Terjemahan 3.226 Ayat Al-Quran Pemerintah Keliru?

Klipping berita:

TEMPO.CO – , Jum’at, 6 Juli 2012

TEMPO.CO , Medan: Ratusan miliar rupiah anggaran pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama kini diselisik Komisi Pemberantasan Korupsi. Tak hanya indikasi dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek kitab umat Islam menuai perhatian dan permasalahan. Terjemahan versi Kementerian Agama terhadap Al-Quran juga menuai protes.

Majelis Mujahidin Indonesia mencatat ada 3.226 ayat Al-Quran terjemahan versi pemerintah keliru. »3.226 ayat Al-Quran versi pemerintah yang diteliti Amir Mujahidin, Ustad Muhamad Thalib, keliru,” kata Ketua MMI Sumatera Utara, Zulkarnain, kepada Tempo, Kamis, 5 Juli 2012.

Zulkarnain menyebutkan, terjemahan Al-Quran versi pemerintah banyak terjadi kekeliruan. »Yang paling fatal itu pada Surat Al-Baqarah ayat 191, yakni bunuh di mana pun kamu temukan mereka (kafir),” kata Zulkarnain.

Terjemahan itu, lanjut Zulkarnain, sangat terkesan Islam itu radikal. ”Semestinya terjemahannya arti tafsiriah. Pemerintah menerjemahkannya kata demi kata, harfiah,” ujar Zulkarnain.

Sejak 2010, MMI telah mengingatkan Kementerian Agama terhadap kekeliruan itu. ”MMI di Sumatera Utara, saya di 2011 bertemu dengan pejabat Kanwil Kementerian Agama, saat itu Syariful Mahya Bandar memberikan terjemahan dari penelitian 10 tahun Ustad Muhamad Thalib, tapi mereka menyatakan itu bukan domainnya,” kata Zulkarnain.

Kepala Bidang Qurais Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara, Zulfan Arif enggan memberikan komentar soal itu. Dihubungi Tempo, Zulfan berkilah hal itu sudah lama.

Mengenai penerimaan Al-Quran, Zulfan tidak tahu. »Tanya kepada Kabid Pondok Pesantren dan Pengembangan Masjid, Jaharudin,” kata dia.

Jaharudin yang mengaku tengah berada di Batam, tidak hafal dengan jumlah Al-Quran yang diterima oleh Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara. ”Sudah 4 hari saya di Batam, saya tidak berani menyebutkannya karena takut salah, bisa gawat,” kata dia.

Jaharudin melanjutkan, sejak tiga hari lalu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama telah meminta laporan penyaluran Al-Quran. ”Laporannya telah dikirim oleh staf, hari ini, mereka sudah keluar kantor dan tidak ingat jumlahnya,” ujar Jaharudin.

Kementerian Agama, sebut Jaharudin, kerap memberikan Al-Quran ke Kanwil Kemenag Sumatera Utara. ”Berdasarkan permintaan, Al-Quran dibagikan ke masyarakat dan masjid-masjid,” kata Jaharudin.

Tudingan MMI soal terjemahan Al-Quran bukan kali pertama disampaikan. Pada April 2011, Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI Pusat, Irfan S. Awwas, mengatakan bom bunuh diri di masjid Kepolisian Resor Kota Cirebon pada medio April 2011 adalah tanggung jawab Kementerian Agama. Ia menilai pemerintah salah menerjemahkan Al-Quran selama puluhan tahun. Kesalahan terjemahan pada sekitar 3.400 ayat itu diduga memicu tindakan radikalisme.

Kementerian Agama membantah tuduhan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bahwa terjadi kekeliruan dalam menerjemahkan 3.400 ayat Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. (Baca

*SOETANA MONANG HASIBUAN

Berita sebelumnya:

 

Minggu, 24 April 2011 | 17:59 WIB

Tudingan Terjemahan Al Quran Salah Mengada-ada

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kementerian Agama menyatakan tuduhan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bahwa terjemahan Al Quran yang salah menjadi penyebab munculnya sejumlah aksi teroris dinilai mengada-ada. Tuduhan itu hanya akan memojokkan dan mengadu domba umat Islam satu sama lain. “Tidak ada kaitannya itu,” kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Nasaruddin Umar, Ahad (24/4).

Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI Pusat, Irfan S. Awwas, mengatakan peristiwa bom bunuh diri di masjid Kepolisian Resor Cirebon Kota pertengahan April lalu menjadi tanggung jawab Kementerian Agama. Alasannya, Kementerian Agama telah salah menerjemahkan Al Quran selama puluhan tahun. “Ada terjemahan ayat-ayat Al Quran yang salah. Ada ideologi teroris dalam terjemahan dari Depag (Kemenag),” katanya saat memberi sambutan dalam Deklarasi Majelis Mujahidin Jawa Tengah di Surakarta, tadi pagi.

Nasaruddin mengatakan, kementeriannya memang bertanggung jawab terhadap terjemahan Al Quran, tapi proses penerjemahannya dilakukan secara bersama dengan elemen masyarakat. Pemerintah, bertugas mengorganisir penerjemah-penerjemah Al Quran yang tergabung dalam tim penerjemah. Tim penerjemah, kata Nasaruddin, berisi ulama-ulama mumpuni dalam menerjemahkan Al Quran, yakni ulama-ulama yang berasal dari lembaga-lembaga yang dianggap kredibel menerjemahkan Al Quran, antara lain Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya.

“Saya yakin, orang yang menerjemahkan Al Quran adalah orang paling pintar dan menguasai disiplin ilmu, khususnya agama Islam. Kalau ada yang meragukan kredibilitas (para penerjemah) itu, maka mereka patut dipertanyakan,” kata dia.

Terjemahan Al Quran paling baru dikeluarkan Balitbang Kemenag di era Menteri Agama Maftuh Bayumi. Ketika itu, ada 2 edisi yang sekarang beredar di masyarakat, yakni edisi tafsir Al Quran yang terdiri atas 15 jilid, dan edisi terjemahan Al Quran yang terdiri atas satu jilid. Edisi yang banyak dan umum digunakan masyarakat adalah edisi terjemahan. “Selalu ada beberapa penyesuaian karena menurut ahli linguistik, sejumlah kosa kata pasti mengalami perubahan makna seiring perubahan zaman,” ujar Nasaruddin.

Atas dasar argumen itulah, Nasaruddin justru balik mempertanyakan motivasi MMI yang mengeluarkan tuduhan seperti itu. Apalagi MMI mengatakan ada 3.400 ayat Al Quran yang terjemahannya dianggap keliru. “Itu kan sudah lebih dari  50 persen isi Al Quran. Atas dasar apa MMI menyatakan hal it. Apa motifnya, dasar, dan metodologi yang mereka gunakan,” ujar Nasaruddin.

Menurut dia, lebih baik MMI duduk bersama dengan Kemenag untuk mendiskusikan masalah ini. “Kenapa sejak dulu tidak bilang. Kok baru sekarang. Jangan seperti orang Barat, yang menyalahkan ekstremisme itu bukan karena orangnya, tapi Al Quran-nya,” kata Nasaruddin.

MAHARDIKA SATRIA HADI

Senin, 25 April 2011 | 09:43 WIB

Pemerintah Bantah Keliru Terjemahkan Al-Quran

EMPO Interaktif, Jakarta — Kementerian Agama membantah tuduhan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bahwa terjadi kekeliruan dalam menerjemahkan 3.400 ayat Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia.

“Itu sudah lebih 50 persen dari isi Al-Quran. Apa dasarnya MMI menyatakan itu? Apa metodologi yang mereka gunakan?” kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nasaruddin Umar, kepada Tempo, Ahad (25/4).

Menurut Nasaruddin, anggapan bahwa kekeliruan itu memicu aksi terorisme sangat mengada-ada serta akan memojokkan dan mengadu domba sesama umat Islam. Nasaruddin menjelaskan, tim penerjemah di bawah Kementerian Agama berisi perwakilan sejumlah elemen masyarakat dari lembaga-lembaga yang kredibel, antara lain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI Pusat, Irfan S. Awwas, mengatakan bom bunuh diri di masjid Kepolisian Resor Kota Cirebon pada medio April lalu adalah tanggung jawab Kementerian Agama. Ia menilai pemerintah salah menerjemahkan Al-Quran selama puluhan tahun. Kesalahan terjemahan pada sekitar 3.400 ayat itu diduga memicu tindakan radikalisme. “Ada ideologi teroris dalam terjemahan dari Depag (Kementerian Agama),” katanya dalam deklarasi MMI Jawa Tengah di Surakarta kemarin.

Nasaruddin menjelaskan, terjemahan Al-Quran terbaru diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama pada era Menteri Maftuh Basyuni. Ada 2 edisi terjemahan, yakni Tafsir Al-Quran (15 jilid) dan Terjemahan Al-Quran (1 jilid). Edisi yang umum digunakan masyarakat adalah terjemahan. “Mari duduk bersama untuk mendiskusikan masalah ini,” ujarnya.

MAHARDIKA SH | UKKY P

Majelis Mujahidin Luncurkan Koreksi Terjemah al-Qur’an Versi Depag

 

Selasa, 01 November 2011

Hidayatullah.com–Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menerbitkan terjamah tafsiriyah al-Qur`an sebagai koreksi atas terjemah harfiyah al-Qur`an versi Kementerian Agama RI. Acara berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Senin (31/10/2011).

Terjemah Tafsiriyah tersebut disusun oleh Amir MMI, Ustadz Muhammad Thalib, setelah melakukan penelitian selama sepuluh tahun. Dalam sambutannya, Thalib mengatakan, setidaknya ada 3229 kesalahan terjemah harfiyah Depag. Dan, jumlah itu bertambah menjadi 3400 ayat pada edisi revisi tahun 2010.

Kata Thalib, kesalahan-kesalahan itu mencakup bidang aqidah, syariah, sosial, dan ekonomi. “Misalnya, terjemah harfiyah versi Depag pada Surat an-Nisa ayat 20; seolah-olah al-Qur`an menganjurkan tukar-menukar istri. Pada surat al-Ahzab ayat 51 malah menyatakan tidak berdosa menggauli perempuan yang sudah dicerai,” kata Thalib.

Kitab terjemah tafsiriyah ini diterbitkan oleh Ma’had An-Nabawy, Yogyakarta, November 2011.

Irfan S. Awwas, mewakili penerbit mengatakan, walau tanpa proses tashih Lajnah Tashih al-Qur`an Kemenag RI, pihaknya tetap akan menerbitkan kitab tersebut ke masyarakat.

Namun, katanya, pihaknya masih mencetaknya secara terbatas sebelum dicetak masal karena kemungkinan adanya koreksi-koreksi. “Sekitar 5000 eksemplar,” kata Irfan kepada para wartawan.*

Rep: Surya Fachrizal Ginting
Red: Syaiful Irwan

http://hidayatullah.com:

 

Polemik Terjemah Al-Qur`an

Terjemah al-Qur`an Kementerian Agama (Kemenag) digugat. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menilai terjemah al-Qur`an berusia 46 tahun itu telah menimbulkan banyak masalah di negeri ini. Kesalahan terjemah Kemenag diklaim telah memicu aksi terorisme, liberalisme, aliran sesat, hingga kerusakan moral di masyarakat.

MMI menuntut Kemenag menarik seluruh terjemahannya dan menggantinya dengan terjemah tafsiriyah seperti yang dibuat MMI.

Namun, Kemenag menilai hal itu perbedaan pandangan semata, dan mempersilahkan MMI menerbitkan sendiri versi terjemahannya.

31 Oktober lalu, MMI meluncurkan Al-Qur`an Tarjamah Tafsiriyah, karya Amirul Mujahidin, Dr Muhammad Thalib. Sebuah terjemah al-Qur`an 30 juz yang berbeda sama sekali dengan terjemah versi Kemenag.

Thalib mengaku menemukan 3.229 kesalahan pada terjemah versi Kemenag. Kesalahan bertambah menjadi 3.400 pada edisi revisi tahun 2010. Dari 114 surat al-Qur`an yang diterjemah oleh Kemenag, hanya 6 surat yang lolos tashih ala MMI.

TIM LAPORAN UTAMA                                                                    

Penanggungjawab / koordinator : Surya Fachrizal Ginting | Reporter : Ibnu Syafa’at, Jidi al-Kindi, Abu Abdil Barr | Fotografer : Muh. Abdus Syakur | Editor : Dadang Kusmayadi

Protes Terjemah Sang Mujahidin

Terjemah Kementerian Agama dinilai menyuburkan aksi teror, aliran sesat, liberalisme, hingga melegalkan perzinaan.

Di ujung Oktober 2011 lalu, ruang Ball Room, Hotel Sultan Jakarta seolah menjadi arena sidang in-absentia bagi Kementerian Agama (Kemenag) RI. Mewakili Kemenag, Lajnah Pentashih al-Qur`an didakwa telah melakukan 3.229 kesalahan terjemah al-Qur`an yang mengakibatkan maraknya aliran sesat, liberalisme, dan berbagai aksi pemboman di negeri ini.

================CUT====================

Pemicu Terorisme?

Thalib mengatakan, Al-Qur`an Tarjamah Tafsiriyah adalah hasil penelitiannya yang intensif sejak 10 tahun lalu. Sebagai pelengkap, ia juga menulis buku berjudulKoreksi Tarjamah Harfiyah Al-Qur`an Kemenag RI yang dijual satu paket dengan Al-Qur`an Tarjamah Tafsiriah-nya. Sebuah buku yang memuat kritik terhadap 170 ayat terjemah versi Kemenag dari 3.229 kesalahan yang ditemukannya.

Dari sekian banyak dampak akibat salah terjemah al-Qur`an versi Kemenag yang diklaim MMI, tema terorisme adalah yang paling disorot. Menurut Irfan S. Awwas, terjemah harfiyah Kemenag soal ayat-ayat tentang jihad telah menyuburkan aksi-aksi terorisme di negeri ini.

Contohnya, kata Irfan, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…” (Al-Baqarah [2]: 191). Katanya, terjemah itu seolah-olah membenarkan membunuh musuh di luar zona perang. “Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan kehidupan masyarakat,” kata Irfan.

================CUT====================

Kepada Suara Hidayatullah, Muchlis Hanafi mengatakan, masalah haramnya hukum terjemah harfiyah tidak perlu diperdebatkan. “Karena memang tidak mungkin untuk dilakukan,” ujar Muchlis yang juga pengajar di Pusat Studi Al-Qur`an ini.

Kata Muchlis, para ahli dalam tim terjemah Kemenag sejak awal menyadari bahasa-bahasa di dunia ini terlalu miskin untuk bisa menerjemahkan al-Qur`an. Karenanya, yang dimaksud adalah terjemah makna al-Qur`an, bukan terjemah dengan pengertian alih-bahasa yang dapat menggantikan posisi teks al-Qur`an itu sendiri.

Muchlis menjelaskan, pihaknya menggabungkan metode terjemah harfiyah dan tafsiriyah. Lafal yang bisa diterjemahkan secara harfiyah, terjemahkan secara harfiyah. Yang tidak, diterjemahkan secara tafsiriyah baik dalam bentuk catatan kaki maupun penjelasan tambahan di dalam kurung.

Oleh sebab itu, Muchlis menampik segala dakwaan MMI, terlebih jika terjemah Kemenag dinilai telah membenarkan aksi-aksi terorisme. Muchlis menilai, perdebatan antara MMI dengan Kemenag adalah perbedaan cara pandang yang dimungkinkan karena karakter teks al-Qur`an mengandung berbagai kemungkinan penafsiran.

“Perbedaan sifatnya variatif, bukan kontradiktif,” kata doktor ilmu tafsir lulusan Al-Azhar, Mesir ini.

Bukan Salah Terjemah

Meski menyambut baik terjemah tafsiriyah MMI, kebanyakan peserta tidak sepakat jika terorisme dikaitkan dengan terjemah al-Qur`an Kemenag. Hal itu diutarakan oleh Prof Sarlito Wirawan (Universitas Indonesia), Ustadz Rokhmat Labib (Ketua DPP HTI), juga Masdar Farid Mas’udi (PBNU).

================CUT====================

Baasyir menilai, memang ada kekurangan dalam terjemah Kemenag tetapi tidak sebanyak dan separah yang diklaim oleh Thalib. Ia juga mengatakan, terjemahan Kemenag terhadap ayat-ayat tentang jihad dalam al-Qur`an juga sudah benar.

“Tidak perlu ditarik dari peredaran. Kalau ditarik, pengaruhnya juga tidak banyak,” ujar Baasyir.

================CUT====================

Meski demikian, karya Thalib tetap mendapatkan apresiasi. Seperti dikatakan Masdar Farid Mas’udi dari PBNU, “Ini sumbangan positif. Tapi, kalau mau jualan tidak perlu menyalahkan yang lain,” katanya.*

Siapa Saja Boleh Menerjemahkan, Asal…

Menerjemahkan al-Qur`an merupakan bagian dari ijtihad. Dalam berijtihad tentu ada rambu-rambu yang harus ditaati.

Ketika mengisi taklim, Ustadz Muhammad Busyairi tidak bisa lepas dari al-Qur`an terjemahan. Biasanya ia menggunakan al-Qur`an terjemah Kementerian Agama (Kemenag) sebagai referensi saat membahas satu topik.

================CUT====================

Kriteria Penerjemah

Rektor Institut Ilmu al-Qur`an (IIQ) Jakarta, DR Ahsin Sakho Muhammad menilai menerjemahkan al-Qur`an merupakan bagian ijtihad. Di dunia pesantren, kata Ahsin, tradisi menerjemahkan al-Qur`an di luar versi Kemenag sudah menjadi hal yang biasa dalam proses belajar mengajar.

“Menurut saya, itu sah-sah saja karena menerjemahkan al-Qur`an merupakan pekerjaan ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan,” jelas Ahsin kepada Ibnu Syafaat dari Suara Hidayatullah melalui sambungan telepon.

Namun, Ahsin mengingatkan, agar pihak-pihak yang berbeda dalam menerjemahkan al-Qur`an untuk tidak saling menghujat, dan tidak merasa hasil terjemahannya yang paling benar. Selain itu, Ahsin juga memberi catatan perihal orang yang berhak menerjemahkan al-Qur`an.

“Tidak sembarangan orang boleh menerjemahkan al-Qur`an. Mereka yang menerjemahkan al-Qur`an harus mumpuni di bidang ilmu al-Qur`an,” kata lelaki yang juga pernah menjadi Ketua Tim Revisi Terjemah al-Qur`an 1998 – 2002 ini.

Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof Yunahar Ilyas mengatakan, ada dua kriteria yang harus dipenuhi seorang penerjemah al-Qur`an. Kompetensi yang bersifat pribadi seperti Muslim, saleh, wara’ atau tidak terpengaruh kepentingan dunia semisal politik atau bisnis.

Dari segi keilmuan, ujar Yunahar, penerjemah harus pandai bahasa Arab, mengerti nahwu sharafbalaghahfiqhullughah-nya. Dia juga harus mengerti ulumul quran, Hadits dan ulumul Haditsfiqh dan ushul fiqh, agar istinbath yang dilakukannya tidak keliru. Ia juga harus memahami sejarah Arab, Rasulullah,  dan para Sahabat.

“Karena langka sekali ditemukan seseorang yang menguasai ilmu secara komprehensif, ada baiknya jika dalam menerjemahkan al-Qur`an dilakukan secara kolektif,” kata Ketua PP Muhammadiyah ini.

Berefek?

Ahsin tidak mempersoalkan jika bermunculan terjemahan al-Qur`an dengan berbagai versi. Ahsin yakin jika masyarakat akan memilih al-Qur`an terjemah yang dipercaya otoritasnya.

“Saya rasa tidak ada efek dengan banyaknya terjemahan al-Qur`an. Saya hanya berharap umat Islam teliti terlebih dahulu, apakah hasil terjemahannya akademis atau tidak,” paparnya.

Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Yunahar. Ia tidak mempersoalkan terbitnya al-Qur`an terjemah di luar versi Kemenag. Hanya saja, Yunahar menilai, fenomena ini memiliki efek negatif di tengah umat Islam.

“Memang ini berdampak pada orang awam yang akan mengalami kebingungan. Tapi untuk menilai versi yang dianggap paling baik, orang awam itu bisa menilai dari sisitrack record penulisnya, kompeten atau tidak,” kata Yunahar yang juga salah satu ketua MUI Pusat ini.

Secara pribadi Yunahar menilai al-Qur`an terjemah Kemenag tidak ada kesalahan. Kalaupun ada, itu hanya pada susunan kalimatnya saja yang tidak terlalu menganggu.

Wajib Tashih

Meski tidak dilarang menerbitkan al-Qur`an terjemahan dengan versi yang berbeda, tetapi sesuai prosedur setiap penulis atau penerbit harus men-tashih mushaf tersebut melalui Lajnah Pentashih Al-Qur`an Kemenag.

“Jadi, terjemahnya urusan masing-masing penerjemah. Orang tidak harus tunduk pada terjemah al-Qur`an versi Depag, tapi mushafnya harus, untuk menjaga kemurnian al-Qur`an. Negara punya otoritas untuk melarang menerbitkan mushaf al-Qur`an yang salah. Kalau kemudian terjemahnya salah, itu tanggung jawab si penerjemah,” jelas Yunahar.

Dr Ahmad Hatta, penyusun Tafsir Qur`an Per Kata yang dicetak Pustaka al-Maghfirah memaparkan, saat ini memang banyak bermunculan al-Qur`an terjemah dengan berbagai versi. “Tafsir itu banyak macamnya, dari tafsir ahlus sunnah hingga tafsir yang ekstrim, atau tafsirnya kaum sufi,” ujar  Hatta.

Ia mengaku, Tafsir Qur`an Per Kata yang disusunnya juga didasari ketidakpuasannya kepada terjemah versi Kemenag. “Makanya saya susun tafsir sendiri. Dan, mushaf saya juga ditashih oleh Lajnah Pentashih Kemenag,” katanya.

Dua Kali Revisi

Muchlis Hanafi, Kepala Bidang Pengkajian al-Qur`an Kemenag mengatakan, al-Qur`an terjemah Kemenag  disusun oleh sebuah tim yang terdiri dari beberapa ulama anggota Lembaga Penterjemah Kitab Suci al-Qur`an pada tahun 1965

================CUT====================

Prof Dr Yunahar Ilyas,

Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Kita tidak harus tunduk pada fatwa Timur Tengah”

MMI mengatakan ada fatwa dari Timur Tengah yang mengharamkan terjemah harfiyah?

Katanya ada fatwa dari Timur Tengah tentang menerjemahkan kata-perkata al-Qur’an secara murni. Saya katakan boleh menerjemahkan secara harfiah, tapi untuk kata-kata tertentu harus mengikuti tafsir. Biasa saja kalau ada yang berfatwa tidak boleh menerjemahkan secara kata per kata (leterlijk), tapi kita tidak harus tunduk pada fatwa Timur Tengah itu.

Terjemah al-Qur’an versi Depag dinilai telah mendorong aksi-aksi terorisme, benarkah demikian?

Terkait kalimat waqtuluhum haitsu tsaqiftumuhum  di dalam al-Qur’an yang artinya bunuhlah mereka di manapun kamu temui mereka. Itu ayatnya dalam konteks perang, tapi terjemah per katanya memang bunuh.  Terjemah untuk kalimat ini memang harus memadukan antara terjemah harfiah dan tafsiriah. Kalau sudah sulit ditafsirkan karena panjang, bisa dibuatkan catatan kaki. Terjemah yang dikeluarkan oleh Depag ini memberikan catatan kaki.

================CUT====================

orang awam itu bisa menilai dari sisitrack record penulisnya, kompenten atau tidak. Buku Shirah Rasul misalnya, banyak diterbitkan. Tinggal kita lihat penulisnya apakah memiliki background tentang sejarah Islam atau tidak. Saya akan lebih percaya penulis yang memiliki background yang sama dengan yang ditulisnya.

 

DR Ahsin Sakho Muhammad, Rektor Institut Ilmu al-Qur`an (IIQ) Jakarta, mantan Ketua Tim Revisi Terjemah al-Qur`an 1998 – 2002

“Menerjemahkan al-Qur`an tidak boleh sembarangan”

MMI meluncurkan al-Qur`an terjemah tafsiriyah yang berbeda dengan terjemahan versi Kementerian Agama. Apa tanggapan Anda?

Menurut saya, itu sah-sah saja. Karena menerjemahkan al-Qur`an merupakan pekerjaan ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan. Namun, tentu harus menggunakan metode yang akademis. Tidak sembarang orang boleh menerjemahkan al-Qur`an. Butuh keahlian ilmu.

Jika tidak ada otoritas tunggal dalam menerjemahkan al-Qur`an di Indonesia, maka diyakini bakal ada al-Qur`an terjemah dengan berbagai versi. Apakah Anda tidak khawatir?

Tidak. Di Indonesia ini kebiasaan menerjemahkan al-Qur`an yang tidak sesuai dengan versi Depag ini bukanlah hal yang baru. Bahkan di pesantren-pesantren tradisi menerjemahkan al-Qur`an di luar versi Depag sudah menjadi hal yang biasa dalam proses belajar mengajar.

Jika ada versi-versi lain yang bermunculan, maka kita harus lihat dulu, apakah hasil terjemahannya akademis atau tidak.

================CUT====================

Apakah Kemenag menerima masukan atau koreksi terjemahan al-Qur`an?

Saya kira iya. Ada baiknya memang jika ada pihak yang merasa terjemahan al-Qur`an versi Depag itu dinilai terjadi kekeliruan, maka sampaikanlah kepada Depag. Lakukan diskusi.

Drs Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

“Siapa pun yang meragukan, kita ajak debat terbuka!”

Sejak kapan Anda mulai meneliti terjemah al-Qur`an versi Kementerian Agama?

Terjemah versi Depag (Kemenag) ini sudah saya curigai kesalahannya sejak tahun 1981. Saya mulai menyelidiki terjemah al-Qur’an versi Depag yang dikeluarkan pada tahun 2002. Ternyata banyak kesalahan. Ketika muncul terjemah Depag pada tahun 2010, justru lebih banyak lagi kesalahannya.

Kenapa memilih terjemah al-Qur’an versi Depag?

Ada tiga alasan. Pertama, Depag ini dianggap yang profesional oleh masyarakat. Kedua, Depag ini lembaga negara, sehingga pengaruhnya lebih besar. Ketiga, menggunakan anggaran negara. Nah, Depag sama sekali tidak bertanggung jawab pada ketiga hal ini.

Inti kritik terjemah al-Qur’an versi Depag apa?

Intinya, kalau memahami al-Qur’an berdasarkan terjemah versi Depag akan menjadi kacau semua. Kekacauaun bisa terjadi di dalam bidang hubungan antar agama, karena (terjemahnya-red) memberikan peluang untuk melakukan tindakan anarkis kepada non Muslim, dan mengesankan Islam melakukan pembunuhan secara semena-mena kepada non Muslim. Itu ada di dalam al-Qur`an surah Al-Ahzab ayat  61. Yang berkaitan dengan aqidah juga fatal karena bertentangan dengan Hadits mutawattir, yang menjelaskan bahwa setiap orang Yahudi dan Nasrani saat ini beriman kepada Nabi Isa sebelum mereka meninggal. Ini terdapat di dalam catatan kaki al-Qur`an surah An-Nisa ayat 159.

Siapa yang membantu Anda dalam proses pembuatan terjemah ini?

Saya kerjakan sendiri. Kecuali mengetik ada yang membantu. Mengerjakan terjemah secara tim itu banyak kelemahan. Menyatukan pemahaman itu sulit, kesetaraan ilmunya juga sulit. Untuk menafsirkan al-Qur’an ini seseorang harus menguasai 60 cabang ilmu agama. Kurang satu saja ndak bisa.

Bukankah dengan tim bisa saling melengkapi?

Kalau tim kesalahannya malah justru lebih banyak, karena mereka mau ndak mau akan melakukan langkah-langkah kompromi. Inilah yang membuatnya jadi fatal. Jadi akan lebih baik melakukan terjemah atau tafsir itu personal dengan syarat lulus 60 cabang ilmu itu.

Praktiknya dulu juga dilakukan sendiri. Ibnu Abbas sendiri, Ibnu Mas’ud sendiri, Imam Thabari dan Ibnu Katsir sendiri. Kerja tim untuk terjemah ini sangat riskan dan penuh dengan kelemahan-kelemahan.

Pengurus Jamaah Ansharut Tauhid menyebut terjemah ini adalah proyek deradikalisasi. Tanggapan Anda?

Suruh saja buktikan, yang mana yang dianggap proyek deradikalisasi. Apa perlu digubris yang kayak gitu. Ilmu saja tidak punya. Ngerti ndak kata-kata radikal itu apa. Yang jelas mereka tidak punya kapasitas untuk itu.

Munculnya terjemah versi baru ini ditengarai bisa memecah belah umat. Apa tanggapan Anda?

Itu kata siapa? Karena itu, saya pertanyakan mengapa saat launching (peluncuran) di Jakarta semua Ormas Islam diundang, tapi yang hadir cuma kalangan umum dan NU. Kalau khawatir soal ini bisa memecah belah umat, kita kan boleh debat terbuka. Kenapa tidak jujur menyampaikan secara terbuka seperti PBNU.

Terjemah al-Qur’an versi MMI rencana ke depannya bagaimana?

Ya, tinggal kita terbitkan terus. Siapa pun yang meragukan kita ajak debat terbuka. Mereka harus bisa menyalahkan secara akademik. Asal jangan menebar kelicikan-kelicikan. Kita ini berhadapan dengan tukang licik sudah 40 tahun lebih. 25 tim ahli al-Qur`an itu juga kita tantang tapi tidak ada yang jalan. *

Apologi Tim Terjemah Alquran Depag

Oleh Irfan S Awwas

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Apologi oportunis tim terjemah Alquran Kementerian Agama (Kemenag), terkait penolakannya terhadap ajakan debat publik sebagai solusi atas kontroversi hasil telaah Majelis Mujahidin, tentang kesalahan terjemah Qur’an versi Kemenag memicu aksi terorisme di Indonesia. Tidak saja menghambat tradisi intelektual dan tranparansi informasi; tetapi juga kurang peduli terhadap problem bangsa Indonesia yang terus menerus diguncang teror.

Tim terjemah Alquran Kemenag menolak debat publik dengan Majelis Mujahidin, tapi malah memilih polemik melalui media massa. Padahal, dalam acara ‘Dialog Keagamaan tentang Terjemah Alquran’, 29 April 2011, antara Majelis Mujahidin dan Puslitbang serta Tim Pentashih Alquran Kemenag, Tim dari Kemenag menyatakan tidak perlu membuka polemik di media massa, ternyata diingkari.

Faktanya, dua hari berturut-turut, secara sepihak mereka memublikasikan kontroversi terjermahan tersebut, dengan pernyataan yang mendiskreditkan Majelis Mujahidin, dan berusaha lepas tanggungjawab, baik sebagai pejabat maupun ulama pentashih Alqur.an. Tulisan di bawah ini, berusaha menjelaskan motivasi koreksi dan menjawab apologi tim terjemah Alquran Kemenag.

Apologi dan Koreksi Terjemah

Pada mulanya, gagasan mengoreksi terjemah Qur’an terbitan Kementerian Agama oleh Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib, lahir dari perspektif liberalis yang mendiskreditkan kitab suci umat Islam. Mereka mengopinikan, bahwa aksi bom yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh kelompok teroris ideologis, yang mendasarkan tindakannya pada Alqur’an.

Sejumlah ayat Alqur’an dinilai berpotensi menumbuhkan radikalisme dan mengajak orang beraliran keras. Pernyataan Dirjen Bimas Islam Kemenag, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, dalam simposium Nasional bertema: ‘Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme’ di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, adalah contoh aktualnya.

Nazaruddin Umar menyatakan: “Ada terjemahan harfiyah Alqur’an yang berpotensi untuk mengajak orang beraliran keras. Dia mencontohkan, “Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka…(Qs. 2:191).

Jadi, tuduhan bahwa terjemah harfiyah Alqur’an pemicu radikalisme, muncul dari Dirjen Binmas Islam Kemenag, sehingga dibuatlah program khusus deradikalisasi Alqur’an. Hasilnya, selain menerbitkan edisi terbaru terjemah Qur’an (2010), juga bekerjasama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengadakan halaqah deradikalisasi jihad di pesantren dan gerakan Islam.

Namun, temuan Majelis Mujahidin membuktikan, secara prinsipil bukan teks ayat Alquran yang memicu radikalisme, melainkan terjemahan Quran yang salah sehingga melahirkan salah paham.

Sebaliknya, Abdul Jamil dan Muchlis M Hanafi, masing-masing Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag dan Kepala Bidang Pengkajian Alquran Puslitbang Kemenag, tetap ngotot bahwa tidak ada yang salah dalam terjemah Qur’an, dan bukan penyebab terorisme.

Katanya, “pemahaman terhadap teks Alquran yang parsial, sempit, dan sikap antipati terhadap perbedaan pandangan keagamaanlah yang menyebabkan mereka jadi teroris. Faktanya,  mayoritas penduduk di Indonesia menggunakan terjemahan itu, tapi jumlah teroris tergolong minoritas bahkan bisa dihitung jari. Pada umumnya mereka anti pemerintah, termasuk anti terjemahan Al-Qur’an yang diterbitkan pemerintah.” (Republika, 3/4/2011)

Dalam kaitan ini, perbedaan pemahaman teks Alqur’an, tidak selalu muncul dari perbedaan sudut pandang. Teks terjemah yang dibaca rakyat Indonesia, disajikan dalam bahasa Indonesia. Kemudian dipahami pembaca secara tekstual, bukan berdasarkan persepsi atau pun imajinasi penerjemah.

Apabila penerjemah tidak ingin pembaca salah memahami terjemah tekstualnya, maka penerjemah harus mamberikan pedoman memahami terjemah secara benar. Bagi pembaca yang hanya mampu memahami Alquran melalui terjemahan, maka kesalahan terjemah berdampak salah memahami teks Alquran. Perhatikan, terjemah Qur’an surat at-Taubah, ayat 5 versi Depag:

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka…”

Padahal, perintah ayat ini bukan membunuh orang-orang musyrikin, tetapi memerangi. Antara membunuh dan memerangi memiliki dampak hukum yang berbeda. Membunuh dapat dilakukan perorangan dan sepihak. Sedang memerangi, memerlukan pengumuman pada musuh, dan dilakukan secara kolektif di bawah komando yang jelas.

Maka terjemah tafsiriyahnya, “Wahai kaum mukmin, apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka umumkanlah perang kepada kaum musyrik dimana saja kalian temui mereka di tanah haram…”

Simak pula Qur’an surat at-Taubah, ayat 123 versi Depag: “Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Apabila muncul ideologi permusuhan terhadap orang kafir, lalu terjadi konflik horizontal, bahkan pembunuhan disebabkan membaca teks terjemahan di atas. Maka bukan salah pembaca, karena kalimat dalam terjemahan memang salah, yang menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut.

Bandingkan dengan terjemah tafsiriyah: “Wahai kaum mukmin, perangilah orang-orang kafir yang membahayakan kalian yang berada di dekat negeri kalian, agar mereka merasakan kekerasan kalian terhadap mereka….”.

Maka, adanya paham radikal yang melahirkan tindakan teroris, sebenarnya korban dari salah terjemah Qur’an Kemenag itu. Karena itu, tidak benar apologi bahwa terjemah Al-Qur’an Kemenag bukan pemicu terorisme, hanya karena jumlah teroris sedikit, sementara pengguna terjemahan itu mayoritas penduduk Indonesia. Apalagi, menuduh mereka anti pemerintah, termasuk anti terjemahan Al-Qur’an yang diterbitkan pemerintah, jelas apologi fiktif.

Jika jumlah minoritas dijadikan dasar pengingkaran, niscaya stigma teroris tidak dilabelkan pada mereka. Bukankah eksistensi terorisme tidak ditentukan jumlah pelakunya, melainkan adanya pelaku teror sekalipun jumlahnya sangat kecil? Sedangkan faktanya, sebagaimana pengakuan mantan anggota NII KW 9, Al-Haedar, mengaku sebagai korban salah terjemah Alquran. Dapat disaksikan, dalam video clip latihan tersangka teroris, mereka menyitir ayat-ayat Alquran yang terjemahannya persis sama dengan terjemahan Kemenag.

Sekalipun diakui tim terjemah Alquran Kemenag, adanya beberapa kesalahan dan sudah mengalami revisi berulangkali, tapi alih-alih memperbaiki terjemahan, revisi malah menambah kesalahan. Sulit dipahami akal sehat, bagaimana para pakar melakukan revisi siluman, tanpa menyebut siapa revisionisnya, mengapa direvisi dan bagian ayat mana saja yang direvisi.

Contoh revisi siluman itu adalah terjemah Qs. Al-Ahzab (33:61). “dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.” Kata waquttilu taqtila diterjemahkan ‘dibunuh dengan sehebat-hebatnya’. Kemudian dalam terjemah revisi (2010) menjadi ‘dibunuh dengan tanpa ampun’. Revisi terjemah ini kedengarannya lebih sadis, boleh membunuh dengan kejam tanpa perikemanusiaan. Lalu, kalimat mana dari ayat tersebut yang diterjemahkan tanpa ampun?

Arogansi bukan Solusi

Nampaknya tim terjemah Alquran Kemenag, berusaha melibatkan banyak pihak dalam kontroversi ini. Pernyataan salah seorang Ketua MUI, Yunahar Ilyas yang mempertanyakan otoritas dan kapasitas Majelis Mujahidin mengoreksi terjemah Alquran Kemenag, adalah arogansi tanpa solusi.

Adalah hak setiap muslim untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, sebagaiman nasihat Ali bin Abi Thalib, ihqaqul haq waibthalul bathil.Sebagai cendekiawan muslim, adalah bijaksana sekiranya sebelum berkomentar, lebih dahulu menelaah koreksi terjemah Alquran yang dilakukan Majelis Mujahidin. Bukan berkomentar diluar konteks, dengan nada melecehkan lagi. Seperti sabda Nabi Saw bahwa, “kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Dalam konteks bahasan ini, kapasitas Majelis Mujahidin adalah menemukan kesalahan terjemah Alquran Kemenag dan melakukan koreksi. Lalu, apa prestasi intelektual Yunahar Ilyas? Apa pula otoritasnya mempertanyakan otoritas serta kapasitas MMI?

Sikap Yunahar jauh panggang dari api dibanding KH Syukri Zarkasi, pimpinan Ponpes Modern Gontor, Ponorogo. Dalam pertemuan dengan MUI 30 Nopember 2010 KH. Syukri Zarkasi merespon koreksi Majelis Mujahidin terhadap terjemah Al-Qur’an Kemenag: “Bukan hanya terjemah Alqur’an Kemenag yang salah, tetapi isi terjemahannya juga salah,” tegasnya.

Oleh karena itu, solusi kontroversi ini, Majelis Mujahidin menawarkan opsi kepada Kemenag RI. Pertama, mengumumkan kepada publik kesalahan-kesalahan terjemah Al-Qur’an yang diterbitkan Kemenag. Kedua, diadakan Debat Publik atau Uji Shahih atas koreksi Majelis Mujahidin. Dan ketiga, bila kedua opsi diatas ditolak, Majelis Mujahidin akan melakukan clash action ke pengadilan sesuai hukum yang berlaku.

Jogjakarta, 4 April  2011

Diposting Kamis, 12-05-2011 | 11:02:45 WIB

Ust M Thalib:

Terjemah Al-Quran yang Benar adalah Terjemah Tafsiriyah

 

Jakarta (voa-islam) – Menurut Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, bagi bangsa Arab yang setiap harinya akrab dengan bahasa Al-Qur’an, mereka tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya secara tepat. Namun bagi bangsa lain di dunia ini yang tidak memahami bahasa Arab, mereka memerlukan pengalihan bahasa yang tepat ke dalam bahasa mereka.

Pengalihan bahasa Al-Qur’an ke dalam bahasa lain disebut tarjamah. Dalam prakteknya, tarjamah Al Qur’an tidak dapat dilakukan secara harfiyah. Karena itu, pengalihan bahasa Al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia hanya dapat dilakukan secara tafsiriyah. Untuk menerjemahkan secara tafsiriyah wajib memperhatikan kaidah-kaidah baku dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Berdasarkan pemikiran inilah, kami mengusahakan terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Qur’an. Kami berharap, tarjamah tafsiriyah Al Quran ini dapat membantu para pembaca untuk memahami makna ayat-ayat Al Qur’an secara lebih mudah da lebih cepat sesuai maksud kalimat Arabnya. Terutama bagi yang tidak memahami seluk-beluk bahasa Arab.

“Kami menyadari kemungkinan adaya kekurangan dan kelemahan dalam tarjamah tafsiriyah Al-Qur’an ini. Karena itu kami mengharapkan saran, kritik dan koreksi dari semua pihak, terutama pakar bidang bahasa Arab dan ilmu Al-Qur’an. Semoga Allah menjadikan tarjamah tafsiriyah Al Qur’an ini sebagai amal shalih bagi penerjemah, dan bagi semua pihak yang membantu terwujudnya tarjamah tafsiriyah Al Quran ini,” akunya.

Menurut Ustadz Muhammad Thalib, kesalahan terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI, terutama disebabkan oleh kesalahan memilih metode terjemah. Metode terjemah Al-Qur’an yang dikenal selama ini ada dua macam, yaitu: terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah.

Fatwa Ulama Timur Tengah

Dalam pengantar cetakan pertama Al-Qur’an dan Terjemahnya, 17 Agustus 1965, Dewam Penerjemah Depag RI menyatakan, bahwa terjemah dilakukan secara harfiyah (leterliyk).

Merujuk Fatwa Ulama Jami’ah Al-Azhar Mesir, yang dikeluarkan tahun 1936 dan diperbarui lagi tahun 1960. Terjemah Al-Qur’an secara harfiyah, hukumnya haram. Demikian pula yang difatwakan oleh Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi No. 63947 tanggal 26 Juni 2005.

Dalam fatwa tersebut juga ditegaskan, bahwa terjemah Al-Qur’an yang dibenarkan adalah terjemah tafsiriyah. Dinyatakan haram, karena bobot kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’iyah maupun ilmiah, sehingga dikhawatirkan menyesatkan serta mengambangkan akidah kaum muslimin.

Fatwa haram terjemah harfiyah Al-Qur’an ke dalam bahasa ‘Ajam (non Arab), juga dikeluarkan oleh Dewan Ulama 7 negara di Timur Tengah, yaitu Jami’ah Al-Azhar, Kairo, Dewan Fatwa Ulama Saudi Arabaia, Universitas Rabat Maroko, Jam’ah Jordania, Jami’ah Palestina, Dr. Muhammad Husein Adz-Dzahabi dan Syeikh Ali Ash-Shabuni. Kesemuanya sepakat menyatakan, bahwa “terjemahan Al-Qur’an yang dibenarkan adalah tarjamah tafsiriyah, sedangkan tarjamah harfiyah terlarang atau tidak sah.”

Lalu apa perbedaan antara tafsir dan tarjamah tafsiriyah? Adapun tafsir adalah menjelaskan Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan bahasa Arab juga. Dalam menafsirkan Al-Qur’an perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku, yang dikenal dengan istilah tafsir bil ma’tsur sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith.

Sedangkan tarjamah tafsiriyah, maksudnya menerjemahkan makna ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa lain dengan menggunakan pola-pola bahasa terjemahan. Sehingga, penting memperhatikan semua kaidah menafsirkan Al Qur’an, dan mengetahui perbedaan pola kalimat bahasa Arab dengan bahasa terjemahannya. Dalam menyusun Tarjamah Tafsiriyah ini, sekurang-kurang menggunakan 16 rujukan kitab-kitab tafsir salaf.

Saat kunjungan ke  kantor Lembaga Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd di Madinah (5 Agustus 2011); yang mencetak Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang dibagikan secara gratis kepada para jamaah haji Indonesia dan kaum Muslimin di Indonesia, Majelis Mujahidin menyampaikan bahwa Tarjamah Harfiyah Al-Quran Kemenag RI yang dicetak Lemabaga Percetakan Al Quran Raja Fahd itu mengandung kesalahan sebanyak 3.229 ayat.

Dalam kata sambutan Al-Qur’an dan Terjemahnya, Menteri Agama, Wakaf, Da’wah dan Bimbingan islam, serta Panaung Umum Al-Mujamma, Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad al-Syeikh menyatakan: “Kami mengharapkan dari setiap pembaca Al-Qur’an dan Terjemahnya ini untuk berkenan menyampaikan segala bentuk kesalahan, kekurangan ataupun tambahan yang didapatinya, kepada pihak Mujamma’ al Malik Fahd di Madinag an Nabawiyah, guna perbaikan dalam cetakan-cetakan berikutnya, Insya Allah.”

“Alhamdulillah, pihak Mujamma’ menyambut positif misi Majelis Mujahidin, dan mengusulkan dibentuknya Tim Peneliti untuk mempelajari koreksi terjemah Al Qur’an versi Kemenag RI,” kata Ustadz Thalib. (Desastian)

Selasa, 01 Nov 2011

 

 

Comments
4 Responses to “Terjemahan 3.226 Ayat Al-Quran Pemerintah Keliru?”
  1. Assamualaikum…………..selama ini saya masih bertanya2,dan sekarang ini saya butuh jawaban/penjelasan, kenapa di dalam penerjemahan ALQUR’AN, yang di dalam kitab suci alqur’an itu di baca ARROHMAN, tetapi di dalam terjemahnya ke bahasa indonesia di tulis arrahman ?.[contoh], dan masih banyak lagi lainya, kususnya didalam penulisan ALLOH, kenapa ditulis ALLAH.sekian terima kasih. wasalam.

  2. Ahmad Haes says:

    Itu berkaitan dengan satu pihak yg memandang dalam huruf/bahasa Arab tidak ada huruf/lafaz/ucapan “O”. Dg demikian, pihak inilah yg menuliskan: Allah, Rahman, Rahim, dst.
    Secara teori bahasa, pandangan ini dibenarkan.

  3. ………….maaf,,,,,,,,,tetapi bukankah sudah cukup di dalam huruf hija’iah itu huruf/lafaz/ucapan harus di baca RO, bukan RA. lantas bagaimana dengan orang yang belajar baca Alqur’an dengan mengandalkan terjemah bahasa indonesia? saya pernah dengar di dalam membaca kitab suci alqur’an salah di dalam membaca, itu sudah salah artinya? karena saya sering sekali mendengarkan orang membaca ayat2 alqur’an dengan lafadz yang salah,

  4. Ahmad Haes says:

    Ya, yang anda tulis itu adalah pengetahuan yang anda terima dari sumber anda (guru dll). Tapi secara internasional (dunia), diakui ada dua pandangan seperti yang saya sebut sebelum ini.
    Secara internasional diakui bahwa dlm bhs Arab yang resmi tidak ada bunyi “O”. Karena itulah bila anda periksa dalam bahasa2 internasional spt bhs Inggris, Jerman, Prancis dsb., tidak akan anda temukan tulisan “Alloh”, misalnya, karena mereka menuliskan “Allah”. Begitu juga Departemen Agama kita, juga lembaga bahasa kita, mereka menulis Allah, bukan Alloh.Begitu juga dalam pengejaan huruf2 Hijaiyah, dalam standar internasional, mereka menulis: kha bukan kho, ra bukan ro, shad bukan shod, dhad bukan dhod, tha bukan tho, zha bukan zho, ghain bukan ghoin, qaf bukan qof.
    Ini sama sekali bukan kesalaan, malah justru inilah yang benar secara internasional.
    Hanya orang atau kelompok tertentu di Indonesia yang menulis “Alloh”. Dan ini juga bukan kesalahan, karena ini juga merupakan cara penulisan yang dibolehkan. Dan ini juga tidak mempengaruhi arti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 968 other followers

%d bloggers like this: