“Demoralisasi” Petaka Umat Islam Masa Kini

Demoralisasi bisa terjadi pada siapa pun yang merasa kehilangan segala-galanya.

Demoralisasi bisa terjadi pada siapa pun yang merasa kehilangan segala-galanya.

Morale (bukan moral tanpa huruf akhir e) didefinisikan Oxford Learner’s Pocket Dictionary sebagai state of dicipline and spirit (in a person, an army, etc). (Tingkat disiplin dan semangat, seseorang atau satu pasukan tentara, dsb). Lebih tegas, Longman Language Activator memasukkan istilah demoralizing dalam pembahasan makna confident (yaitu: yakin bahwa anda dapat melakukan sesuatu atau menghadapi masalah dengan baik, tanpa waswas bahwa anda akan gagal atau melakukan kesalahan). Demoralizing didefinisikan kamus itu sebagai tindakan untuk “membuat orang merasa bahwa mereka tak mungkin berhasil dalam pekerjaan mereka, sehingga tak mau lagi melanjutkannya” (making people feel that they cannot be successful at something they are trying to do, so that they become unwilling to continue with it). Dalam kata lain, demoralizing atau demoralization – yang keduanya mungkin kita ucapkan menjadi demoralisasi – adalah tindakan untuk membuat orang lain kehilangan harapan, alias putus asa. Lebih jauh lagi, demoralisasi bahkan bisa dilakukan sedemikian rupa agar orang atau pihak yang menjadi korbannya merasa ‘malu hati’ (ashamed), alias kehilangan harga diri karena ‘kesalahan’ yang telah dilakukannya.

Demoralisasi (demoralized) menimpa Jepang, terutama militernya, pada masa Perang Dunia II, yaitu ketika bom atom memporak-porandakan dua kota mereka. Namun, yang luput dari perhatian banyak orang adalah ‘sisi baik’ dari bencana besar itu. Bila Jepang mengalami unparalleled devastation and demoralization (kehancuran dan demoralisasi tiada tara), pihak yang menghadiahkan bom atom itu mengalami hal sebaliknya. Bom itu berarti bencana luar biasa bagi Jepang, tapi bagi Amerika ia membawa berkah istimewa. Sejak saat itulah Amerika menancapkan pengaruhnya di Timur Jauh. Bukan hanya pada sisi teknologi dan militer, tapi (terutama) pada sisi politik dan ekonomi.[1]

Bisa jadi Amerika memang belajar banyak dari peristiwa itu. Bom atom memang tidak (atau belum) mereka gunakan lagi, tapi bom-bom (harfiah dan kiasan) yang lain terus mereka gunakan untuk menghasilkan dampak yang sama bagi bangsa-bangsa lain: demoralisasi.

Dalam kenyataan, antara bom harfiah dengan bom kiasan kadang merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Bom-bom yang dijatuhkan Amerika di Afganistan dan Irak, misalnya, berdampak menimbulkan kehancuran fisik dan moral. Seiring dengan itu, bom yang berupa isyu (dan tindakan) terorisme juga tak kalah dahsyatnya dalam menimbulkan demoralisasi di kalangan umat Islam. Karena umat Islam yang menjadi sasaran tembak dari isyu itu, dan jelas dituduh sebagai pelakunya berdasarkan ‘bukti-bukti’ yang tidak bisa kita bantah secara faktual, maka tiba-tiba rasa malu pada diri sendiri menyerang demikian hebat, membuat kita menjadi sekumpulan manusia yang serba salah dan inferior (rendah diri) di hadapan manusia-manusia (non-muslim) yang lain.

Kita memang bukan tidak tahu bahwa kita telah menjadi korban dari sebuah konspirasi jahat. Tapi musuh-musuh kita telah membuat pengetahuan kita itu seolah-olah hanya sebuah ilusi alias tipuan khayal. Itulah, lagi-lagi, dampak dari sebuah karya demoralisasi yang sukses besar.

Pijakan morale Barat

Konspirasi (conspiracy) alias rencana rahasia dari sekelompok manusia untuk menjatuhkan atau melenyapkan seseorang atau sekelompok manusia lain, mungkin memang sulit dibongkar sampai ke akar-akarnya, namun tidak terlalu sulit untuk dibaui, karena bagaimana pun rapi dan terselubungnya, sebuah rencana pastilah ada sisi konkretnya, yaitu pelaksanaannya ke dalam berbagai tindakan. Berbagai tindakan itulah yang bisa kita sebut sebagai semacam sindrom. Dalam kedokteran, sindrom (syndrome), adalah ‘rentetan’ gejala yang bisa menggiring dokter pada kesimpulan tentang adanya suatu penyakit (fisik atau psikologis) tertentu. Al-Qurãn meng-gambarkan ‘teori konspirasi’ melalui ulah kaum munafik demikian:

Bila mereka berhadapan dengan para mu’min, mereka mengatakan, “Kami beriman (seperti anda).” Tapi bila mereka menemui ‘setan-setan’ mereka di tempat rahasia, mereka mengatakan, “Sungguh, kami adalah pendukung kalian. Sesungguhnya (dengan perkataan kepada para mu’min) kami hanya berolok-olok”. (Al-Baqarah ayat 14).

(Di tengah lingkunganmu) mereka menyatakan kepatuhan. Tapi begitu mereka pergi dari lingkunganmu, sekelompok dari mereka menyusun rencana di malam hari, yang berlainan dengan ajaranmu. Tapi Allah mencatat apa yang mereka rancang di malam hari itu. Maka menjauhlah dari mereka (hindari rencana busuk mereka), dan bertumpulah pada Allah (dengan mengikuti ajarannya), karena sudah cukup Allah (dengan ajarannya itu) sebagai andalan (kamu tidak perlu mengandalkan lagi yang lain).

Dalam konteks peradaban dunia, persaingan antar peradaban bisa menim-bulkan sindrom pada peradaban tertentu, yang mengarah pada kesimpulan bahwa peradaban tersebut melakukan konspirasi untuk menjatuhkan atau melumpuhkan peradaban lain yang dianggap sebagai lawan yang mengancam eksistensinya.

Samuel Philip Huntington (1927-2008).

Samuel Philip Huntington (1927-2008).

Huntington menggambarkan dengan sangat baik tentang hal itu melalui tesisnya yang sangat terkenal itu: The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order. Dari judulnya saja kita sudah menangkap pemikiran dasarnya; yaitu adanya kekhawatiran (Barat) terhadap benturan antar peradaban (Barat versus Timur), dan bagaimana caranya supaya Barat bisa keluar sebagai pemenang. Cara itu adalah: remaking the world order, yaitu melakukan “penataan ulang” terhadap dunia.

Mengapa harus dilakukan penataan ulang? Karena perkembangan situasi dunia agaknya terlihat oleh Barat semakin mengarah pada pembentukan pesaing-pesaing tangguh bagi mereka. Peradaban Barat, yang diwakili oleh Inggris, Prancis, Spanyol, Austria, Prusia, Jerman, Amerika Serikat, Australia, dan lain-lain digambarkan Huntington sebagai berhadapan dengan ancaman yang timbul dari Timur, yang diwakili peradaban-peradaban Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika. Itu merupakan potensi konflik masa depan, kata Huntington. Dan potensi konflik terbesar adalah Barat vs koalisi Islam (Timur Tengah, Indonesia) dan Konfusius (Cina), yang dikatakannya sebagai musuh bebuyutan (permanen) Barat, khususnya AS. Islam disebutnya “ancaman hijau”, dan Konfusius “ancaman kuning”.

Huntington bahkan begitu gamblang menyebut bahwa konflik itu bisa (dan sudah terjadi) karena Barat, Konfusius, dan Islam menganggap agama sebagai ruh peradaban. Artinya, konflik antar peradaban itu pada dasarnya ditimbulkan oleh agama!

Sebenarnya apa yang diungkapkan Huntington bukanlah tesis (pemikiran) baru. Ia hanya mengunyah dan memberakkan (maaf!) makanan basi. Jauh-jauh hari sebelumnya para sejarahwan dari mazhab filosofis seperti (1) filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedric Hegel, (2) filsuf Prusia Oswald Spengler, dan (3) sejarahwan Inggris Arnold toynbee, sudah mengungkapkan hal itu.

Ketiga tokoh itu mempunyai banyak perbedaan namun pada dasarnya mereka memiliki konsep yang sama. Mereka memandang sejarah sebagai sesuatu yang mengalir tanpa henti. Setiap peradaban, kata mereka, berjalan mengikuti pola yang dapat diramalkan. Setiap peradaban, tak ubahnya manusia yang melalui masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, dan mati. Berapa lama suatu peradaban bertahan, ditentukan oleh baik-buruknya gagasan-gagasan dan idealisme (etika) yang menunjangnya. Itulah ciri umum seluruh peradaban.

Spengler secara khusus mengatakan bahwa setiap peradaban akan mati. Bermula dari Musim Semi (spring) sebagai awal pertumbuhannya, setiap peradaban matang menjadi Musim Panas (Summer) dengan terwujudnya prestasi-prestasi fisik terbesarnya, terus memasuki Musim Gugur (Autumn) dengan dicapainya prestasi-prerstasi intelektual, dan akhirnya merosot, memasuki Musim Dingin (Winter), lalu mati.

Bahwa Huntington hanya epigonis terungkap melalui karya Spengler: The Decline of the West (Kemerosotan Barat), yang menggambarkan peradaban Barat sudah memasuki Musim Dingin, alias menjelang mati. Spengler menulis pada tahun 1918, ketika Inggris sedang di puncak kejayaan, sedangkan Rusia dan Cina hanya menduduki peringkat kelima di antara negara-negara adidaya. Dalam bukunya itu Spengler mengatakan bahwa peradaban Barat akan mati pada abad ke-23. Sebagai penggantinya, bila bukan peradaban Rusia, pastilah peradaban Cina yang sedang memasuki Musim Semi. Lewat tesisnya, Huntington cuma menegaskan bahwa Rusia sudah ‘mati’, dan yang tinggal adalah Cina dengan fanatismenya terhadap ajaran Konfusius (Konghucu, Kong Fuzi). Tapi mengapa ia juga memasukkan Islam sebagai pesaing Barat yang lain? Jawabannya ada pada Toynbee.

Arnold J. Toynbee (foto 1961).

Arnold J. Toynbee (foto 1961).

Toynbee mengajukan teori yang dikenal sebagai linier concept. Dalam bukunya yang mashur, A Study of History, ia mengatakan bahwa sebuah peradaban bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri secara utuh (an independent totality), tapi suatu perkembangan atau kemajuan (progression) – suatu evolusi – dari peradaban yang rendah (yang berkembang) menjadi lebih tinggi. Peradaban Islam, katanya, tumbuh dari kebudayaan terdahulu yang lebih rendah, yaitu kebudayaan Iran dan Arab, yang lahir melalui masyarakat Siria. Jadi, peradaban Islam tidak perlu mati (need not have died) – alias tidak akan mati, bahkan bisa menjadi kebudayaan lebih tinggi, bila mampu menghadapi dengan baik tantangan yang muncul pada abad 13 dan 14. Menurut Toynbee, setiap peradaban akan hidup selamanya bila mampu menghadapi setiap tantangan yang terus-menerus datang.[2]

Demikianlah pandangan-pandangan yang berasal dari orang-orang Barat, para ‘pemilik’ Peradaban Barat, yang tentu mempunyai kecenderungan untuk melestarikan kejayaan Peradaban Barat. Untuk itulah mereka melakukan studi yang mendalam tentang sejarah berbagai peradaban dunia. Dengan demikian, hasil studi yang mereka ungkapkan itu, tentu bukan hanya sebuah informasi, apalagi hanya sebuah wacana. Apa yang mereka kemukakan itu sudah pasti dihidangkan sebagai sebuah pelajaran, khususnya bagi bangsa mereka sendiri, dan lebih khusus lagi tentu bagi kalangan intelektual dan teknokratnya, yang memang merupakan penanggung-jawab maju-mundurnya peradaban.

Jadi, tesis Huntington memang terjalin benang merah bersama ‘hasil studi’ para pakar sejarah dan filsafat di atas. Selanjutnya, itulah yang kita lihat mendasari sepak-terjang AS, khususnya George Walker Bush di pentas perpolitikan dunia.

Motivasi perang Bush Junior

Banyak orang yang beranggapan bahwa perang yang dilancarkan Bush junior beberapa tahun lalu adalah perang ekonomi, teristimewa demi penguasaan ladang-ladang minyak di Timur Tengah. Pandangan itu mungkin tidak salah, namun terlalu picik dan dangkal. Dengan berpandangan demikian, kita hanya melihat gejala permukaan, sehingga ‘udang di balik batu’ (the hiddin meaning) —tujuan sebenarnya— dari agresi itu menjadi terabaikan. Sebagai bangsa (-bangsa) yang inferior (rendah, kalah), kita memang selalu berpikir inferior (berkerangka kecil, picik) karena kita menderita inferiority complex, alias penyakit merasa serba rendah dan kalah. Dalam keadaan demikian, alih-alih berpikir rasional, ilmiah, berwawasan ke depan, kita malah lebih cenderung berpikir dalam kerangka khayal (wishful thinking).

Dengan wishful thinking itulah para ulama ketika itu mengumpulkan orang di Masjid Istiqlal untuk melakukan apa yang mereka sebut dzikir demi keselamatan Irak. Mereka menjadikan ayat tarmihim bi-hijaratin —yang sebenarnya merupakan bagian dari paparan sejarah— sebagai sebuah ‘mantra’ yang dibaca berulang-ulang dengan gaya dan nada rintihan, dengan harapan agar Allah melempari tentara Bush dengan ‘batu api dari neraka’! Hal yang tak jauh beda juga mereka lakukan ketika Israel membombardir Gaza baru-baru ini. Sungguh mengenaskan sekaligus menggelikan. Mereka mencoba mendikte Allah. Alhasil, keinginan mereka tidak terkabul. Tentara Bush terus membombardir Irak dengan bebas, dan seterusnya menempatkan negeri itu dalam cengkeramannya. Di lain pihak, ayat Allah jadi terlecehkan karena terkesan tidak manjur.

Bush (= AS/Barat), sebelum menebar bom telah lebih dulu melakukan perang urat saraf melalui isu terorisme, yang sangat ampuh membuat linu setiap persendian orang Islam. Sekali lagi, hal yang diinginkan melalui isu terorisme yang disusul dengan serangan militer terhadap Afganistan dan Irak adalah terjadinya demoralisasi umat Islam. Dengan isyu terorisme, AS bisa membuat umat Islam ‘malu hati’ (ashamed), alias kehilangan harga diri karena merasa telah melakukan kesalahan (loss of self-respect caused by doing wrong), karena tidak bisa membantah tuduhan mereka bahwa umat Islam itu teroris. Dengan cara sedemikian rupa, mereka telah membuat umat Islam lupa bahwa terorisme yang semula dilakukan orang-orang Arab yang muslim itu sebenarnya hanyalah sebuah ekses akibat penindasan atas kaum lemah (Palestina) oleh kaum kuat yang jahat (Israel yang didukung Barat). Dengan cara yang sangat cerdik, mereka telah membuat kita memandang hina atas tindakan yang dilakukan saudara-saudara kita yang berusaha memberontak terhadap penjajah, yang bukan saja ingin menguasai tanah mereka tapi juga ingin melenyapkan mereka dari muka bumi.

Dalam keadaan malu hati itulah, kita diam ketika AS menghancurkan Afganistan berdasarkan tuduhan bahwa di sana Usamah bin Ladin, yang penghancur WTC, dilindungi. Demikian juga ketika AS membombardir Irak, kita diam, karena di sana ada Saddam Hussein yang brengsek, yang memproduksi senjata pemusnah massal, dan juga mendukung para teroris. Di satu sisi, Afganistan dan Irak adalah simbol pilar-pilar kekuatan umat Islam yang berani secara terang-terangan menya-takan permusuhan terhadap AS. Menghancurkan kedua negara itu, berarti menghancurkan dua pilar kekuatan umat Islam. Selanjutnya, pilar-pilar yang masih tersisa akan terus digempur, sehingga umat Islam benar-benar kehilangan sandaran.

Cara seperti itu, melakukan taktik demoralisasi, adalah cara yang murah untuk melakukan suatu perang besar. Dengan cara itu, mereka tak perlu memerangi umat Islam seluruhnya. Dengan menghantam beberapa tokoh dan negara saja, umat Islam sudah dibikin runtuh seluruhnya (secara moral).

Umat Islam seharusnya menyadari makna dibalik istilah pre-emptive war yang dilakukan AS. Istilah itu berlaku dalam dunia perdagangan di AS dengan pengertian hak membeli lebih dulu. Tapi, dalam dunia militer, mungkin sejak Bush junior jadi presiden, dimaknai sebagai hak untuk melakukan serangan lebih dulu kepada pihak-pihak yang potensial (‘berbakat’) menjadi musuh, sebelum potensinya benar-benar muncul. Ibarat hendak melenyapkan suatu tanaman, tentu lebih mudah melindas tunasnya dengan ujung kaki, daripada nanti harus menggunakan buldoser karena sudah terlanjur tumbuh sebagai pohon yang besar.

Hal seperti itu —sekali lagi perlu ditegaskan— adalah berkaitan dengan perang peradaban yang ‘diilhami’ gagasan Huntington, sebagai upaya pelestarian peradaban Barat, yang kata Spengler akan hancur pada abad 23. (Jadi, dua abad sebelumnya mereka sudah harus melakukan pencegahan!).

Lantas, apa yang selayaknya kita lakukan?

Menyimak informasi Allah

Kekalahan umat Islam dari masyarakat Barat dalam segi militer, teknologi, politik, dan ekonomi, yang merupakan unsur-unsur pokok sebuah peradaban, adalah suatu kenyataan tak terbantah. Hal itu terjadi karena kita, umat Islam, mengabaikan pemikiran filosofis dan historis yang dilakukan Barat, yang sebenarnya merupakan ajaran Allah. Yang pertama, berpikir filosofis pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari berpikir akademis-ilmiah, karena dalam kamus Barat philosophical, dalam pengertian positifnya, juga merupakan sebutan bagi orang yang dipimpin oleh akalnya, bukan perasaannya (a person guided by reason and not feelings). Sementara kita, kebanyakan hanya dikendalikan oleh perasaan (seperti contoh sikap para ulama di atas). Dengan kata lain, kita adalah ibarat a man without a philosophy, alias tidak mempunyai visi untuk memecahkan permasalahan hidup (no views upon the problems of life). Padahal Abu Bakar, misalnya, pernah mengatakan, “Beruntunglah orang yang akalnya menjadi pemerintah dan perasaannya (nafsunya) menjadi tawanan. Sebaliknya, celakalah orang yang perasaannya menjadi pemerintah sedangkan akalnya menjadi tawanan.” (طوبى لمن كان عقله أميرا وهواه أسيرا و ويل لمن كان هواه أميرا وعقله أسيرا).

Yang kedua, berpikir historis, sebenarnya merupakan sesuatu yang begitu sering ditekankan dalam Al-Qurãn, misalnya melalui firman di bawah ini:

… (Inilah, yakni Al-Qurãn) sebuah kitab yang diturunkan (diajarkan) kepadamu, sehingga selanjutnya kamu (Muhammad) tidak akan lagi merasakan sesak dada dalam (tugasmu) memberi peringatan dan membangunkan kesadaran para mu’min.

(Tegaskan kepada umatmu:)”Patuhilah apa yang diajarkan Allah kepada kalian, jangan mematuhi (kitab-kitab) selainnya sebagai pemimpin.” (Tapi pasti cuma) sedikit yang mau berkesadaran demikian.

Padahal, alangkah banyaknya kota (= pusat peradaban) yang Kami hancur-kan. (Karena mereka tidak mempunyai ‘sense of crises’) maka datanglah bencana Kami ketika mereka lelap di malam hari atau tidur di siang bolong (= dalam keadaan lengah).

Maka setelah bencana Kami itu datang, mereka hanya bisa mengeluh, “Sungguh, kami benar-benar tenggelam dalam kegelapan (tidak tahu apa yang akan terjadi).”

(Bila benar demikian, Allah mengejek mereka:) maka pastilah Kami akan menyidang orang-orang yang diutus kepada mereka, yakni pastilah Kami akan menyidang para rasul (yang tidak mungkin disidang karena mereka telah melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya).

Maka (melalui proses penurunan Al-Qurãn ini) sungguh Kami akan menuturkan (hal tersebut) dengan suatu ilmu (rangkaian keterangan yang gamblang), yakni Kami tidak akan bersikap seperti mereka yang biasa mengajarkan teori-teori yang abstrak (tidak jelas pangkal dan ujungnya).

Timbangan (standard) yang berlaku pada masa yang sudah ditentukan adalah al-haqq(u); sehingga setiap orang yang penuh timbangannya (dengan ‘muatan’ al-haqq – kebenaran), maka merekalah orang-orang yang unggul (dalam persaingan hidup).

Sebaliknya setiap orang yang ringan (kosong) timbangannya (dari muatan al-haqq) maka merekalah orang-orang yang telah merugikan diri karena sebelumnya mereka bersikap masa bodoh terhadap ayat-ayat Kami.

Padahal sebenarnya telah Kami tempatkan kalian di bumi ini, lalu Kami sediakan di dalamnya segala sarana kehidupan (jasmani dan ruhani). (Tapi) sedikit sekali di antara kalian yang bersyukur (bertindak sesuai bimbingan Allah dan Rasul). (Surat Al-A’rãf ayat 2-10).

Rangkaian keterangan ini, pada satu sisi, adalah salah satu penelanjangan bagi para sejarahwan filosofis di atas. Jelas sekali, setelah kita membaca Al-Qurãn, bahwa apa yang mereka sebut sebagai hasil dari a study of history itu sebenarnya hanya sebuah informasi basi. Tapi kita telah tertipu oleh mereka, sehingga menganggap segala yang mereka kemukakan sebagai temuan ilmiah.

Pada sisi lain, melalui keterangan di atas – yang selama ini selalu dipahami sebagai gambaran nasib manusia setelah mati – Allah mengingatkan bahwa keunggulan (al-falãh) dan kehancuran (al-halãk) peradaban manusia ditentukan oleh bobot kebenaran (ilahiyyah) yang ada pada peradaban mereka. Semakin berat bobot kebenaran mereka, semakin besar jaminan untuk unggul. Semakin ringan (hampa) bobot kebenaran mereka, semakin pasti jaminan untuk hancur. Bandingkan informasi asli Allah itu dengan informasi colongan para sejarahwan mazhab filosofis di atas: Berapa lama suatu peradaban bertahan, ditentukan oleh baik-buruknya gagasan-gagasan dan idealisme (etika) yang menunjangnya. (How long a civilization lasts, depends upon the ideas and ideals by which that civilization lives).

Dalam redaksi yang lain, Nabi Muhammad mengatakan, “Sesunguhnya segala sesuatu itu mempunyai inti kebenaran (hakikat). Berdasar itu, seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sebelum ia tahu (secara ilmiah) bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin merupakan suatu kesalahan (kebetulan; accident) baginya. Sebaliknya, apa yang bersalahan (bertentangan, dengan imannya) tidak mungkin bakal menimpa dirinya.” (إنّ كلّ شيئ حقيقة ولا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتّى يعلمَ أنّ ما أصابه لم يكن ليُخطئه و ما أخطأه لم يكن ليُصيبَه – رواه أحمد والطبرنى عن أبى الدرداء).

Kuatkan perkataan Nabi itu dengan firman Allah:

Setiap kebaikan yang menimpamu adalah berkat dari (ajaran) Allah (yang kamu jadikan pedoman). Sebaliknya, setiap keburukan yang menimpamu adalah akibat dari dirimu (yang menentang ajaran Allah). Untuk menegaskan hal itulah Kami menugasi kamu (Muhammad) sebagai rasul terhadap manusia. Selanjutnya, cukuplah Allah (dengan ajaran dan hukum alamnya) menjadi saksi (bagi mereka). (Yakni) siapa pun yang mematuhi Rasul maka berarti ia mematuhi Allah. Sebaliknya, siapa pun yang membelakangi (membangkang), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pelindung mereka. (Surat An-Nisa ayat 79-80).


[1] The Story Of English, Robert McCrum, William Cran, Robert MacNeil, hal. 24, BBC Books, 1992.

[2] Lihat antara lain God, Jews, And History, Max I. Dimont, Signet Book, New York, 1962, hal. 18-22.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: