Komedi & Tragedi SADDAM HUSEIN (2)

saddam6

Saddam dan kawan-kawan menyusun rencana untuk menembak Abdul Karim Qassim pada saat ia lewat di Rasyid street dalam perjalanan dari rumahnya ke markas resminya di Kementrian Pertahanan ketika itu (tahun 1959). Rencana dimatangkan, sebuah kata sandi ditetapkan, segalanya sudah siap. Tapi orang yang ditugaskan mengintip Abdul Karim Qassim telat menyalurkan kata sandi tersebut, sehingga operasi harus ditunda sampai hari berikutnya.

Dua orang bertugas memberondong tempat duduk bagian depan, dua lainnya tempat duduk belakang. Saddam Hussein diperkirakan tak perlu melakukan penembakan terhadap sasaran. Ia hanya bertugas memberikan perlindungan (dengan tembakan!) pada saat konco-konconya itu melarikan diri. Tapi ketika operasi itu berlangsung, Saddam tak mampu menahan diri. Senapan mesin segera ia keluarkan. Berondongan peluru pun segera ia arahkan ke mobil Abdul Karim Qassim. Setelah itu ia lari sambil memuntahkan peluru untuk melindungi teman-temannya yang telah lari lebih dulu. Salah seorang di antara mereka terkena tembakan polisi di dada, Saddam sendiri berlari dengan sebutir peluru menyelusup di kaki kirinya.

Sambil membawa seorang temannya yang sial itu, mereka lari menuju tempat persembunyian milik Partai di ibu kota. Mereka beranggapan bahwa operasi itu telah berhasil dan Abdul Karim Qassim telah terbunuh.

Perdarahan di kaki Saddam makin parah. Karena sangat tidak mungkin untuk pergi ke rumah sakit, Saddam mengambil pisau silet dan menyuruh teman-temannya melakukan pembedahan untuk mengeluarkan peluru. Mereka melakukannya dengan bantuan sebuah gunting dan cairan obat merah!

Ketika malam turun di kota Baghdad, Saddam meninggalkan tempat persembunyiannya untuk pergi ke rumah pamannya yang lain, Latif Talfah. Sang paman mengejutkannya dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana? Abdul Karim sudah mati?” Tahulah Saddam bahwa sang paman telah mengikuti jalannya operasi dari sebuah loteng seorang teman. Saddam mengiyakan seraya mengambil obat untuk mencegah peradangan di kakinya, tanpa memberi tahu luka tersebut kepada pamannya.

Tak lama kemudian tersiar berita bahwa teman-temannya yang membantunya dalam operasi itu telah tertangkap. Berarti, ia harus melakukan sesuatu untuk meloloskan diri. Lubang bekas peluru di kakinya membuatnya berjalan agak pincang. Ini tentu akan menimbulkan kecurigaan petugas keamanan yang memergokinya. Ia bergegas membakar foto-fotonya, lalu meninggalkan rumah sang paman. Ia benar-benar mujur, karena petugas keamanan baru sampai di rumah Latif Talfah seperempat jam setelah kepergiannya.

Saddam bermalam di rumah seorang teman. Esok harinya ia mengganti celana dengan disydasyih (jubah panjang), mengenakan tutup kepala tradisional Arab dan sepasang sepatu tua, mempersenjatai diri dengan sebilah pisau, berbekal uang sebanyak 23 dinar di sakunya. Ia memutuskan untuk keluar dari Baghdad. Tapi dengan cara bagaimana? Saddam berusaha mencari mobil carteran, tapi setelah berbincang-bincang dengan sopirnya, ia merasa tak dapat mempercayai sopir itu. Akhirnya ia berjalan kaki. Tapi lukanya terasa menghambat. Untung ia segera berpapasan dengan seorang penunggang kuda yang bersedia menjual kudanya seharga 10 dinar. Dengan demikian ia dapat berkuda melalui tepian sungai Tigris sampai ke Takrit. Ia membeli rumput untuk kudanya, membeli roti dan kurma untuk dirinya, karena ia sadar akan menempuh perjalanan panjang.

Waktu malam tiba, ia mampir dan minta diijinkan menginap di tempat seorang Badui (Arab dusun). Esoknya ia melanjutkan perjalanan, beristirahat setiap merasa lelah, memberi makan kuda, makan roti dan kurma yang dibawanya. Di malam kedua, ia tidak menemukan tempat untuk menginap. Sambil memegang tali kekang kuda, ia tidur di atas tanah sampai terbit fajar. Malam ketiga, ia sampai di kota Samarra. Ia menemukan sebuah rumah yang tengah menyelenggarakan pesta pertunangan. Seekor domba disembelih untuk upacara itu. Saddam mampir di situ, menikmati makanan lezat gratis sambil menghemat roti dan kurmanya. Lalu tidur di tempat tidur yang nyaman dan aman.

Hari berikutnya, ia melanjutkan perjalanan sambil membawa beberapa buah semangka pemberian seorang petani di lingkungan tempat menginapnya itu. Ini sangat bermanfaat untuk mengusir rasa haus dirinya dan kudanya dalam perjlanan sehari suntuk. Namun baru saja ia mengawali perjalanan hari itu, tiba-tiba dua buah mobil mencegatnya. Para pengendara kedua mobil itu menyuruhnya berhenti, mengancam akan menembaknya jika ia terus berjalan. Saddam tahu bahwa mereka para petugas pabean. Sambil berlagak tak peduli ia memacu kudanya, tapi mereka segera mengepungnya sambil mengacungkan senapan mesin. Saddam menahan kudanya, lalu turun sambil terus berusaha menutupi luka kakinya dengan jubahnya. Ia tahu bahwa orang-orang ini memang tengah mencari dirinya. Karena ia harus berakting sebaik-baiknya untuk mengelabui mereka. Sebelum mereka mendahuluinya dengan suatu pertanyaan, ia menyerang mereka dengan gertakan, “Apa maksud kalian menghadangku seperti ini dan menodongku dengan senapan?”

“Kami mencurigai kau sebagai penyelundup!” jawab mereka.

“Gila! Aku tertinggal oleh kafilahku dan kini sedang berusaha mengejar mereka,” kata Saddam pula. ”Kalau kalian tidak percaya, bawa aku menghadap komanda kalian, untuk membuktikan bahwa kalian telah keliru!”

“Perlihatkan KTP-mu!” kata mereka tak kalah gertak.

“Kalian memang goblok!” bentak Saddam pula. “Orang Badui tak pernah membawa KTP.”

Salah seorang diantara mereka memukulnya. Tentu saja Saddam tahu bahwa membalas adalah tindakan konyol.

Selanjutnya mereka menyuruhnya bersumpah untuk tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa ia sempat dihadang mereka dalam perjalannya. Lalu mereka membiarkannya pergi. Saddam segera memacu kudanya tanpa menoleh kebelakang sedikit pun, demi menghindari kecurigaan mereka.

Dikira Maling

Saddam memasuki sebuah kota yang pernah dimasukinya tahun lalu. Ketika melalui sebuah kantor polisi, ia berusaha tenang dan penuh keyakinan, berjalan sambil memberi salam kepada para polisi di situ. Kemudian ia mampir di sebuah kedai untuk menanyakan bagaimana ia bisa menyebrangi sungai. Harus menggunakan perahu, itulah jawabannya. Tapi seorang pemilik perahu yang dijumpainya tak mau mengantarkannya ke seberang, meski ia menawarkan uang satu-setengah dinar.

“Tidak bisa. Ada jam malam,” kata pemilik perahu itu.

Saddam sudah berfikir untuk memberikan semua uangnya yang tersisa (sebanyak tujuh dinar) untuk membujuk pemilik perahu itu. Tapi ia khawatir hal itu akan membangkitkan kecurigaan. Akhirnya ia bertekad untuk berenang saja keseberang sana. Tapi bagaimana dengan kudanya? Jika dibawanya serta, orang-orang Badui diseberang sana tentu akan curiga pula, mau tak mau sang kuda harus ditinggalkan. Ia membuka pakainnya, mengikatkannya di kepala. Lalu, sambil menggigit pisaunya ia berenang di tengah malam itu, mengarungi air sungai yang dinginnya membekukan. Ketika keletihan menyerangnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk terus bisa berenang sampai di tepi seberang sana; tak ada pilihan lain.

Ia sampai di seberang dengan keletihan luar biasa, dengan gigi bergemeletuk karena dingin. Tak lama kemudian ia mendengar lolongan beberapa ekor anjing di kejauhan. Perlahan ia bangkit dan berjalan ke arah sumber suara anjing-anjing itu, dengan harapan akan menemukan makanan dan penginapan. Saddam yang letih itu mengetuk pintu sebuah rumah. Seorang wanita membukakan pintu. Tapi begitu melihatnya, wanita itu berteriak, “Maling!”

Saddam ingin mengatakan kepada wanita itu bahwa ia seorang pejuang revolusi, bukan maling, bukan perampok. Tapi tentu tidak mungkin menjelaskan keadaan sebenarnya kepadanya. Apalagi dengan gugupnya wanita itu sudah berteriak lagi lebih keras, “Maling! Maling! Bunuh dia!”

Seorang pria keluar dalam keadaan siap memukul Saddam. Saddam berusaha meyakinkannya bahwa ia bukan seorang maling, tanpa menyebutkan latar belakang revolusionernya. Ia bilang, “Kau pikir saya ini bertampang maling?”

Pria itu menelitinya beberapa saat. Lalu terjadilah sebuah percakapan pendek. Saddam berhasil menumbuhkan kepercayaannya. Saat berikutnya ia pun dipersilakan masuk untuk menginap di situ, bahkan api pun segera dinyalakan untuk mengeringkan pakaiannya yang kuyup. (Pakaian yang ia ikatkan di kepalanya ikut basah juga). Tenaganya terasa mulai pulih. Namun ketika ia bangkit untuk berpamitan, tuan rumah yang telah mengundang beberapa anggota sukunya menghadang. “Kau hendak pergi ke mana? Kau baru saja menyeberangi sungai Tigris dengan berenang. Ini pertanda ada sesuatu yang tidak beres. Kami tak akan membiarkan kau pergi sebelum tahu persoalan yang sebenarnya,” kata mereka.

Lagi-lagi Saddam merasa harus bertindak cepat untuk membebaskan dirinya dari situasi yang tidak menyenangkan. Ia mengajukan argumentasi khas Badui yang ia tahu akan dipahami mereka. “Bayangkan, aku baru saja melakukan kejahatan terhadap salah satu musuhku di seberang sana. Bayangkan, bahwa mereka mengejarku ke sini, lalu membunuhku di rumahmu. Apa yang terjadi jika kaumku mengetahui bahwa aku terbunuh di tengah-tengah kalian?” kada Saddam.

Tipu muslihatnya lagi-lagi berhasil. Si tuan rumah berkata, “Benar katamu itu. Tuhan melindungi kita.”

Saddam kemudian mengenakan tutup kepala pemberian salah seorang di antara mereka, yang telah yakin bahwa ia harus pergi untuk meneruskan pelariannya. Ketika itu sudah lewat pukul satu malam dan udara malam dingin tak tertahankan, tapi untuk pertama kalinya ia merasa begitu damai, karena ia tahu bahwa ia hampir sampai di sebuah dusun bernama Oweinat, tempat saudaranya, Adham, bekerja sebagai penjaga di sebuah sekolah dasar. Tak terpikirkan lagi perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai sekolah itu.

Begitu sampai, saudaranya menyambutnya dengan pelukan dan cucuran air mata. Kemudian mereka pergi ke daerah Ouja (al-Awja), menjumpai beberapa famili dan teman.▲

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: