Cara Allah Menyampaikan Wahyu

إنما نزل أول ما نزل منه سورة من المفصّل فيها ذكر الجنة والنار. حتى إذا اثاب الناس إلى الإسلا نزل الحلال واحرام. ولو نزل أول شيئ “لا تشربوا الخمر” لقالوا: “لا ندع الخمر أبدا”. ولو نزل “لا تزنوا”, لقالوا: “لا ندع الزنى أبدا”. (البخارى)

“Sesungguhnya Dia (Allah) menurunkan surat  pertama yang merinci tentang sorga dan neraka, sampai ketika manusia telah berhimpun  dalam  Islam,  Dia menurunkan  tentang  halal  dan haram.  Bila yang pertama diturunkan adalah  larangan  minum khamr,  pasti  mereka mengatakan, “Kami  tidak  akan  mening­galkan khamr selamanya.” Dan bila yang pertama diturunkan  a­dalah larangan berzina, pasti mereka mengatakan, “Kami  tidak akan  meninggalkan zina selamanya.” (Hadis riwayat  Bukhari, dari Aisyah).

Hadis  ini menegaskan betapa pentingnya mufasshil (penje­lasan secara terperinci) tentang suatu masalah, sebelum  mem­berikan instruksi, baik berupa perintah atau larangan.  Deng­an kata lain, perlu diperhatikan betapa pentingnya  penguasa­an teori sebelum praktek, seperti disebutkan dalam surat  Al­Isra  ayat 36, yang sering disebut orang namun kurang  diper­hatikan hakikatnya.

Juga  perlu diperhatikan bahwa Hadis ini  menyebut  sorga dan neraka, yang dikaitkan dengan khamr (minuman keras,  obat bius)  dan zina. Selama ini kita mendengar pada umumnya  para penyampai agama lebih  cenderung menggambarkan sorga dan  ne­raka akhirat, seolah tak ada sorga dan neraka dunia.  Padahal penyebutan khamr dan zina itu jelas sekali mengingatkan  kita pada  kenyataan bangsa Arab ketika itu, yang gemar mabuk  dan berzina.  Kita tahu bahwa dengan mabuk dan zina  sudah  cukup untuk  menciptakan suasana kehidupan yang “bagaikan  neraka”. Untuk  mengubah kenyataan demikian, mereka perlu diajak  mem­buka  wawasan  pemikiran, sehing-ga bisa mengetahui  baik  dan buruk,  dan selanjutnya bisa meninggal-kan yang  buruk  berda­sarkan kesadaran sendiri.

Barangkali dengan dasar Hadis ini juga orang  beranggapan bahwa dakwah harus dilakukan dengan bujukan. Anggapan ini  a­da  benarnya, tapi harus diingat bahwa intinya adalah  penje­lasan  masalah  secara mendetail, sehingga  timbul  pemahaman mendalam,  yang akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk  memilih yang  benar.  Jadi, jelaslah  betapa  pentingnya  penerangan, pencerdasan, atau pendidikan, bukan bujukan yang kadang  bersifat membohongi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 97 other followers

%d bloggers like this: