin mendapatkan keringat Ponari! Silakan bayangkan bagaimana cara mereka. Tapi saya membayangkan Ponari kemudian terkapar. Sesak napas dan kekurangan cairan.

Orangtuanya melarikannya ke puskesmas!

Lho, dukun sakti kok dibawa ke dokter?

Ya, maklumlah. Kan dukun juga manusia!

Kedua, saya membayangkan ‘keringat’ Ponari yang lain, yang berupa duit recehan, yang percikannya ternyata begitu banyak dan berjangkauan jauh; sampai-sampai para juru warta (wartawan, pers) pun kebagian. Berita tentang Ponari dibikin head line (berita utama), menjadi bumbu yang melariskan media cetak mereka.

Mereka yang berebut ‘keringat recehan’ itu bukan orang-orang yang sakit badan; dan pasti bakal marah bila dikatakan sakit jiwa. Yang pasti, mereka adalah para penderita kehausan dan kelaparan, atau para pemburu yang tak kenal puas dan kenyang. Maklum, mereka tak tahu untuk apa berburu dan harus memburu apa. Mereka hanya merasakan sebuah desakan kebutuhan (fisik dan mental) yang seolah tidak memberi kesempatan bertanya apalagi melakukan refleksi (perenungan). Kebutuhan itu seperti menyeruak dari alam bawah sadar (alam lupa dan kelalaian!) yang mendorong mereka melakukan gerak-gerak tak tersadari (refleks). Lucunya, mereka mengaitkan hal itu dengan teori anatomi tubuh, khususnya tentang sifat kelenjar epinefrin (epinephrine) alias adrenalin!

Mengapa lucu? Sebab, hal itu adalah pengakuan tak tersadari bahwa mereka telah diperbudak oleh diri (cairan badan) sendiri! Kelenjar adrenal (adrenal glands) adalah dua kelenjar yang merupakan ‘topi’ kedua ginjal. Konon kerja kelenjar ini mempengaruhi semua aktifitas kita. Bahkan ketangguhan fisik dan mental kita, juga keberanian dan kobaran semangat kita, adalah akibat dari kerja kelenjar ini. “They promote the inner drive to action, keeness of perception, untiring activity,” tulis Mildred Carter dalam buku Helping Yourself with Foot Reflexology.

Kelenjar adrenal membangkitkan ‘tenaga dalam’ yang membuat kita bertindak, menaruh minat pada sesuatu, sehingga kita melakukan kegiatan tanpa kenal lelah. Biasanya, di zaman sekarang, yang paling menarik minat kita adalah uang. Bahkan, uang mungkin sudah jadi ‘kelejar adrenal’ yang lain, yang membangkitkan gairah dan semangat dari luar. Berkat kelenjar adrenal dan uang, kita mendapat pasokan kekuatan (enerji) dari dalam dan dari luar, sehingga kita menjadi makhluk yang (seolah) tak kenal lelah.

Kita seperti didorong dari satu sisi (dalam) dan ditarik dari sisi yang lain (luar).

Melejitlah kita seperti roket meninggalkan daratan.

Maka, jadilah kita makhluk yang lupa daratan!

Bahkan lupa diri.

Dan, tentu saja, jadi tak kenal Tuhan. ▲

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: