Kajian Wahyu Pertama (9): Makna Bismillãh…

Dalam  kalimat bismillãhirrahmãnirrahîm ada  dua  aradh Allah,  berupa  sifat-sifatnya,  yang  disebut  secara  nyata (explicit),  yaitu Ar-Rahmãn dan Ar-Rahim. Tentang makna  Ar­-Rahmãn,  bila kita merujuk surat Ar-Rahmãn  maka  definisinya adalah “Dia yang mengajarkan Al-Qurãn”. Sedangkan Ar-Rahîm, bila kita  rujuk surat Al-Ahzab ayat 43 dan ssebuah  Hadis,  definisinya adalah “Dia yang menyayangi orang beriman, yaitu  pe­laksana ajarannya yang terdapat dalam Al-Qurãn.”[1]

Surat Al-Baqarah ayat 2, antara lain, menegaskan  bahwa Al-Qurãn adalah “petunjuk bagi orang bertakwa”, yang  ditegaskan oleh  ayat-ayat berikutnya bahwa “orang bertakwa” itu  adalah “orang yang beriman …” Surat Al-Anbiya’ ayat 105 menegaskan bahwa  hamba-hamba Allah yang shalih (= benar-benar  beriman) adalah para pewaris dunia. Surat Al-Araf ayat 10 mengingatkan bahwa  di  dunia ini tersedia segala sarana  kehidupan,  bagi orang beriman, untuk bersyukur (beramal sesuai konsep Allah).

Berdasarkan kenyataan yang terungkap di atas, jelaslah bahwa penerjemahan  bismillãhirrahmãnirrahîm menjadi  dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang” adalah penerjemahan yang terlalu harfiah, dan karena itulah menjadi sang­at dangkal.

Melalui  uraian tentang makna ismun dapat kita  ketahui bahwa  ismullahi mencakup Allah sebagai oknum  serta  segala makhluk dan sifatnya. Sebagai pencipta makhluk hidup,  antara lain,  Allah memberikan kepada mereka segala yang mereka  bu­tuhkan. Tapi khusus untuk manusia yang beriman Allah  berikan “sesuatu yang lain”, yaitu pedoman hidup yang benar.  Kalimat bismillãhirrahmãnirrahîm adalah kalimat khas orang  beriman, yang  menyatakan tekad untuk hidup berdasarkan pedoman  hidup dari Allah. Karena itu, bagi si mu’min, dalam kalimat  terse­but setidaknya tercakup pengertian demikian:

Saya/kami sebagai  makhluk  Allah,   menyatakan  bahwa saya/kami  hanya  akan mengabdi kepada  Allah  yang  telah mengajarkan  Al-Qurãn sebagai bukti  kasih-sayangNya,  dengan meneladani rasulnya, dan bantuan segala sarana yang diama­natkannya.

Itulah  terjemahan minimal dari  bismillahirrah-manirra­him! Dan harap diingat bahwa ini adalah terjemahan maknawi, bukan terjemahan harfiah (kata demi kata).

Isi Wahyu Pertama

Bila pada surat Al-Fãtihah intinya adalah  ismullãh, pada surat Al-‘Alaq ayat 1-5 (wahyu pertama) adalah ismu rab­bika, yang keduanya mempunyai pengertian yang sama.

Dalam wahyu pertama, bila kita urai berdasar  pengerti­an  ismun, akan kita dapati sejumlah aradh Allah sebagai  be­rikut:

1. Ismu rabbika (= Allah dengan ilmu/ajaran dan seluruh makhlukNya).

2. Dari kata khalaqa kita temukan salah satu peran Allah, yaitu khaliq (pencipta).

3. Pada ayat kedua kita temukan al-insãn dan ‘alaq, yang merupakan makhluk Allah.

4. Pada ayat ketiga, dari kata rabbuka kita temukan peran Allah yang lain, yaitu sebagai rabb (pembimbing), dan al-akram(u) juga aradh Allah yang berupa sifat (mahamulia).

5. Pada ayat keempat kita temukan aradh dalam bentuk ilmu (masdar dari ‘allama), dan berupa ‘benda’, al-qalam(u).

Jadi, pada hakikatnya ayat-ayat pada wahyu pertama  ini hanyalah berisi perkenalan tentang “apa & siapa” Allah,  deng­an cara menyebutkan sejumlah aradhNya. Melalui kata iqra’  da­pat kita petik pelajaran bahwa tugas pertama dan utama  manu­sia adalah menyerap informasi/ajaran Allah, dan kemudian  menda’wahkannya kepada yang lain, supaya dapat terhimpun banyak manusia yang bergabung, menjadi satu umat. Penyebutan  khalaqa, al-insãn yang disusul dengan ‘alaq adalah suatu peringatan agar  manusia  mengenal asal-usulnya, supaya proses pengkajian Al-Qurãn itu dilakukan dengan bercermin pada proses qur’ãnan (kehamilan) yang akhirnya melahirkan bayi. Pengulangan kata iqra’, yang disusul rabbuka dan al-akram, adalah penegasan bahwa manusia hanya bisa  mencapai kemuliaan  hidup bila ia menerima Allah  sebagai  pembimbing, dengan menjalankan ajaranNya.

Dengan demikian, wahyu pertama ini jelas merupakan  se­buah prolog (pendahuluan) dari rangkaian wahyu-wahyu berikut­nya yang diturunkan sebagai sebuah paket ta’dîb (pendidikan, pemberadaban). Pada satu sisi, wahyu pertama ini dapat berfungsi seba­gai penawar kegelisahan Muhammad yang sedang mencari kebenar­an. Pada sisi lain, karena masih berupa butir-butir yang  belum jelas maksudnya, sementara Muhammad sendiri masih dipengaruhi situasi dan kondisi masyarakatnya, bisa jadi wahyu pertama ini malah membuatnya makin gelisah. Bedanya, setelah  menerima wahyu ini, Muhammad jadi yakin bahwa ia harus menunggu  keda­tangan Jibril berikutnya.

Konon  sejak turunnya wahyu pertama ini Muhammad  harus menunggu selama sekitar dua setengah tahun untuk  mendapatkan wahyu berikutnya. Tim penerjemah Departemen Agama  menuturkan satu versi berikut ini:

Menurut riwayat, selama lebih kurang dua  setengah tahun lamanya sesudah menerima wahyu yang pertama, barulah Rasulullah  menerima wahyu yang kedua. Di  kala  menunggu-nunggu  kedatangan wahyu kedua itu, kembali Rasulullah  di­liputi perasaan cemas, dan khawatir kalau-kalau wahyu  itu putus, malahan hampir saja beliau berputus asa, akan teta­pi ditetapkannya hatinya dan beliau terus bertahannuts se­bagaimana biasa di Gua Hira. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit, beliau menengadah, tampaklah malaikat  Jibril a.s. sehingga beliau menggigil ketakutan dan segera pulang ke  rumah, kemudian minta kepada Siti Khadijah supaya  menye-limutinya. Dalam keadaan berselimut itu, datanglah Jib­ril a.s. menyampaikan wahyu Allah yang kedua  … [2]

Yang dimaksud sebagai wahyu kedua itu adalah surat Al-Muddatstsir  (surat ke 74 dalam mushhaf Al-Qurãn) ayat 1-7:

يَأَيُهَا الْمُدَّثِّرُ – قُمْ فَأَنْذِرْ – وَ رَبَّكَ فَكَبِّرْ – وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ – وَالرُّجْزَ فَهْجُرْ – وَ لاَ تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرْ – وَ لِرَبِّكَ فَاصْبِرْ.

Hai Muddatstsir! bangkitlah (mantapkan diri), lalu sebarkan peringatan. Demi (tegaknya ajaran) tuhanmu, maka sebar-luaskanlah (wahyu yang kamu terima itu). Untuk itu, ‘topeng’-mu, tanggalkanlah. Yakni  model kehidupan yang kotor itu, tinggalkanlah. Selanjutnnya, untuk mendapatkan banyak hasil, janganlah kamu (hanya) berkhayal. Sebaliknya, gigihlah berjuang demi tegaknya ajaran tuhanmu ini.

Dua setengah tahun untuk mencernakan lima ayat,  membe­rikan gambaran kepada kita bahwa menerima Al-Qurãn itu tidak mu­dah. Kesulitannya bukan hanya terletak pada proses pemahamannya, tapi lebih-lebih lagi pada risiko-risiko berikutnya. Muhammad bukan hanya harus memahami setiap wahyu yang diajarkan, tapi seiring dengan itu ia pun harus siap menanggalkan segala sesuatu yang selama ini melekat pada dirinya, yang dalam surat ini dikiaskan sebagai tsiyãb. Secara harfiah tsiyãb adalah pakaian. Secara kiasan ia berarti sesuatu yang melekat pada diri seseorang, apakah berupa penampilan fisik, sifat, citra, kehormatan, dan sebagainya.

Dalam bahasa Arab, misalnya, ungkapan thãhiru- tsiyãb (طاهرالثِيَابِ) digunakan untuk menyebut “orang bersih”, yakni bebas dari ‘aib.[3] Dengan demikian, tsiyãb ini bisa berarti “citra” atau malah “kepribadian” seseorang. Dalam ayat di atas, tsiyãb ‘digandengkan’ dengan ar-rujzu (اَلرُّجْز)  (kotoran, dosa, azab) yang harus diting-galkan.

Jadi, dengan menerima wahyu berarti Muhammad harus melakukan segala tindakan-tindakan ‘produktif’ demi tegaknya wahyu itu dalam dirinya dan orang lain. Inilah yang di atas disebut sebagai proses qur’ãnan (yang dalam bentuk kata perintah menjadi iqra). Bersamaan dengan itu ia juga harus meninggalkan segala sesuatu yang kontra-produktif, yakni ar-rujzu itu. Untuk itu ia tidak boleh berleha-leha, tidak boleh banyak melamun, tapi harus berjuang dan siap menghadapi segala tantangan (sabar). Alangkah berat tugas yang harus dipikulnya.

Tapi kita tahu, Muhammad mampu menunaikan tugas itu.


[1] Ada suatu Hadis berbunyi: Irahamu man fil-ardli yarhamukum man fi-sama’ (Sayangilah yang ada di bumi, maka Dia yang ada di langit, Allah, akan  menyayangi kalian). Hadis ini jelas merupakan seruan kepada orang-orang beriman, sebab orang-orang kafir tidak mendapat seruan seperti ini. Se­lain  itu, dalam khatbah-khatbah, yang tentu mengikuti  kebiasaan  Rasulul­lah, biasa digunakan seruan berbunyi: Ya ayuhal-muslimun rahimakumullah… (wahai para muslim [= mu'min] yang disayangi Allah…).

[2] Al-Qur’an Dan Terjemahnya, hal. 56-57, edisi 1990.

[3] Kamus Al-Munjid.

About these ads
Comments
3 Responses to “Kajian Wahyu Pertama (9): Makna Bismillãh…”
  1. Duta mahendra says:

    Atas nama ( Ilmu Allah ) untuk pengembangan Teknology sosial dan Buday

  2. Nil says:

    Assalamu ‘alaikum pak Ahmad,terjemahan surat muddatstsir diatas versi Depag atau bukan?dn surat kedua yg turun muddatstsir atau muzzammil? Wassalam..

  3. Ahmad Haes says:

    1. Bukan; 2. Saya tidak tahu persis. Ada yg mengatakan Al-Muddatsir, ada pula yang mengatakan Al-Muzzammil. Kalau dari segi makna, lebih pas Al-Muzzammil lebih dulu dari Al-Muddatsir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,009 other followers

%d bloggers like this: