Demi Kesehatan, Kecantikan, Keunggulan Kepribadian: Biasakanlah Membaca!

Tuntutlah ilmu mulai dari WC (?) sampai ke liang lahad.

Tuntutlah ilmu mulai dari WC (?) sampai ke liang lahad.

0902

Jos Usin, penulis buku Pernafasan Untuk Kesehatan yang terbit pertama kali tahun 1971, dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, mengatakan bahwa kegiatan membaca sangat bermanfaat bagi paru-paru, karena dapat menampung (memasukkan) sejumlah besar zat asam. Tapi membaca yang dimaksud bukanlah membaca sambil duduk dengan mulut tertutup rapat, tapi membaca dengan ‘mendramatisasi’ bacaan; yaitu membaca dengan cara para pemain drama (sandiwara) membaca naskah cerita (skenario) yang akan mereka mainkan di panggung.

Seperti yang ditulis Josis Siswojo dalam harian Indonesia Raya, yang dikutip Jos Usin dalam buku tersebut, kegiatan membaca yang menyehatkan itu adalah membaca dengan suara keras dan sambil berdiri. “Pegang kertas tinggi-tinggi, atau letakkan di meja yang agak tinggi. Kalau dapat di muka cermin, lebih baik. Cobalah menjiwai apa yang sedang dibaca dengan lantang. Misalnya kalau membaca tentang ilmu pengetahuan, bersikaplah seperti seorang guru. Kalau baca teks pidato, cobalah berlagak seperti orator yang baik. Atau membaca tokoh dalam buku sastra, usahakanlah menghidupkan peranan tersebut dari suara dan gerak gerik anda. Pendeknya, jiwailah apa yang anda baca.” Demikian tulis Josis Siswojo.

Dikatakan pula oleh Josis Siswojo bahwa membaca secara demikian itu tidak mudah, apa lagi bagi yang tidak gemar membaca. Tapi, bila dilakukan, cara membaca demikian itu akan memberikan manfaat seperti olahraga, terutama bagi otot wajah, supaya tetap elastis (kenyal) dan segar. Bagi paru-paru dan perut, tak kurang pula manfaatnya. “Mengapa mereka yang berlatih beladiri harus berteriak?” tanya Josis Siswojo. “Supaya paru-paru berkembang. Alhasil lebih banyak mengisap udara,” jawabnya.

“Suara keras memerlukan tekanan otot perut yang keras pula, hingga timbal baliknya otot perut akan lebih kuat serta baik bentuknya (lihat para pemimpin yang suka berpidato keras-keras tidak ada yang gendut),” katanya. Di samping manfaat-manfaat jasmani, sudah pasti dengan membaca kita bisa menambah pengetahuan, dan mematangkan kepribadian, dan membuat kita bisa tampil lebih baik dalam pergaulan.

Disadari atau tidak, kata Josis Siswojo, pengetahuan yang kita peroleh dari bacaan pasti terbawa-bawa dalam pembicaraan dan pergaulan. Kita akan pandai mengemukakan pendapat, fasih berbicara secara puitis ataupun ilmiah. Bahkan bila sangat rajin, kita pun bisa menjadi brilliant conversationalist (pembicara yang piawai), yang tentu akan disenangi dalam pergaulan.

Membuat wanita tambah menawan

Tulisan Josis Siswojo dalam harian Indonesia Raya itu sebenarnya ditujukan pada kaum wanita yang ingin tampil menarik. “Untuk menjadi terkenal dalam pergaulan, atau memperoleh banyak peminat kaum pria, biasanya wanita bermodalkan wajah yang cantik. Syukur kalau disertai tubuh yang indah,” katanya. “Tapi kenyataannya, tidak selalu yang cantik dan montok saja yang menarik hati kawan-kawan. Banyak kita lihat, wanita yang kurang cantik atau kurang bergaya, bahkan lebih menawan. Apa rahasianya?” Ternyata rahasianya adalah berlatih membaca seperti tersebut di atas. Lebih jelasnya, simaklah kutipan di bawah ini.

“Pengetahuan umum yang luas memungkinkan anda mampu menghadapi masalah hidup yang pelik-pelik. Dengan kata lain, kepercayaan pada diri sendiri bertambah besar, yang dicerminkan dengan keagungan. Anda menjadi seorang ibu yang bijaksana, kekasih yang tak terlupakan, istri yang cermat. Anda mempunyai kepuasan spiritual (jiwa) sehabis berlatih. Latihan tersebut tak ubahnya seperti latihan bagi aktris panggung. Ketegangan-ketegangan jiwa yang dialami sebelum latihan membaca, mungkin tersapu oleh latihan ini. Hasilnya, ketenangan jiwa. Dan ketenangan jiwa membuat orang awet muda. Itulah antaranya faedah gemar membaca. Sekiranya ada yang bersedia mengupas faedah membaca, mungkin sejilid buku tebal pun tidak cukup. Kepada wanita tua dan muda yang ingin menarik kepribadiannya, kami anjurkan mencoba resep ini. Dan lebih baik lagi bila kebiasaan membaca pun diturunkan kepada anak-anak.

(1) Bacalah, ini cerita lucu! (2) Hi hi hi, aku udah geli sebelum membaca!

(1) Bacalah, ini cerita lucu! (2) Hi hi hi, aku udah geli sebelum membaca!

Daya tariknya jauh lebih memukau dari parfum atau kosmetik yang mana pun juga.”

Membentuk kepribadian tertentu

Josis Siswojo hanya menganjurkan untuk memilih bacaan yang berisi pengetahuan ringan, berbau sastra atau hiburan bermutu, atau koran. Anjuran itu baik, bila kegiatan membaca itu hanya ditujukan untuk meraih manfaat-manfaat kesehatan badan dan jiwa secara umum. Tapi tidak bisakah kegiatan membaca yang bermaanfaat demikian hebat itu diarahkan untuk tujuan yang lebih serius, yaitu untuk membentuk sebuah kepribadian tertentu?

Kepribadian (jati diri) setiap orang ditentukan oleh masukan (input) yang diterimanya secara terus-menerus sejak dilahirkan hingga usia dewasa. Manusia, dalam usia dewasa, umumnya telah memiliki kepribadian yang ‘matang’. Tapi matang di sini belum tentu berarti baik. Matang di sini lebih ditujukan pada kenyataan bahwa setelah mencapai usia dewasa, seorang manusia biasanya telah memiliki bentuk kepribadian tertentu yang mapan, alias sulit berubah. Kemapanan itu tentu bukan masalah, bila yang terbentuk adalah kepribadian yang ‘baik’. Tapi bagaimana bila yang terbentuk adalah kepribadian yang buruk? Apakah hal itu harus dianggap sebagai keterlanjuran yang harus dibiarkan?

Kepribadian secara keseluruhan memang terbentuk secara evolusi (perlahan dan bertahap). Tapi, seperti dikatakan Sigmund Freud, dalam susunan kepribadian manusia terdapat satu unsur dominan yang disebut super ego, yaitu akal yang cenderung setia pada norma (hukum) yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata lain, dalam istilah Al-Qurãn, super ego itu adalah nafsul-muthma’innah. Super ego, yang dipandu hukum, itulah yang mengendalikan id (naluri; syahwat, nafsu) seseorang, sehingga ego (aku; diri) orang itu hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bertentangan dengan hukum. Dalam konteks kebudayaan, super ego itu adalah worldview alias pandangan hidup.

Bila secara keseluruhan kepribadian terbentuk secara evolusi, sehingga melahirkan kebiasaan dan kegemaran (hobi) seseorang, super ego adalah unsur yang tidak sulit menyesuaikan diri dengan keadaan atau kebutuhan. Dengan kata lain, keadaan super ego bisa berubah, bahkan bisa berubah secara revolusi (cepat). Dan tentu saja, perubahan keadaan super ego akan membawa perubahan pula pada kepribadian secara keseluruhan. Pendidikan versi Allah Pendidikan yang dilakukan Allah melalui para rasul adalah pendidikan revolusioner, karena yang menjadi sasarannya terutama dalah super ego itu. Dengan kata lain, pendidikan dipusatkan pada pengubahan pandangan hidup secara revolusioner (cepat dan drastis). Dengan cara apa? Dengan cara pemberian wahyu secara bertahap dan terencana (pragmatis dan taktis).

Ingat pepatah Barat yang mengatakan life begin at forty? (hidup dimulai pada usia 40)? Landasan mereka, mungkin, adalah teori psikologi yang mengatakan bahwa manusia mencapai kedewasaan sebenarnya ketika mencapai usia 40 tahun. Dan ternyata Allah menurunkan Al-Quran kepada Muhammad bin Abdullah pada saat beliau berusia sekitar 40 tahun. Pada saat itulah, melalui penurunan wahyu, Allah melakukan perombakan total atas kepribadian Muhammad bin Abdullah.

Yang menarik, seiring dengan penurunan wahyu ”dari atas” (Allah-Malaikat-Rasul), Allah juga mewajibkan para mu’min untuk melakukan ritual bernama Shalat.

Apa keistimewaan ritual shalat? Khusus dalam konteks pengubahan dan atau pembentukan pandangan hidup, shalat memainkan peran teknis yang sangat efektif. Namun dengan catatan bila bacaan-bacaan shalat – khususnya Al-Quran mulai dari surat Al-Fatihah dan disusul surat-surat atau ayat-ayat lain – dipahami dengan baik. Bila tidak, yang bakal terjadi adalah sesuatu yang ’mengerikan’. Sudah capek melakukan shalat, seumur hidup, eh hasilnya malah celaka! (Surat Al-Ma’un).

0316

Advertisements
Comments
One Response to “Demi Kesehatan, Kecantikan, Keunggulan Kepribadian: Biasakanlah Membaca!”
Trackbacks
Check out what others are saying...


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: