Pelacur = Pembawa Berkah (?)

hidung-belang

Tempo 21 September 2005, dalam rubrik tempo doeloe, memuat arsip berita dari koran Bintang Batavia 21 September (sayang tak disebut tahunnya) berjudul Roemah Bordil, dengan isi berita:

“Di Sawah Besar, Sentiong, ada satoe toean C. kabarnja piara banjak prempoean djahat jang tida masoek peperiksaan sama dokter. Apa boeat boeka roemah begitoe soedah diidjinkan oleh politie? Kaloe tida ada soerat permisie, heran sekali politie tida taoe dan tida maoe larang, soepaja djangan didjadiken teroes itoe pekerdjahan, soepaja banjak toean toean atau bangsa lain lain djangan sampe dapet tjilaka sakit, kalo kena sama itoe orang-orang prempoean djahat.’

Kendati tahun kejadian lupa dicantumkan pengutip berita (Jojo Raharjo), kita tahu bahwa kejadiannya berlangsung di zaman penjajahan Belanda. Mereka yang disebut sebagai politie (polisi) dan toean-toean (tuan-tuan) juga tentu orang-orang Belanda belaka. Jadi, satu sisi, bila politie tidak melarang keberadaan roemah begitoe (rumah bordil), mungkin karena ada faktor ewuh pakewuh dari politie menghadapi toean-toean yang mungkin berkedudukan terhormat dalam strata masyarakat penjajah sendiri. Dan coba pula perhatikan inisial pemilik rumah bordil, yang juga kemung-kinan merupakan singkatan dari nama orang Belanda, bila bukan orang Cina.

Di sisi lain, dan ini yang menarik, ternyata yang menjadi sasaran kutukan di sana adalah para wanita pelacur yang bekerja di rumah bordil itu, yang jelas disebut sebagai wanita jahat.

Mengapa mereka disebut penjahat? Karena, tentu, mereka bekerja sambil menyebarkan tjilaka sakit (penyakit) kepada tuan-tuan yang memakai jasa mereka. Selain itu, merekalah yang menjadi penyebab tuan-tuan itu berkhianat kepada istri masing-masing.

Jelas, pengertian jahat di sini sangat bias, bahkan terasa betapa orang yang menggunakannya punya hati yang culas. Maka layak sekali bila Titiek Puspa melalui lagunya yang berjudul Kupu-kupu Malam mengajukan pertanyaan, “Dosakah yang dia lakukan? Sucikah mereka yang datang?”

Bila pertanyaan itu diajukan kepada penulis berita di atas, atau kepada masyarakat sezamannya, jawabannya jelas senada dengan isi berita di atas. “Yang dilakukan pelacur – menjual diri itu – adalah dosa. Sedangkan meraka yang datang adalah suci, setidaknya dari tuduhan sebagai penyebab terjadinya perzinaan. Cap buruk bagi mereka hanyalah berupa makian sebagai “lelaki hidung belang”, dengan belang yang sama sekali tidak kelihatan pada hidung mereka.

Tapi itulah masa lalu. Seiring perkembangan zaman, posisi wanita pelacur dalam masyarakat semakin membaik, meski tetap terpuruk di lubang yang sama. Bila di zaman Belanda mereka disebut penjahat, di zaman merdeka mereka naik pangkat menjadi WTS alias wanita tuna susila (= wanita tak bermoral!), naik lagi menjadi peramu nikmat, wanita penghibur, dan seterusnya, sampai sekarang sebutan yang sering digunakan bagi mereka adalah pekerja seks komersial.

Sebutan pekerja seks bagi wanita pelacur tentu telah meningkatkan posisi mereka dalam masyarakat, karena pekerjaan mereka telah diakui sebagai sebuah profesi. Seiring dengan itu, otomatis dunia esek-esek pun telah diresmikan sebagai lahan pekerjaan baru, yang tentu bisa menampung banyak tenaga kerja. Sungguh, peningkatan derajat wanita pelacur dalam masyarakat telah membawa berkahh bagi profesi-profesi yang berkaitan, mulai dari germo, tukang pukul, satpam, tukang antar-jemput, penjual obat kuat dan penangkal penyakit kelamin, penjual minuman keras, dan lain-lain.

Dan jangan lupa, profesi mereka juga ternyata mampu membuat penerbit buku mengeruk untung dan sejumlah nama penulis melambung.

Namun, sehebat apa pun peran wanita pelacur dalam bidang ekonomi, sosok wanita pelacur sebagai penjahat agaknya tak akan pernah hilang, terutama karena tuduhan demikian itu akan selalu dilontarkan oleh sesama wanita sendiri, yang merasa kesetiaan suami mereka telah dirampas dan harus kena tjilaka sakit lahir-batin karena lelaki yang terjerat rayuan wanita sundal. Begitulah agaknya wanita. Sebagai pelacur atau istri, selalu saja menguntungkan laki-laki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: