Bantahan Untuk Ahmad Husnan (Tentang Al-Quran Bahasa Arab)

Sehari setelah pemuatan tulisan berjudul “Berita Tentang Isa Bugis 23 Tahun Lalu”, saya (pemilik blog ini) menerima email yang berisi bantahan terhadap isi tulisan tersebut. Selengkapnya adalah sbb:

 

Teori Ahmad Husnan

Dalam majalah al-Muslimun edisi Oktober 1990, Ahmad Husnan menulis bantahan terhadap teori Isa Bugis di atas, yang secara ringkas sebagai berikut:

1.   Bahasa al-Qur’an berbeda dengan bahasa di luar al-Qur’an karena ketinggian uslub, balaghah, dan ma’ani dan lain-lainnya, karena Qur’an adalah Kalamullah, Khaliqul makhluq.

2.   Isa Bugis menggunakan sebutan “Bahasa Nur” untuk bahasa al-Qur’an, tanpa dalil untuk menamakan demikian. Anehnya, hal ini oleh Isa Bugis dinamakan al-Qur’an menurut Sunnah Rasul, yang kenyataannya tidak ada pada keduanya.

3.   Semboyan al-Qur’an menurut Sunnah Rasul hanya produk yang diciptakan Isa Bugis sebagai kamuflage untuk memutar-balikkan isi al-Qur’an dan as-Sunnah dengan jalan mentakwil yang semestinya tidak perlu dilakukan demikian. Itulah tafsir dan Fiqh ala Isa Bugis

4.   Berdasar hukum takwil menurut kajian ilmu Ushul fiqh, takwil harus ditolak apabila tidak ada dalil yang menguatkan. Sedangkan Firman Allah Qur’anan ‘arabiyyan dengan diartikan menurut dhahir-nya sudah tepat.

5.   Apabila dikatakan bahasa al-Qur’an serumpun atau sekeluarga dengan bahasa Arab, mana ayat al-Qur’an yanag menyatakan demikian?

6.   Bagi Isa Bugis akal menjadi penentu. Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul dijadikan sandaran sebagai kamuflage. Maka hakikat yang dapat dilihat, akal lebih berperan dari dasar al-Qur’an dan  as-Sunnah itu sendiri.

7.   Qur’anan Arabiyyan oleh Isa Bugis disamakan dengan bilisani qaumihi, yang diartikan bahasa al-Qur’an yang serumpun/sekeluarga dengan bahasa Arab. Tafsiran seperti ini menunjukkan adanya cara berpikir yang masih dangkal. Perlu dimaklumi bahwa pengertian bi lisani qaumihi itu memiliki pengertian yang lebih luas, bukan terbatas pada bahasa Arab saja. Sedangkan Qur’anan ‘Arabiyyan yang dimaksud bukan di luar bahasa Arab.

8.   Apabila al-Qur’an bukan bahasa Arab, dengan bahasa apa kita harus memahaminya? Mungkinkah al-Qur’an itu dapat dipahami dengan bahasa selain bahasa Arab?

9.   Apabila bahasa al-Qur’an itu bahasa Nur atau bahasa al-Qur’an, mana dalilnya? Kepada siapa kita harus berguru untuk mempelajari bahasa Nur?

10. mengapa Isa Bugis menyusun Tata Bahasa al-Qur’an memakai huruf Arab, tasrif dan wazan menurut rumusan bahasa Arab? Bukankah ini hanya sebagai kamuflage untuk menghancurkan islam dari dalam dengan otak-atik dan pemutar-balikan tidak jujur? Ingat al-Qur’an diturunkan bukan berbentuk tulisan.

11. Apabila benar al-Qur’an bukan bahasa Arab, kenapa para sahabat langsung paham saat diseru Nabi dengan al-Qur’an? Kenapa Umar paham langsung al-Qur’an yang dibaca adiknya? Sudahkan Umar belajar bahasa Nur?

 

Butir-butir bantahan Ahmad Husnan terhadap teori Isa Bugis cukup lengkap mewakili pandangan umum tentang al-Qur’an. Suatu pandangan yang sesungguhnya semput tapi dirasa sebagai benar. Maklum, ibarat kataak dalam tempurung. Dianggapnya dunia ini hanya sebesar tempurung yang mengurung dirinya. Coba dia mau keluar dari tempurungnya, dia akan melihat betapa luasnya alam ciptaan Allah ini.

Bila dia mengatakan bahwa perbedaan bahasa al-Qur’an dengan bahasa di luar Qur’an karena ketinggian uslub (gaya bahasa), balaghah (sastra/keindahan/kejituan bahasa), dan ma’ani (retorika), apakah yang hendak dicapai Allah dengan segala kelebihan bahasa al-Qur’an itu? Tentu untuk menegaskan makna. Bila yang menyebut hal-hal di atas itu memang merasa paham betul dengan apa yang disebutkannya, semestinya mereka mampu memaparkan makna al-Qur’an dengan sejelas-jelasnya kepada masyarakat awam. Bila tidak mampu berbuat demikian, maka penyebutan segala keunggulan bahasa al-Qur’an itu hanyalah kamuflage (kedok) untuk menutupi ketidakpahaman mereka. Mereka cuma ngomong kosong untuk menakut-nakuti orang yang ingin mempelajari al-Qur’an tanpa melalui jalur mereka.

Bila mereka menuntut Isa Bugis mengajukan dalil untuk istilah “Bahasa Nur’ bisakah mereka juga mengajukan dalil untuk ilmu tauhid, fiqh, tasawuf dan ilmu-ilmu lain yang mereka ciptakan, yang tidak ada di zaman Nabi?

Bila Isa Bugis dituduh memutar-balikkan isi al-Qur’an, lalu apa yang mereka lakukan selama ini dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang membuat umat jauh dari al-Qur’an? Demikian jugta soal takwil. Siapakah yang berwenang menentukan boleh tidaknya melakukan takwil? Para ulama atau Allah sendiri (melalui berbagai qarinah yang dapat dijumpai dalam al-Qur’an?) Isa Bugis memang mengajarkan tafsir dan fiqh sendiri. Tapi untuk mengatakan tafsir dan fiqihnya salah bukanlah dengan menggunakan tafsir dan fiqih yang sudah lebih dulu ada, yang semua merupakan karya manusia yang berdarah dan berdaging seperti Isa Bugis. Ukuran benar salahnya suatu teori adalah kenyataan yang diteorikannya. Dalam hal tafsir, kenyataan itu adalah al-Qur’an. Tafsir yang benar harus lah tafsir yang mengungkapkan keadaan al-Qur’an yang sebenarnya, bukan tafsir yang disepakati benar oleh orang-orang (ulamna) yang sebenarnya mereka sendiri tidak pernah bersepakat.

Benarkah pula bahwa qur’aanan arabiyyan sudah tepat dengan diartikan secara dhahir-nya saja? Dapatkah pengertian dhahir itu menjawab pertanyaan : “Bila al-Qur’an berbahasa Arab, bahasa Arab mana yang dimaksud?” Apakah salah satu bahasa Arab yang ada di Timur Tengah, atau semua yang ada itu digunakan untuk “mengeroyok” Qur’an?

Bila Isa Bugis menyebut bahasa al-Qur’an serumpun/sekeluarga dengan bahasa Arab, apakah perlu dalil dhahir dari al-Qur’an dan Hadits? Apakah ilmu tauhid, fiqh, tasawuf, dan sebagainya juga punya dalil dhahir? Apakah bila ahli sejarah menyebut Muhammad putra Abdullah bin Abdul Muthalib juga perlu dalil dhahir? Sesungguhnya, tuntutan itu hanyalah kamuflage dari ketidak-pedulian mereka akan kaitan bahasa dengan antropologi, sehingga cara mereka memahami bahasa pun jadi begitu dangkal.

Isa Bugis dituduh menjadikan akal sebagai penentu. Lalu apa sebenarnya yang harus menentukan di dalam memahami agama? Apakah memahami itu berarti harus manggut-manggut saja terhadap segala kata ulama yang kadang sulit dimengerti? Mengapa Allah menempatkan akal (otak) di dalam kepala dan bukan di dengkul? Mengapa Qur’an berkali-kali menegur orang-orang yang tidak menggunakan akal? Adakah satu dalil saja dalam al-Qur’an yang menandakan bahwa Allah dengan menurunkan Qur’an itu berarti memperkosa akal manusia?

Kemudian bila Isa Bugis menyamakan qur’aanan  ‘arabiyyan dengan bi lisani qaumihi, perlu dicatat bahwa landasannya adalah antropologi, bukan pengertian harfiah. Di sini sebenarnya Isa Bugis mengajukan suatu lapangan pengkajian yang menantang mereka berpikir luas. Bila kita menyebut “kaum Muhammad” misalnya, siapakah yang dimaksud dengan “kaum” ini?

Kata qaum bisa menyatakan kesamaan suku, bangsa, atau ras. Dari segi ini saja kita bisa mengajuikan pertanyaan: Suku Muhammad itu apa? Apakah Muhammad itu asli bangsa Arab? Bukankah ia anggota suku Quraisy? Bukankah Quraisy itu musta’rabah alias bukan Arab pribumi?

Istilah qaum juga bisa menyatakan kesetaraan derajat atau korp. Bila kita menyebut “kaum cendekiawan”, maka para cendekiawan dari berbagai sauku dan ras tercakup di dalamnya. Begitu juga kalau kita menyebut “kaum miskin” dan sebagainya. Tentu juga bisa begitu ketika kita menyebut “kaum nabi Muhammad”. Artinya, “kaum Nabi Muhammad” itu bisa berarti “suku/ras Muhammad”, bisa juga berarti “golongan/korp Muhammad sebagai Rasulullah”. Dalam pengertian yang pertama, yang termasuk kaum Muhammad itru adalah Abu Bakar, Abu Jahl, Abu Sufyan, dan seterusnya. Bilal tidak masuk ke dalamnya, akrena ia orang Habsyi! Salman al-Farisi pun tidak masuk ke dalamnya, karena ia orang Persia (Iran)! Tapi dalam pengertian  yang kedua, “kaum nabi Muhammad” adalah para Rasul Allah, mulai dari Adam sampai Muhammad. Pengertian ini lah yang diajukan Isa Bugis. Perlu dalil? Tidak ada dalil dhahir memang. Tapi bila kita gunakan akal, dalam Qur’an banyak sekali isyarat ke arah itu! Ingat sebagai kitab yang ber-uslub, balaghah, dan ma’ani tinggi, Qur’an juga “menyembunyikan” banyak dalil, yang hanya akan terbaca oleh orang yang akalnya hidup!

Mengapa Isa Bugis mengajukan pengertian yang dianggap ganjil dan musykil oleh para ulama yang terhormat itu? Karena ia ingin memunculkan makna al-Qur’an yang murni, yang tidak dicemari pengaruh budaya etnis atau ras apa pun. Ini adalah prinsip ilmiah. Hanya orang yang anti berpikir ilmiah yang menganggap ini kamuflase.

Jadi bila Isa Bugis mengatakan bahwa bahasa al-Qur’an bukan bahasa Arab, pengertiannya sama dengan bahasa Indonesia bukan bahasa Malaysia, tapi keduanya terikat dalam ikatan kekeluargaan alias serumpun. Untuk memahami bahasa Indonesia, gunakan Kamus Bahasa Indonesia. Begitu juga untuk memahami bahasa Malayhsia. Sedangkan untuk memahami al-Qur’an, yang harus digunakan adalah Kamus al-Qur’an, bukan Kamus Bahasa Arab.

Isa Bugis menekankan bahwa Kamus al-Qur’an ada dalam Qur’an itu sendiri. Tentu saja al-Qur’an tidak akan mengeluarkannya begitu saja; karena bagaimana pun al-Qur’an itu pasif. Manusialah yang harus aktif menggalinya.

Apakah isi Kamus al-Qur’an itu berbeda samasekali dengan Kamus Bahasa Arab? Tentu tidak. Sama seperti halnya bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia. Persamaan keduanya masih sangat banyak dibandingkan perbedaannya. Namun perbedaannya yang tidak sedikit juga bisa mengganggu proses komunikasi. Bisa menimbulkan salah paham, salah tafsir, bahkan bisa menyebabkan timbulnya perkelahian. Itui ;lah yang terjadi antara para ulama dengan al-Qur’an. Karena memaksakan (sembarang) “bahasa Arab” sebagai alat untuk berkomunikasi  dengan al-Qur’an, akhirnya mereka berantem dengan al-Qur’an. Kalau selama ini mereka merasa akrab, itu hanya karena mereka sedang bermimpi.

Lalu, mengapa para sahabat bisa langsung memahami al-Qur’an ketika Nabi Muhammad membacakannya kepada mereka? Jawabannya adalah: karena Muhammad ibarat orang Indonesia yang berbicara kepada orang Indonesia, bukan berbicara kepada orang Malaysia. Tapi benarkah bahwa setiap kata dalam al-Qur’an dapat mereka pahami begitu saja? Tidak juga. Contohnya:

‘An ‘Abdullahi, qaala: Lammaa nazalah: “Alladziina aamanuu wa lam yalbisuu iimaanahum bi dzulmin …” (al-An’aam 6: 82), syaqaa dzaalika ‘ala ash haabi rasulillaahi saw., wa qaaluu “Ayyunaa laa yadzlimu nafsahu?” Fa qaala rasulullaahi, “Laysa huwa kamaa tadzhunnuuna. Innama huwa kamaa qaala luqmaanu l’ibnihi: “Yaa bunayya laa tusyrik billahi. Inna syirka ladzulmun ‘adziim” (Luqman 31:  13)

Abdullah berkisah. Katanya: Ketika turun ayat Alladziina aaamanuu wa lam yalbisuu imaanahum bidzulmin … , para Sahabat meragukan pemahaman mereka akan ayat ini, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah di antara kita ini yang tidak dzalim terhadap dirinya?” Rasulullah menegaskan, “Pengertian ayat itu bukan seperti yang kalian perkirakan, tapi yang benar adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya: “ya bunayya la tusyrik billahi. Inna syirka la dzulmun ‘adzim”  (HR Muslim)

hatikan lah kata-kata Nabi kepada mereka: “laysa huwa kamaa tadzhunnuun (pengertian ayat itu bukian seperti perkiraan kalian), mengisyaratkan adanya sesuatu yang oleh orang sekarang disebut sebagsai “prasangka budaya”, yaitu kecenderungan manusia untuk menafsirkan atau memahami sewsuatu berdasar kenyataan budaya mereka, padahal yang ditafsirkan itu berasal dari budaya yang lain. Ringkasnya, para Sahabat mencoba menafsirkan Quar’an dengan “prasangka budaya” mereka. Tapi Nabi menegaskan bahwa itu tidak benar. Budaya Qur’an adalah budaya para Nabi, bukan budaya Arab, baik Arab asli maupun musta’rabah. Itu lah masalahnya. Masalah budaya. Suatu lapangan pengkajian yang masih asing bagi para ulama kita, yang merasa  tahu Qur’an”.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Pendukung QMSR

 

 

About these ads
Comments
9 Responses to “Bantahan Untuk Ahmad Husnan (Tentang Al-Quran Bahasa Arab)”
  1. urikss nakillah says:

    Mantab Bang….

  2. yudi says:

    oke banget, khoirun qornun qorni,wa qornun min ba’di

  3. Ismanto says:

    Ismanto comment,
    Sangaaaaat bagus bahasa nya , teruskan …Anaa dukung anda 1000.000 %

  4. agson says:

    mantaap sangat …….ok .

  5. Sidratil_muntaha says:

    Kajian luar biasa bang, memang Arab khususnya Arab Saud itu berdirinya kapan? dibanding Nabi Muhammad mengenai nasionalisme, bukankah Nabi Muhammad adalah keturunan dari Nabi Ismail? secara bahasa tentu menurut bahasa Nabi Ismail yg otomatis sebangun dgn bahasa Nabi Ibrahim, ma kaana Ibrahim yahudiyyan wa laa nashraniyyan, wa lakin hanifan musliman, apa arti musliman disini? muslim kah? yg kita tahu Nabi Ibrahim itu hidup 2000 tahun sebelum Nabi Isa, Nabi Ibrahim adalah kelanjutan 1000 tahun dari Nabi Nuh dgn bahasanya? dan Adam hidup 1000 tahun sebelum Nabi Nuh, artinya bahasa awal yaitu bahasa Nabi Adam apa? bukankah kalau kita berbahasa Al-Quran sama degn berbahasa Adam? berbahasa para Nabi2? yaitu bahasa Jannah?

  6. murid isa bugis says:

    mana jempol? mana jempol? mana jempol? mau klik “like” neh…!

    ahmad husnan baca & bantah lagi neh…!!!

  7. Josef nazareth says:

    akur…innaha kalimatun huwa kaailuha.Al Qur’an bahasa Allah, para Malaikat & para Rasul.Justeru turunnya Al Qur’an di tengah bangsa arab saat itu utk meluruskan bahwa bahasa Al Qur’an milik Allah dari sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad sama dan tidak berbeda,bahkan sampai akhir zaman,yakni bahasa para pendukung sunah rasul.apakah kita mau diam saja kalau Al Qur’an yg jelas” bahasa Allah SWT,Malaikat & Rasul serta Mukmin di veto/diclaim oleh orang” yg tdk bertanggung jawab menjadi katanya bahasa suatu bangsa yg sampai saat ini menjadi bola permainan blok barat/sekutu barat?perlu suatu kajian mendalam dari ahli sejarah akan hal ikhwal siapa bangsa arab & latar belakang budayanya.apakah islam mau terus menerus dinina-bobokan dg dongeng kehebatan suatu bangsa yg sebelum Nabi Muhammad lahir sudah jahilliyah?apakah jahilliyah mampu menciptakan peradaban yg agung seperti halnya Rasulullah dgn Al Qur’an menurut sunah rasul (dlm hal ini diri Muhammadlah yg menjadi rasul).kenapa tdk seorang bangsa aribah yg dipilih Allah menjadi rasul?knp dari turunan musta’rabah?..

  8. teqi says:

    sungguh bagus, inilah kebenaran yg selama dicari, mohon saya diberi pencerahan ajaran ini dong, saya sudah lama meyakininya semanjak duduk dibangku SMEA sekitar 15 th lalu, dan karena sekarang saya sudah merantau semenjak th.2000 saya pengin sekali mendapat pencerahan yg dibawa Pak Isa, apa saya bisa dapat melalui sarana internet atau email, terima kasih

  9. ghozali says:

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saudara-saudara sekalian, Biarlah Alqur’an Menurut Sunnah Rasul menjadi tambatan hati yang kemudian menjadi pandangan hidup. Dan biarlah orang-orang yang negatif terhadap Alquran menurut sunnah rasul berbuat atau berkata sesuka mereka, karena itu adalah hak masing-masing. Dan janganlah memuliakan/mengkultuskan seseorang, karena bagaimanapun beliau tidak meminta untuk dikultuskan. karena rasulpun juga tidak meminta dikultuskan. terus perdalam lagi ilmu dan tetap berfikir objektif ilmiah dan berpikiran terbuka terhadap apapun. karena dengan objektif ilmiah akan terlihat kebenaran. Sesungguhnya Iman bukan hanya keyakinan dalam hati, tapi harus menggema dalam ucapan dan diwujudkan dalam perbuatan. Insyaallah, semoga anda sekalian selalu hidup dalam islam satu-satunya penataan hidup tiada tanding yaitu hidup yang berhamburan kasih sayang. Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 980 other followers

%d bloggers like this: