Impian Amerika

cowboy-hat

Impian (orang) Amerika (American’s dream) tentu bukan impian bangsa Indian yang harus dimusnahkan para pendatang yang menjarah negeri mereka. Impian Amerika juga tentu bukan impian orang-orang negro Afrika yang sejak awal abad 18 diangkut kapal-kapal Liverpool (Inggris) ke Amerika, untuk dijual seharga 15 juta ponsterling per 30000 orang!
Amerika sebagai ‘benua (jajahan) terbaru’ bagi bangsa-bangsa Barat adalah ibarat tanah tak bertuan yang mengandung harta karun. Di sanalah mereka pernah mengembangkan suatu cara hidup yang disebut wild west yang boleh dikatakan sama dengan wildlife, kehidupan tak ubahnya hewan, karena tidak ada hukum. Gambaran hidup ala wild west terlihat jelas dalam cara hidup para koboi (cowboy: penggembala sapi).
“Koboi Amerika tempo dulu bukanlah koboi berwajah mulus dan berpakaian necis seperti yang anda lihat di televisi atau di gedung bioskop,” kata sebuah diktat pelajaran bahasa Inggris terbitan Texas puluhan tahun lalu (tahun terbitnya tidak disebut). “Pokoknya, koboi Hollywood mah nggak kena deh untuk menggambarkan koboi yang sebenarnya. Koboi yang sebenarnya bekerja sejak sekitar pukul enam pagi sampai matahari terbenam. Sering kali malah harus be-kerja di malam hari.”
Bila koboi Hollywood membawa dua pistol untuk menembak orang, koboi sebenarnya membawa satu pistol dan satu senapan (rifle). Ia menggunakan senjata-senjata itu untuk berbagai tujuan. Ia berburu hewan untuk makan, membunuh hewan piaraan yang sakit, juga melindungi diri dan ternaknya dari hewan-hewan liar. Bila ia harus bertempur dengan orang lain, ia akan meng-gunakan pistol dalam jarak dekat, dan menggunakan senapan untuk jarak jauh. Bila koboi berpistol menantang koboi lain yang bersenapan, ia harus berdiri pada jarak 150 kaki (sekitar 50 meter) dari lawannya. Tentu saja, koboi berpistol bisa terbunuh dengan mudah. Tapi sang ‘hakim’ (jury) yang menyaksikan duel itu akan memutuskan bahwa koboi bersenapan tidak bersalah. Pertimbangannya adalah bahwa si koboi berpistol seharusnya sudah tahu risikonya bila ia me-nantang lawan bersenapan. “Keadilan di Barat kadang-kadang terasa ganjil, karena berbagai kondisi yang luar biasa,” kata diktat itu pula.
Koboi yang asli (bukan dalam film) adalah orang yang tegar. Ia meng-habiskan hari-harinya di daerah terbuka dan biasa tidur di atas tanah. Ia bekerja dalam berbagai cuaca. Ia memacu kudanya di tengah panas terik, dalam cuaca sangat dingin, dan di bawah curahan hujan deras. Bila berjalan, langkahnya sangat pendek, karena kakinya tidak terbiasa digunakan untuk berjalan. Bila jatuh sakit atau terluka, ia harus mengobati diri sendiri. Ia jarang bertemu dokter atau obat. Segala keadaan gawat harus dihadapinya sendiri.
Hidupnya kadang terancam banyak bahaya. Serangan Indian dan para bandit selalu harus dihadapi. Para pemilik peternakan saling baku hantam berebut tanah dan air. Para koboi, yang biasanya setia pada majikan, sering kali terbunuh dalam peristiwa demikian. Di hamparan tanah luas, mereka tidak selalu bertemu dengan air, sehingga banyak koboi yang mati kehausan. Ular dan laba-laba berbisa, banteng liar, dan hewan buas lain, juga selalu mengancam hidup mereka.
Waktu itu belum ada dinas pemantau cuaca. Tak ada orang yang memberi tahu sang koboi bahwa pada malam hari cuaca akan sangat dingin. Kadang sang koboi harus berangkat dini hari tanpa jaket, lalu siang harinya angin dingin muncul, dan cuaca tiba-tiba jadi membekukan. Suhu di tanah terbuka dalam beberpa jam kadang turun dari 100 derajat menjadi 30 derajat Fahrenheit.
Lalu apa dampak segala keadaan itu bagi jiwa sang koboi? Ia menjadi orang yang sangat merdeka. Ia tak bisa berteman dengan banyak orang, tapi jadi sangat setia pada sedikit teman yang dimiliki. Ia merasa bertanggung-jawab pada pemilik peternakan, dan siap mati demi sang majikan. Ia harus berani dan sanggup bekerja keras. Sifat-sifat seperti itulah yang membuat orang suka menonton film koboi Hollywood. Setiap orang suka membaca atau menonton kisah tentang keberanian seseorang.
Tapi, yang diungkap film-film koboi Hollywood sebenarnya juga bukan hanya tentang keberanian para koboi menghadapi bahaya. Film-film itu juga tidak hanya berisi gambaran tentang para koboi yang berbeda dari aslinya. Film-film itu justru terasa mengungkapkan watak orang Amerika yang sebenarnya, dari dulu sampai sekarang.
Mereka, para koboi itu, bukan hanya berani menghadapi berbagai ancaman fisik, tapi juga tak takut melanggar hukum dan nilai-nilai moral. Sekarang mereka bahkan mempunyai banyak senjata yang amat sangat jauh lebih ampuh dari sekadar senapan. Mereka mempunyai senjata nuklir – sebagai lambang capaian tertinggi teknologi sarana perang – dan juga uang.
Memiliki senjata sebagai wujud kesaktian, dan uang sebagai wujud kekayaan (yang juga tak kalah sakti dari senjata) adalah impian Amerika tempo dulu, untuk bisa menguasai sebuah benua. Dengan senjata, mereka menyapu bersih bangsa berkulit merah dan memperbudak bangsa kulit hitam. Dengan uang, mereka bisa membeli apa saja.
Kini impian mereka sudah menjadi kenyataan. Bangsa Amerika (= Barat) telah menguasai benua ‘milik’ bangsa kulit merah yang mereka musnahkan itu. Senjata mereka sekarang bisa ditodongkan ke seluruh peloksok dunia, dan uang mereka bukan hanya bisa digunakan untuk membeli sejumlah budak berkulit hitam, tapi juga bisa digunakan untuk memperbudak seluruh bangsa di dunia. ∆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: