Obrolan Tentang Iman (1)

Bisakah anda menjelaskan pengertian Iman secara lengkap?

Apakah anda siap untuk mengobrol dalam waktu lama?

Berapa lama?

Sampai penjelasan tentang iman itu selesai, dan anda mendapatkan gambaran yang utuh serta jelas.

Baiklah. Saya siap. Lalu dari mana kita memulai?

Karena anda meminta penjelasan dari saya, tentu sayalah yang menentukan dari mana kita mulai.

Baiklah. Silakan.

Saya akan memulai dengan mengajukan pokok-pokok pembahasan (topik-topik). Anda boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Tapi ingat, pertanyaan anda tidak boleh menyimpang dari topik.
Baik. Saya akan berusaha mengikuti peraturan anda. Kalau saya mengajukan pertanyaan yang ngawur, anda boleh menegur saya.

Bukan hanya menegur. Kalau anda banyak ngawur, saya tidak bersedia melanjutkan obrolan ini.

Baik. Saya siap mengikuti persyaratan anda!

Sekarang kita mulai. Topik pertama kita adalah “pandangan dunia tentang iman”.

Kenapa harus mulai dari pandangan dunia? Apakah nanti tidak akan jadi terlalu melebar?

Tidak. Topik ini justru harus dibahas pada giliran pertama; karena ketika kita berbicara tentang iman pada hakikatnya kita berbicara tentang cara berpikir dan bertindak manusia secara umum, di seluruh dunia.

Cara berpikir dan bertindak? Bukankah iman adalah masalah kepercayaan?

Benar. Secara umum orang mengatakan bahwa iman terletak di hati, sehingga dengan demikian iman adalah urusan hati; dan karena fungsi hati adalah untuk mempercayai, maka iman adalah soal kepercayaan.
Secara umum orang mengatakan bahwa iman adalah masalah gaib yang tidak dapat dijangkau dengan akal dan pengalaman empiris. Ia hanya dapat diyakini dengan hati atau rasa, bukan dengan rasio atau otak.

Itulah yang saya pahami tentang iman selama ini. Apakah itu salah?

Saya tanya balik, “Apakah itu benar?”

Saya kira, ya!  Benar.

Nah! Saya harus ingatkan anda bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh kira-kira. Kebenaran adalah masalah ilmu dan pembuktian-pembuktiannya.

Kita kan sedang bicara tentang iman. Sebagai orang beriman kita percaya, kita tahu, bahwa kita diciptakan oleh Tuhan. Tapi kan kita tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Bila yang anda maksud “membuktikan” itu adalah menghadirkan Tuhan seperti menghadirkan sebuah benda, tentu saja kita tidak bisa membuktikan. Tapi bila yang dimaksud adalah membuktikan secara logika, kita bisa “memahami” bahwa Tuhan itu memang ada.

Mengapa anda gunakan istilah memahami, bukan mempercayai?

Memahami berbeda dengan mempercayai. Memahami adalah kerja akal, sedangkan mempercayai adalah kerja hati, atau tepatnya kerja perasaan.

Nah! Bukankah iman adalah kerja perasaan?

Ada kerja perasaan di situ. Tapi, bukan perasaan yang membentuk iman. Iman dibentuk oleh pengetahuan, oleh ilmu.

Dalam sebuah tulisannya di koran Pelita terbitan tanggal 29 Januari 1992, Quraish Shihab mengutip perkataan seorang filsuf Denmark, Soren Aabye Kierkegaard. Filsuf itu bilang, “Anda percaya bukan karena tahu, tapi kerena tidak tahu.”

Kalau begitu, saya tanya anda, “Apakah anda mempercayai Allah karena anda tidak tahu tentang Allah?”

Tidak. Saya tahu, tepatnya saya memahami bahwa Allah itu ada; karena itu saya percaya. Tapi, seperti kata Quraish Shihab dalam tulisannya itu, “ … akal seringkali memunculkan aneka pertanyaan yang dapat menghadang kemantapan iman. Tentu ada yang puas dengan satu jawaban, tetapi bagaimana yang tidak puas? Apakah iman harus dipertahankan? Dengan kata lain, apakah yang diimani harus dipahami?”

Kalau begitu, saya ajukan pertanyan, “Bila yang kita imani tidak perlu dipahami, beranikan anda mengatakan bahwa Al-Qurãn tidak perlu dipahami tapi cukup dipercayai saja?”

Tentu tidak. Al-Qurãn memang harus dipahami kan?

Ya! Itulah sebabnya Quraish Shihab pun menulis tafsir Al-Qurãn yang terdiri dari 15 jilid. Bila dia istiqamah (konsisten) dengan pendapatnya bahwa yang kita imani, yakni Al-Qurãn, tidak perlu dipahami, seharusnya dia tidak menulis tafsir yang begitu banyak, yang untuk menaruhnya saja membutuhkan sebuah rak tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita tidak bisa menerapkan konsep bahwa “kita percaya bukan karena tahu, tapi karena tidak tahu.” Bisakah anda mempercayai orang yang baru pertama kali anda temui di jalan, lalu anda menyuruhnya untuk mengantarkan uang ke bank?

Tidak. Tentu tidak. Bodoh sekali kalau saya berbuat begitu.

Nah, begitu juga halnya dengan Al-Qurãn. Bila kita percaya Al-Qurãn tanpa memahaminya, maka dengan demikian Al-Qurãn itu bukan pedoman hidup, tapi cuma semacam jimat.

Kenyataannya, kebanyakan orang Islam memperlakukan Al-Qurãn sebagai jimat kan?

Ya. Mungkin karena pengaruh doktrin “percaya tanpa harus paham”  itu. Bila kenyataannya demikian, pantaslah orang-orang yang mengaku muslim atau mu’min itu kebanyakan tidak mengenal ajaran agama mereka. Pantaslah bila pengakuan mereka tidak sesuati dengan kelaku-an mereka. Lalu apa yang bisa diharapkan dari mereka? Akibat yang timbul dari kenyataan demikian adalah seperti kata Nabi Muhammad: “Islam hanya tinggal nama, Al-Qurãn hanya tinggal tulisannya; masjid-masjid ramai, tapi kosong dari petunjuk.”

Tapi, bukankah kita bisa mempercayai sesuatu yang tidak kita ketahui? Misalnya, kita percaya bahwa bumi itu bulat dan berputar mengelilingi matahari.

Apakah kepercayaan itu timbul mendadak? Bukankah kita percaya karena kita pernah sekolah, mendengar keterangan para guru, membaca buku-buku, melihat gambar-gambar, dan banyak lagi masukan-masukan yang akhirnya membentuk opini, membentuk kepercayaan. Tegasnya, kepercayaan kita tentang bumi itu bisa dikatakan karena tahu juga, meskipun kita tidak tahu secara langsung.
Jadi, jelas sekali bahwa kita tidak bisa percaya tanpa syarat. Tidak bisa percaya tanpa minta pembuktian, baik pembuktian langsung atau melalui perantara. Misalnya, kita percaya tentang adanya Allah, karena melihat bukti-bukti berupa segala hasil ciptaanNya.

Quraish Shihab juga mengutip perkataan pakar bernama Al-Aqqad, yang mengatakan, “Hakikat iman berbeda dengan haki-kat pengetahuan. Iman mempunyai kesamaan dengan rasa kagum… Keduanya bersumber dari hati manusia. …”

Kalau begitu, kenapa iman tidak disamakan dengan kekafiran, yang juga bersumber dari hati manusia, seperti digambarkan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 6-10?

“Orang-orang yang sudah jelas menolak da’wah (kafir), sama saja keadaan mereka apakah kamu (Muhammad) beri peringatan atau tidak, mereka (tetap) tak akan mau beriman.
(Karena sikap mereka itu) Allah (melalui sunnahNya) menyegel kalbu mereka, yaitu dengan cara (menjadikan kekafiran mereka) menutup pendengaran (daya tanggap) dan penglihatan (daya wawas) mereka. Yakni (dengan cara demikian) Allah timpakan kepada mereka azab yang besar.
Selanjutnya (di samping orang-orang kafir itu), ada segolongan manusia yang selalu mengaku-aku “kami beriman dengan ajaran Allah hingga tercapai tujuan akhir”, padahal kenyataannya mereka bukan para mu’min.
(Dengan cara itu) mereka berusaha mengelabui Allah serta para mu’min, padahal mereka hanya mengelabui diri sendiri, tapi mereka ti-dak merasa demikian (= tak tahu diri).
(Hal itu terjadi karena) dalam kalbu mereka ada penyakit. Maka Allah – melalui hukum sebab-akibat – menambahkan satu penyakit lagi, sehingga selanjutnya mereka merasakan penderitaan yang amat pedih sebagai akibat dari permainan sandiwara mereka itu.”

(BERSAMBUNG)

Advertisements
Comments
4 Responses to “Obrolan Tentang Iman (1)”
  1. reza says:

    kira2 kapan mau diterusin nih obrolannya bang

  2. Ahmad Haes says:

    Sabar, sabar. Sulit ngatur waktunya nih.

  3. reza says:

    boleh saya copy trus saya cetak di note FB saya bang?

  4. Ahmad Haes says:

    Boleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: