Komedi Dan Tragedi SADDAM HUSEIN (3)

Michel Aflaq, pendiri partai sosialis Baath (kebangkitan).

Michel Aflaq, pendiri partai sosialis Baath (kebangkitan).

Perjalanan Rahasia

Perjalanan tahap kedua bermula dari Ouja. Sesuai petunjuk Partai Baath, Saddam harus pergi ke Suriah bersama beberapa teman. Rencana perjalanan rahasia disusun. Setelah melalui beberapa hambatan, seorang penunjuk jalan ditemukan. Mereka mengawali perjalanan dengan sebuah jip, tapi selanjutnya terpaksa harus menggunakan keledai. Mereka tidak mampir untuk beristirahat di tempat orang Badui, demi mencegah kebocoran rahasia. Mereka harus berjalan di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Saddam dan kawan-kawan seperjalanan harus mengalami saat-saat penuh kesukaran. Kadang mereka harus meminum air yang telah dicemari kotoran kambing. Tentu saja mereka harus menyaringnya dulu, untuk sedapat mungkin membuang cacing dan pasir. Di malam hari, mereka bergantian menjadi pengawal demi keselamatan dari tangkapan petugas keamanan. Ketika mencapai daerah perbatasan, mereka menemukan sebuah goa untuk bersembunyi dan sebuah sumur berair jernih. Penunjuk jalan menyatakan kelegaannya, setelah sepanjang jalan tak henti mengeluh; padahal ia naik kuda sementara Saddam dan dan kawan-kawan berjalan kaki. Mereka terus berjalan, hampir tak pernah menoleh ke belakang. Mereka baru sadar telah sampai di Suriah setelah mereka masuk cukup jauh ke wilayah negeri itu.

Pada saat itulah mereka mulai merasa santai dan aman, terutama setelah bertemu dengan petugas patroli malam. Mereka beristirahat di Boukamal, kemudian di Deir al-Zor, dua kota besar di perbatasan Suriah dan Irak. Dari situ perjalanan dilanjutkan ke Damaskus. Di situlah kemudian Saddam Hussein tinggal selama enam bulan.

Tanggal 21 Februari tahun 1960, dari Damaskus ia berangkat ke Kairo, untuk memulai tahap baru kehidupannya. Sebagai langkah awal, ia mendaftarkan diri di sekolah Kasr Al-Nil, supaya kelak dapat diterima di Cairo University. Ia juga bekerja keras untuk memperkuat kepemimpinan Partai Baath di Kairo. Di ibukota Mesir itu ia merasakan segala penderitaan sebagai pelarian politik. Setiap saat ia terus mendapat gangguan, terus diawasi, dan tempat tinggalnya selalu diintai. Gangguan baru berhenti setelah ia melapor kepada salah seorang pejabat di Kantor Kepresidenan bahwa ia dan kawan-kawannya tidak sanggup menerima perlakuan tidak sopan tersebut.

Di Mesir, Saddam terpilih sebagai anggota Divisi Partai, lalu menjadi anggota Komando Cabang, dan selanjutnya menjadi anggota Komando Regional. Setelah Abdul Karim Qassim (yang ternyata selamat dari pembunuhan itu; konon ia hanya terluka) didepak dari tahnya di tahun 1963, Saddam Husein yang berusia 22 tahun kembali ke Irak untuk menjalankan tugas-tugas kepartaiannya di Kantor Pusat Pertanian.

Presiden Irak berikutnya adalah Ahmad Hassan Al-Bakr dari Partai Baath, yang berkuasa sampai tahun 1979. Pada saat itu Partai Baath dalam keadaan goyah dan kekurangan pemimpin berkualitas untuk memantapkannya. Saddam Hussein sebelumnya tidak mengetahui persoalan itu; mungkin karena ketidakhadirannya di Irak. Penyakit tumbuh meruyak di tubuh Partai. Suasana penuh teror mengepung, blok-blok dan kelompok-kelompok bertumbuhan seperti jamur di musim hujan. Berbagai rintangan ditemui orang-orang yang ingin bertindak sesuai dengan garis Partai yang sebenarnya. Saddam berusaha keras untuk merontokkan penyakit-penyakit Partai tersebut. Para pemimpin Partai menyambut tindakannya dengan menyusun barisan para anggota Partai yang cenderung menentangnya. Mereka bahkan melancarkan aksi-aksi yang mengancam jiwa Saddam.

Tak lama kemudian, sebuah kudeta militer terhadap Partai muncul, dikomandoi Presiden Abdus-Salam Arif. Salah satu akibatnya, para anggota Partai menjadi sasaran perburuan. Saddam bahkan menjadi sasaran utama dan pertama. Saddam yang saat itu bersekutu padu dengan Ahmad Hassan Bakr, mulai dapat melihat kesulitan-kesulitan mereka dengan jelas. Dalam pikiran Saddam, sebuah partai yang kuat diperlukan untuk menghadapi Abdus-Salam Arif dan menyelamatkan revolusi. Saddam, yang luput dari perburuan, kemudian melakukan lagi perjalanan rahasia ke Damaskus, untuk mengikuti Konferensi Nasional Partai Baath yang ketujuh.

Dalam suatu percakapan singkat dengan pendiri Partai, Michel Aflaq, Saddam menyatakan bahwa ia akan berusaha membentuk Partai Baath yang kuat dan padu di Irak. Ia kembali ke Baghdad untuk melaksanakan tekadnya itu. Langkah-langkah penting segera ia lakukan, termasuk mengawasi organisasi militer Partai, sebagai tambahan bagi tanggung-jawabnya terhadap Kantor Pertanian dalam struktur Komando Partai yang baru. Hal itu terjadi setelah Abdul Karim Qassim dijatuhkan pada bulan Februari tahun 1963.

Usia Saddam sudah 26 tahun. Di sela-sela kerepotan dan berbagai ancaman yang memburunya sehubungan dengan urusan Partai, ia masih sempat mengingat Sajidah, putri paman dan ayah angkatnya, Khairallah Talfah. Tahun itu Saddam menikah dengan saudara sepupunya tersebut.

“Kisah kami tidak berbeda dengan kisah-kisah yang lain,” kata Saddam kepada wartawan majalah Al-Mar’a (wanita) yang terbit di Irak. “Biasanya bujang atau gadis selalu tertarik pada orang-orang yang ada di dekatnya. Ketika saya berusia empat atau lima tahun, ibu saya mengatakan bahwa Kakek sudah menjodohkan saya dengan putri Paman. Waktu itu saya belum pernah melihat Sajidah, tapi cerita Ibu itu tertanam dalam hati saya. Ketika saya lari dari Irak, setelah dijatuhi hukuman mati karena usaha pembunuhan Abdul-Karim Qassim itu, saya minta agar kami dipertunangkan secara resmi. Begitu keluarganya mendengar hal itu, mereka mengirimkan pernyataan setuju. Tapi, pertunangan itu baru diumumkan ketika saya di Kairo dan Sajidah di Baghdad.”

Pertunangan yang tidak indah namun tak terlupakan itu berlanjut sampai mereka memulai hidup baru setelah menikah pada tahun 1963. Bulan madu mereka pun padat dengan ketegangan, karena semangat perjuangan atau petualangan Saddam yang tak kunjung padam. Ketika putra pertama mereka, Ady atau Uday, baru berusia beberpa bulan, lagi-lagi Saddam harus meringkuk dalam penjara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: