Komedi & Tragedi SADDAM HUSEIN (1)

Awal Tragedi:

Pencaplokan Kuwait


1542Ibarat bisul yang memang sudah matang, Perang Teluk yang dicemaskan seluruh dunia akhirnya pecah pada tanggal 17 Januari 1991. Ribuan pesawat pembom pasukan multina-sional pimpinan Amerika Serikat (AS) mengamuk, menjatuhkan puluhan ribu ton bom di kota kuno yang modern, Baghdad.

Serangan gelombang pertama, konon, kurang mendapat perlawanan berarti. Saddam Hussein dan pasukannya mungkin masih berharap bahwa AS (yang mengirimkan 700.000 ten-tara) dengan para sekutunya tak akan begitu cepat menyerang. Atau, barangkali hal itu merupakan taktik Saddam, agar pihak sekutu mengira Irak tidak berdaya. Buktinya, baru pada serangan gelombang kedua mereka bangkit memberikan perlawanan yang cukup mengagetkan.

Kawasan Teluk pun kian amburadul, bumi Timur Tengah makin panas oleh api perang. Kata-kata kasih-sayang, kemanusiaan, perdamaian dan sebagainya, sudah tak laku lagi. Banyak yang memaki Saddam, tapi tak sedikit pula yang m-ngutuk Bush (senior). Sebuah karikatur karya IPCI (di-muat majalah Panji Masyarakat edisi Januari 1991 tanpa menyebut sumbernya) menggambarkan Saddam Hus-sein sebagai jin, yang segera mengingatkan kita pada kisah Aladin dan lampu wasiatnya, yang juga berasal dari tanah Irak. Separuh badan bagian atas digambarkan jelas, separuh lainnya berupa asap. Bedanya dengan dongeng Aladin, Saddam yang mengenakan tutup kepala khas Arab itu keluar dari sebuah tank yang sudah terlanjur nyelonong ke wilayah Kuwait.

Dengan mata mendelik, kumis hitam tebal, Saddam menatap seorang pria Badui (Badwi, Arab dusun) yang tengah menuntun unta. “Mana arah ke Jerusalem (ibukota Israel)?” hardiknya.

Sang Badui, dengan tampang gugup, menunjuk ke belakang, “Oh! An-da salah arah; kembali lah!” katanya.

Karikatur itu, secara lugas mewakili pandangan yang menilai Saddam telah salah langkah. Musuh arab ada-lah Israel. Kalau memang Saddam i-ngin menghantam Israel —seperti yang sering digembar-gemborkannya, mungkin untuk menarik simpati masyarakat Arab, khususnya Palestina— mengapa ia harus melindas Kuwait dulu? Saddam pasti tahu bahwa arah ke Israel berlawanan dengan arah menuju Kuwait. Tapi, agaknya, Saddam memang mempunyai logika yang rumit, serumit permasalahan Timur Tengah itu sendiri. Menyelesaikan soal yang rumit harus dengan cara yang rumit pula! Itulah, barangkali, jalan pikiran Saddam.

Namun, akibatnya, 28 negara menentangnya, dan selanjutnya menghujani negaranya dengan bom. Di antara ke-28 negara tersebut, terdapatlah tiga raksasa militer dunia, yaitu Amerika, Inggris, dan Prancis, yang kesemuanya siap mengerahkan segala kemampuan mengatur strategi dan taktik perang, serta tak sungkan-sungkan menggunakan teknologi mutakhir yang berdaya rusak dan berdaya bunuh luar biasa.

Karikatur lain (di majalah Jakarta Jakarta edisi edisi 11-17 Agustus 1990) menggambarkan Saddam tengah menunggangi Emir Kuwait, dihadang seorang cowboy (George Bush) yang siap mencabut pistol. Jagoan bertemu jagoan, itulah makna yang tersirat dari karikatur tersebut.

Konon, mayoritas bangsa Arab menganggap Saddam Hussein pahlawan. Bukan hanya orang-orang Palestina yang selama puluhan tahun kehilangan tanah air karena dirampas Israel, tapi juga rakyat Turki dan Pakistan, yang diperintah oleh orang-orang yang anti Saddam. Mereka mengeluelukan Saddam sambil mengutuk Bush (senior). Sekitar 500 sukarelawan Bangladesh mengacung-acungkan senapan kayu dan senapan mesin, berpawai ke seluruh kota Dhaka, membawa gambar Saddam Hussein.

Sebuah laporan dari Yordania, negara kecil yang kian terjepit di antara Irak dan Israel, menyebutkan bahwa terdepaknya Sheikh Jabir Ahmad As-Sabah dari tahta Kuwait hanya menyedihkan sedikit orang Arab. Kebanyakan mereka membencinya, karena sang Emir dan keluarganya cenderung mengeruk kekayaan negara (minyak) demi memperkaya diri sendiri. Di AS dan Eropa terjadi pula unjuk rasa, walau bukan untuk mengidolakan Saddam, tapi untuk mengutuk perang.

Saddam Hussein, tak pelak lagi, bakal mengukir sejarah. Tidak cuma sejarah Timur Tengah, tapi juga sejarah dunia. Lebih-lebih lagi karena setelah perang tahun 1991 yang cuma dihentikan lewat gencatan senjata itu, kemudian dilanjutkan Bush junior dengan bumbu dendam keluarga yang tak terpadamkan.

Ya. Setelah gencatan senjata selama 12 tahun, perang itu dimulai kembali pada tanggal 20 Maret 2003, dengan sebuah bombardemen yang disebut sebagai “serangan malam jahanam”, dan —kita berharap—Saddam menyambut serangan Bush walau dengan persenjataan yang kurang namun dengan kesiapan mental dan strategi yang telah dipupuk selama 12 tahun itu.

Namun, kota Baghdad yang dijanjikan Saddam bakal menjadi neraka bagi agresor, kenyatannya  malah menjadi ‘sorga’ bagi mereka. Para agresor itu memasuki Baghdad yang sepi dari para pejuang Irak. Saddam beserta para orang dekatnya menghilang seperti jin Aladin yang dimasukkan ke dalam botol, dan botolnya dibuang ke dalam kegelapan di dasar lautan. Hingga beberapa hari sebelum saat itu, ratusan warga sipil dan tentara Irak, juga ratusan tentara koalisi telah menjadi korban. Berbagai kota, ter-masuk Baghdad yang jadi target utama, sudah mengalami kerusakan parah. Tapi Saddam, yang sejak serangan hari pertama diperkirakan Bush sudah mati, ternyata masih hidup dan terus memimpin tentaranya. Bush kemudian menyebarkan isyu baru bahwa Saddam lari ke Suriah; selain untuk menjatuhkan moral prajurit Irak juga untuk menyeret Suriah terlibat dalam perang, supaya AS punya alasan untuk terus bercokol di Timur Tengah. Hal itu ditegaskan antara lain melalui mulut menlu AS Collin Powell, yang mengatakan bahwa Suriah yang terletak di sebelah barat Irak akan menerima konsekuensi (hukuman) berat bila mereka tidak berhenti megirim bantuan pada Irak.

Tapi, seperti ditulis harian Rakyat Merdeka, Suriah (Syria) bukan negara bermental tempe. Alih-alih merasa gentar karena ancaman AS, mereka malah balik menantang. “Presiden Amerika, George W. Bush bermata rabun, sehingga tidak bisa melihat dunia dengan benar. Rakyat Suriah akan membantu Irak mengusir Amerika dari negeri Arab!” kata menlu Suriah, Farouk Al-Sharaa, di depan para anggota parlemen negaranya (31/3/03).

Tapi, menlu Suriah itu pun agaknya cuma ngomong kosong. Kenyataannya Irak dibiarkan sendiri menghadapi musuh-musuhnya, bahkan sampai kini tetap dibiarkan dalam cengkeraman mereka. Dan, Saddam sendiri akhirnya harus mengalami nasib tragis, mati dihukum gantung.

Pemberontak Dari Takrit

Berbicara tentang Saddam Hussein tak bisa lepas dari Partai Baath yang dipimpinnya. Bagi Saddam, Baath adalah jiwa bangsa Arab. Kendati partai ini sebenarnya diilhami Mar-xisme, Saddam menarik garis pemisah antara Baath dan Marxisme. Saddam yakin, hanya dengan menjadi Baath bangsa Arab bisa bersatu. Uniknya, Saddam mengatakan bahwa tidak semua orang Arab harus menjadi anggota Partai Baath, bahkan orang-orang Arab yang menentangnya juga, selagi masih memiliki jiwa nasionalis, adalah orang Baath. Pemikiran itu mungkin timbul dari pemahaman Saddam tentang makna kata baath (ejaan Indonesia: ba’ats/بعث) yang berarti kebangkitan. Kebangkitan bangsa Arab berarti kebangkitan nasionalisme mereka, sehingga mereka siap melawan dominasi bangsa-bangsa asing.

Begitu lah, mungkin, pemikiran Saddam. Dengan begitu, Partai Baath hanyalah salah satu sarana untuk membangkitkan dan menajamkan nasionalisme Arab. Dengan menjadi pemimpin Partai Baath, mungkin Saddam menganggap dirinya lokomotif kebangkitan tersebut. Tapi, ternyata, orang-orang Arab pun banyak yang berpikir demikian.

Saddam (aslinya shaddãm/صدّام) hampir berusia delapan tahun ketika gerakan Baath Arab tumbuh menjadi sebuah partai di Damaskus, Suriah. Setua itu, Saddam belum mengenyam pendidikan formal apa pun, karena ia dikehendaki untuk menjadi petani seperti halnya semua anggota keluarganya. Suatu malam, ketika semua orang di rumahnya tertidur lelap, Saddam menyelinap ke luar, melarikan diri. Ia berjalan menerobos kegelapan, dan baru berhenti di suatu daerah tempat anggota keluarganya yang lain bekerja. Mereka kaget melihat kemunculannya yang tiba-tiba, tapi segera memahami ketika bocah nakal itu menerangkan bahwa ia sengaja lari karena ingin masuk sekolah di Takrit (ada juga yang menulisnya Tikrit).

Saddam kecil mendapat dukungan besar dari para anggota keluarganya itu. Mereka mengantarnya naik mobil menuju kota kecil Takrit, seraya membekalinya sepucuk pistol untuk menjaga diri! Di Takrit, sebuah kota di tepi sungai Tigris, sekitar 175 km (ada pula sumber yang menyebut 160 km) dari Baghdad, ia disambut oleh anggota keluarganya yang lain, yang menghormati tekadnya untuk bersekolah. Buku “ Di balik Wajah Saddam” (A.H Shahab)yang seolah ditulis hanya untuk membongkar keburukan Saddam, menyebutkan bahwa di kalangan teman teman sekolahnya Saddam dikenal sebagai tukang pukul dan tukang gretak terhadap yang lemah.

Pada umur 16 tahun ia memimpin kelompok gang jalanan. Pada umur 18 tahun Saddam pindah ke Baghdad, lebih banyak menaruh perhatian pada aksi-aksi revolusioner, mondar-mandir di jalan raya dengan pistol gelap (ilegal) di bawah kemejanya, ketimbang menaruh perhatian pada pelajaran sekolahnya.

Menurut buku “ Saddam hussein The Man, the Cause and the Future” (Fuad Mattar), Saddam pindah ke Baghdad bersama paman dari pihak ibunya setelah setahun tinggal dan sekolah di Takrit. Khairallah Talfah, sang paman, mengurusnya sebagi anak sendiri. Sumber lain menyebutkan nama sekolah-sekolah yang dimasuki Saddam di Baghdad adalah Al-Karkh dan Al-Qasr Al-Aini. Tapi yang jelas, Saddam masih murid Sekolah Menengah ketika bergabung dengan Partai Baath. Di sekolah Saddam bergaul dengan teman-teman yang umumnya aktif dalam gerakan kebangsaan.

Matang di Penjara

Saddam telah menganggap dirinya nasionalis sejak mendengar penuturan ibunya tentang perjuangan pamannya melawan Inggris dimasa revolusi yang dipimpin Rasyid Ali Kaylani di bulan Mei 1941. Banyak anggota keluarganya yang dibunuh, dan yang rumah-rumahnya dibakar Inggris. Para nenek-moyangnya sendiri adalah pejuang-pejuang gigih melawan Turki. Dengan latar belakang itu, Saddam Husein menjadi sangat peduli terhadap imperialisme Inggris, dan ia tahu bahwa pemerintahan di negaranya pada saat itu masih menjadi tawanan bagi kehendak kaum imperialis. Karena itu ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Keputusan itu makin diperkuat oleh suatu kejadian setelah revolusi 1958. Seorang pejabat di Takrit terbunuh. Pihak berwajib di Takrit menuduh Saddam sebagai pelaku pembunuhan itu dan menjebloskannya ke penjara. Di masa itu pengadilan Mahdawi, yang dibentuk oleh Abdul Karim Qassim setelah revolusi 1958 (ia menjadi presiden republik Irak setelah menggulingkan Raja Faisal II, Raja Irak terakhir), menebarkan teror di hati rakyat. Seseorang yang dihadapkan ke pengadilan Mahdawi sudah pasti dijatuhi hukuman mati. Saddam yang menjadi anggota Partai Baath pada tahun 1957 (di usia 20 tahun), mendapati bahwa prinsip-prinsip partai itu cocok dengan cita-cita nasionalisnya. Di penjara Saddam bertemu dengan beberapa teman separtai. Mereka segera menyatu. Anehnya, dalam perbincangan sehari-hari mereka lebih banyak mempercakapkan nasib teman-teman di luar penjara daripada nasib mereka sendiri, karena kampanye perburuan dan pelenyapan manusia oleh rezim Abdul Karim Qassim merajalela. Mereka yang lolos dari kematian tidak luput dari hajaran. Bagusnya, Saddam Husein dan kawan-kawan bisa berbaik-baik dengan beberapa sipir penjara. Bahkan demi menyelamatkan kawan-kawan seperti dari pembantaian rezim berkuasa, mereka membujuk para petugas itu untuk memenjarakan rekan-rekan separtai yang masih di luar. Bagaimanapun, penjara lebih aman bagi mereka. Dengan demikian, sejumlah anggota Partai Baath masuk penjara. Berhari-hari mendekam di sel di saat siang, lalu keluar di malam hari untuk melakukan berbagai kegiatan, dan segera kembali ke sel sebelum matahari terbit. Atas desakan nasional akhirnya Saddam Husein dibebaskan. Di luar penjara ia segera menerima informasi bahwa Partai membutuhkan tenaganya di Baghdad. Ia berangkat ke ibu kota dari Takrit. Begitu sampai teman-temannya separtai langsung mengajukan tawaran kalau-kalau ia berhasrat menbunuh Abdul Karim Qassim. Karena menganggap bahwa tawaran itu satu kehormatan baginya, ia menerimanya. ▲

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: