Mu’min Seperti Lebah

Safina Irchami

Safina Irchami

Seorang teman saya pernah tersengat lebah sewaktu bermain di belakang sekolah. Akibatnya, hampir seluruh wajahnya benjol-benjol. Sejak hari itu, setiap melihat lebah, saya selalu mengatakan apa yang diajarkan Ibu, “Pahit! Pahit!” sambil berlari menghindar. Tentang apa maksudnya, saya pun tidak tahu, karena hal itu tidak pernah dijelaskan oleh Ibu.

Tapi sebenarnya makhluk apa sih lebah itu?

Lebah adalah sejenis serangga yang kerjanya hinggap dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Hasil dari kunjungan itu ia membawa serbuk sari yang berfungsi sebagai makanan. Lantas  apa yang diberikan lebah pada bunga? Lebah rupanya tidak masuk ke dalam kelompok “pendekar tangan kosong”, karena setiap berkunjung ia selalu membawa sesuatu yang bermanfaat bagi bunga, sehingga bunga dapat tumbuh berkembang dengan baik dan indah.

Lebah dan bunga memang bisa diibaratkan sebagai sepasang kekasih yang saling membutuhkan. Lebah membutuhkan serbuk sari yang ada pada bunga, sedangkan bunga membutuhkan lebah untuk perkembangan dirinya. Selain itu, lebah pun menghasilkan makanan yang baik bagi manusia. Bahkah hasil produksi lebah itu juga disukai oleh Rasulullah saw.

Yang menarik, dalam Al-Quran ternyata ada surat bernama An-Nahl, yang berarti lebah. Dan ada pula sebuah Hadis yang mengatakan bahwa seorang mu’min itu ibarat lebah. Bila makan, dimakannya yang baik-baik. Bila mengeluarkan sesuatu (berproduksi), dikeluarkannya yang baik-baik. Bila ia hinggap pada ranting pohon, ranting itu tidak patah karenanya.

Hadis itu memang indah dan sarat makna.  Bila dikaitkan dengan tugas mu’min untuk berda’wah, misalnya, maka sebagai seorang penyeru (da’i) ia adalah ibarat lebah yang menawarkan madu, sedangkan Al-Quran tak ubahnya sebuah taman bunga, yang merupakan sumber makanan baginya.

Bila Hadis tersebut boleh saya tafsirkan, maka penafsirannya kurang-lebih sebagai berikut.

Bila anda  ingin menjadi seorang da’i (lebah), terlebih dahulu harus memakan makanan yang baik (Al-Quran).Hasil dari yang anda makan itu tentu saja harus dikeluarkan atau disampaikan (dida’wahkan) kepada orang lain. Tugas anda dalam hal ini hanyalah sebatas memyampaikan. Jadi anda tidak boleh memaksa agar orang lain (mad’u: sasaran da’wah) menerima da’wah anda. Dengan kata lain,  setiap manusia yang mengaku mu’min hendaknya mulai memungsikan dirinya seperti seekor lebah, yang hinggap (mengkaji) dari bunga ke bunga (ayat-ayat; surat-surat) demi menancapkan kesadaran Al-Quran ke dalam diri. Setelah itu, sang lebah harus bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar dengan cara menyampaikan apa yang sudah masuk, kepada keluarga atau kepada siapa saja yang berminat. (Safina Irchami)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: