Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (4)

Mempersenjatai Partai
untitledAbdul-Karim Qassim baru bisa dikudeta dan ditembak mati pada bulan Februari 1963. Pemimpin kudeta, Abdus-Salam Arif, mengambil alih jabatan presiden. Usaha kudetanya berhasil antara lain karena dukungan Partai Baath. Tapi selanjutnya ia berbalik memburu para anggota Partai, terutama Saddam Hussein. Namun Saddam yang sempat lari ke Suriah untuk kedua kalinya (karena di Suriah pun ada Partai Baath), akhirnya kembali ke Baghdad dengan tekad membentuk Partai Baath yang kuat di Irak.
Untuk itu, ia harus menguasai Partai. Itulah tekadnya. Maka ia pun memutuskan untuk mempersenjati orang-orangnya, walau cuma dengan senapan berburu! Selanjutnya, tentu saja keuangan Partai pun harus diperbaiki; dan setelah uang terkumpul cukup banyak, beberapa buah mobil dibeli, beberapa rumah disewa untuk dijadikan markas-markas Partai. Lebih lanjut lagi, Saddam pun menuntut Komando Nasional Partai untuk menambah persenjataan. Maka, mulailah orang-orang Partai sibuk membuat bom dengan dinamit yang biasa digunakan para nelayan mencari ikan. Itu semua dilakukan untuk persiapan melakukan serangan ke Istana Presiden Abdus-Salam Arif. Saddam bersiap-siap melakukan kudeta!
Demi mematangkan rencananya, Saddam menghubungi salah   seorang pejabat Istana. Tapi, usaha ini gagal, karena pejabat tersebut diganti secara mendadak. Karena itulah, suatu hari Saddam nekad memasuki ruang konferensi Istana, tempat para pemimpin sipil dan militer melakukan pertemuan. Saddam memberondong mereka dengan senapan mesin! Kemudian lari, lolos dari kejaran para pengawal, lalu bergabung lagi dengan kawan-kawannya.
Revolusi umum direncanakan bulan September 1964. Sayang, para pendukung presiden mengetahui rencana ini. Gelombang penangkapan melanda. Setiap orang Baath ditangkap dan mendapat siksaan hebat. Saddam dalam keadaan gawat. Tapi saat itulah untuk pertama kalinya ia membangkang Komando Partai untuk (lagi-lagi) lari ke Damaskus. Akibatnya, ia ditangkap dan dilemparkan ke penjara.
Namun, entah karena cerdik atau mujur, meski dalam penjara ia masih dapat berhubungan dengan orang-orang Partai di luar. Pesan-pesan berlalu-lalang, disampaikan oleh para sipir yang bersimpati padanya dan pada perjuangannya. Teman-temannya separtai di luar penjara berusaha mengeluarkan Saddam dan kawan-kawan dari penjara. Uang dikumpulkan untuk membayar pengacara yang akan membela mereka.
Saddam sendiri berusaha membangkitkan moral kawan-kawannya yang sudah ambruk karena siksaan. Ia banyak membaca buku dan mendorong kawan-kawannya untuk melakukan hal serupa. Ia juga menggelar gagasan mendiskusikan Partai dan masa depannya. Usahanya ini cukup berhasil. Bahkan ia juga berhasil mengajak kawan-kawannya untuk melakukan mogok makan sebagai protes atas kondisi penjara yang buruk. Hal itu menimbulkan tekanan terhadap rezim yang berkuasa. Saddam malah berhasil pula menimbulkan perselisihan atara penguasa penjara dan para pengawal.
Selanjutnya, Saddam mengatur penyelundupan gergaji besi ke dalam penjara. Ia dan kawan-kawannya memotong jeruji-jeruji sel tanpa melepaskannya dari posisinya, supaya tidak menarik perhatian para sipir. Rencana pelarian kemudian dilaksanakan. Saddam dan kawan-kawan menekuk jeruji-jeruji di sel masing-masing yang telah dipotong sebagian. Bersamaan mereka lari. Di sebuah lorong mereka melumpuhkan seorang pengawal lalu merampas senapannya.
Saddam yang memegang senapan sengaja berjalan di belakang, untuk menjamin kawan-kawannya lolos dengan selamat. Ia dengan tujuh orang kawan-kawannya yang lain, tetap dalam penjara, yang lalu dipindahkan ke penjara lain untuk menjalani acara ‘cuci otak’. Ketegangan mereda.
Selama dalam penjara Saddam sempat berjumpa dengan putra sulungnya, Uday, yang telah berusia enam bulan. Tentu saja ini dimanfaatkan Saddam sebaik-baiknya. Tukar-menukar pesan dengan pemimpin Partai Ahmad Hasan Bakr, dilakukan dengan cara menyelipkan pesan-pesan ke jubah anaknya ketika ia memeluknya. Kunjungan istri dan anaknya sekali seminggu membuatnya dapat mengikuti perkembangan di luar penjara.
Rencana pelarian berikutnya segera ia susun. Kali ini merundingkannya dengan Saadoun Shaker, tentang siasatnya untuk memperdaya para sipir penjara. “Yakinkan bahwa meereka, seperti halnya kita, adalah korban pemerintah yang zhalim, “katanya.
Jalan keluar ditemukannya setelah ia menerima pesan dari Ahmad Hasan Bakr yang mengatakan bahwa rencana untuk mendepak rezim berkuasa sudah di susun. Saddam mengorganisasi pelarian dari penjara. Dalam perjalanan pulang dari Pengadilan Tinggi Keamanan, tempat ia dengan ketujuh kawannya disidang dengan tuduhan berusaha melakukan pemberontakan, ia mengajak para pengawal untuk mampir di sebuah restoran di Abu Nuwas Street. “Anda semua boleh ikut makan bersama kami, supaya Anda semua yakin bahwa kami tak akan lari, “katanya.
Para pengawal setuju. Kemudian Saddam dan kawan-kawan satu per satu berjalan ke belakang, untuk buang air kecil dan sebagainya. Setelah itu mereka menyelusup lewat pintu belakang restoran, disambut sebuah mobil yang telah disiapkan Saadoun Shaker. Para pengawal dari penjara yang menunggu di gerbang restoran, terpaksa harus gigit jari menanti mereka yang tak kunjung muncul.
Lari dari penjara adalah keputusan penting saat itu, karena Partai hendak mencegah kudeta militer, Lagi pula, sebuah kudeta telah terjadi di Suriah pada tanggal 23 Februari, menampilkan Salah Jedid sebagai penguasa baru. Di luar penjara Saddam Husein menyusun pengurus-pengurus Partai, Berusaha mencegah pihak militer mengambil alih kekuasaan sendirian.
Pukul tiga dinihari tanggal 17 Juli 1968, Saddam Husein dengan mengenakan seragam militer, bersama kawan-kawannya memimpin serbuan tank ke Istana presiden , untuk menakhiri rejim Abdus-Salam Arif. Sipil dan militer bergabung untuk melimpahkan kekuasaan kepada Partai Baath. Kelemahan Partai yang telah berlangsung lama kini berakhir. Tahap kedua pun dimulai.

Lebih Tangguh Dari Presiden

Saddam Husein. Lebih tangguh dari Presiden.

Saddam Husein. Lebih tangguh dari Presiden.

Yang dimaksud tahap kedua adalah tahap berkuasanya Partai Baath di Irak. Saddam membawakan peran penting untuk mempersiapkan hal itu. Di samping Saddam, dapat disebutkan pula Abdur-Razzaq Nayif. Namun bagi Saddam kehadiran tokoh satu ini adalah rintangan bagi lajunya Partai. Ia harus disingkirkan; dan Saddam siap bertindak sendiri untuk melakukan itu. Sebelumnya, setiap pengawal Nayif lebih dulu disingkirkan. Kemudian, suatu hari, di ruang Presiden baru Ahmad Hasan Bakr di Istana, Saddam bertemu dengan Nayif. Ia langsung mengeluarkan pistol dan menyuruh Nayif angkat tangan.
“Jangan bunuh saya! Demi empat anak saya, jangan bunuh saya!” Kata Nayif mengiba.
“Kau dan anak-anakmu akan selamat, jika kalian pergi dari Irak, “kata Saddam.
“Baik. Tapi kemana kami harus pergi?”
“Kau akan diangkat sebagai dutabesar. Negara mana yang kau pilih?” Kata Saddam pula.
“Kirim saya ke Beirut,” Kata Nayif.
“Tidak! sebutkan piliha lain, “Kata Saddam.
“Aljazair!” Kata Nayif.
“Tidak! Lebi baik kau pergi ke Rabat! (ibukota Maroko)” Kata Saddam.
Masalahnya tidak berakhir di situ. Setelah Nayif menerima, Saddam Husein memerintahkan penyiapan sebuah pesawat untuk membawa Nayif dari Kamp Militer Rasyid ke Maroko. Saddam menyuruh Nayif bersikap wajar, menyambut penghormatan para pengawal seperti biasa dan berjalan ke mobil resmi yang menunggunya, juga dengan sikap sewajar mungkin. “Saya menyimpan pistol di balik jaket,” Kata Saddam “Sedikit saja kau mengisyaratkan pembangkangan, hidupmu akan berakhir.”
Beberapa orang kawannya ia suruh menjaga Presiden Ahmad Hasan Bakr. Sepanjang perjalanan menuju Kamp Militer tersebut, Saddam duduk di sisi Nayif. Sebuah pesawat terbang sudah menunggu. Ketika pesawat  itu terbang membawa Nayif, Saddam merasakan tetes-tetes air mata mengalir dari matanya. Satu kali tembakan sudah cukup untuk melenyapkan Nayif. Tapi Saddam tak melakukannya. Usaha untuk menyingkirkannya dari awal sampai akhir tidak memerlukan letusan mesiu.
Sebenarnya Saddam sudah berniat untuk menyingkirkan Nayif sejak hari awal Revolusi, karena menganggapnya berbahaya bagi revolusi itu sendiri. Saddam telah memerintahkan pengumpulan sepuluh anggota partai kepada salah seorang  kepercayaannya, Saadoun Shaker, supaya mereka siap melakukan operasi penyingkiran Nayif. Saadoun melakukan sesuai perintah. “Jelas bahwa Nayif menjalin hubungan dengan pasukan asing. Ia akan menyabot revolusi,” kata Saadoun Shaker yang kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri.
Saddam bertindak lebih jauh. Pejabat-pejabat Partai ditempatkannya pada posisi-posisi penting dalam Dewan Komando Revolusi, dengan memanfaatkan keterlibatan mereka dalam usaha penyingkiran Nayif. Ahmad Hasan Bakr, Sekertaris Komando Regional, ditetapkan menjadi Presiden sekaligus Perdana Menteri. Selain itu, ia juga menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Saddam sendiri memilih jabatan Wakil Presiden dalam Dewan Komando Revolusi, tanpa diumumkan secara resmi. Sebagai orang kedua dalam Dewan dan Partai, ia memegang peran yang efektif. Saddam kemudian membuat kejutan dengan meminta agar dirinya tetap ada di luar kekuasaan; dengan pertimbangan bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya dalam membawa Partai Baath ke puncak kekuasaan. Bakr menolak hal ini. Saddam akhirnya memutuskan untuk tetap menempati posisinya. Namun ia memainkan suatu peran istimewa di balik Bakr. Bahkan kemudian, perlahan tapi pasti, sosoknya muncul lebih tangguh daripada Bakr.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: