Kajian Wahyu Pertama (8): Makna Ismun

Dalam kamus, ismun, jamaknya asmã’u/asãmin (اسماء-اسام ), berarti nama, sebutan, gelar, reputasi, gengsi.  Namun Muham­mad  Mahmud Shawwaf dalam kitab Ummul-Qur’ãn membuka  wawasan lebih luas tentang makna ismun, yaitu:

Al-ismu adalah lafaz yang ditujukan kepada  jauhar –  zat,  substansi– dan ‘aradh — sifat, kualitas,  karak­ter. Ia merupakan bentukan dari “as-sumu”, dan  merupa­kan  penghormatan dan sanjungan bagi pemiliknya —  yang diberi nama. [1]

Dalam  tatabahasa,  ismun berarti “kata  benda”,  yaitu sebutan  bagi  segala yang ada (maujudat),  mulai  dari  yang terlihat  oleh  mata  telanjang sampai  yang  hanya  terlihat dengan  bantuan  mikroskop (kaca pembesar), juga  yang  hanya bisa  dirasakan dan dipikirkan. Dengan kata lain,  semua  itu disebut  jauhar. Selain itu, ismun juga meliputi keadaan,  si­fat,  kualitas,  isi, dan nilai dari semua  jauhar tersebut. Yang  belakangan ini disebut ‘aradh. Dengan kata lain,  ismun adalah  segala  sesuatu yang dapat menjawab  pertanyaan  apa, siapa, berapa, dan bagaimana.

Makna Ismullah

Ismullahi adalah kata majemuk; gabungan dari kata ismun dan Allah. Secara harfiah —tepatnya menurut kebiasaan  umum— ismullahi berarti nama Allah. Karena itulah bismillahi diterjemahkan orang menjadi dengan nama Allah. Apa artinya? Ar­tinya adalah (kita melakukan segala sesuatu) dengan  menyebut nama Allah. Jadi nama di sini berarti sebutan. Tapi  bukankah Allah itu mempunyai banyak sebutan? Bukankan nama Allah dalam Al-Qurãn  —kata orang— ada 99? Tentu saja nama yang  disebut adalah yang terdapat dalam kalimat basmalah, yaitu  Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Tapi mengapa harus kedua ‘nama’ itu yang  disebut, kenapa tidak menyebut nama-nama yang lain? Mereka bilang, nama-nama yang lain  bisa — dan sering — disebut dalam zikir,  yang  kadang malah  dinyanyikan. Tapi benarkah nama-nama Allah  itu  hanya untuk disebut?

Banyak  orang  telah menyadari —  dan  mengajarkan  — bahwa nama Allah bukan hanya untuk disebut. Bahkan di  antara mereka  ada  yang menyalahkan penerjemahan  bismilah menjadi dengan nama Allah. Terjemahan alternatif yang mereka tawarkan adalah:  atas nama Allah. Selesaikah? Ternyata belum. Sebab, bila kita buka Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS  Poer­wadarminta  dengan nama itu muradif (sinonim) dari atas  nama.

Sejujurnya penulis katakan bahwa penerjemahan bismil-lah menjadi  dengan nama Allah itu sama sekali tidak salah.  Bila ada  yang salah, kesalahannya terletak pada pengertian  nama yang tidak pernah dikaji, sehingga kebanyakan orang tidak me­mahami hakikatnya.

Bila kita perhatikan pengertian ismun di atas, jelaslah bahwa  yang  dimaksud sebagai nama Allah adalah  jauhar dan ‘aradh Allah.

Jauhar Allah  dengan kata lain adalah zat atau  oknum (diri)  Allah. Sedangkan aradh Allah adalah identitas,  alias tanda pengenalnya.

Jauhar  (zat/substansi) Allah tidak bisa dikenali  oleh manusia,  tapi aradhnya bisa dan harus  dikenali.  Barangkali sehubungan dengan inilah Rasulullah mengatakan dalam satu Ha­dis:  Tafakkaru fi khalqillahi wa la tatafakkaru fi  dzatihi. (Pikirkanlah/kajilah ciptaan Allah; jangan pikirkan  zatnya). Dalam versi Hadis yang lain bahkan dikatakan bahwa memikirkan zat Allah dapat mendatangkan bencana pada pelakunya.

Hadis  tersebut menegaskan bahwa ketika  kita  menyebut ‘nama’ Allah, maka ada dua hal yang terlintas dalam  pikiran, yaitu zat (jauhar) Allah, dan makhluk (aradh) Allah.  Pikiran tentang  zat Allah tidak bisa dihindarkan, namun tidak  boleh diteruskan. Sedangkan pemikiran tentang makhluknya justru  ha­rus dilanjutkan, harus diperluas dan diperdalam; sebab inilah cara untuk mengenal Allah.

Jauhar  dengan kata lain adalah maujudat,  segala  yang wujud (ada),  dan itu meliputi Allah dan  segala  makhluknya. Pada gilirannya, makhluk-makhluk Allah pun merupakan  jauhar­-jauhar juga, yang masing-masing mempunyai berbagai aradh. Wu­judnya (adanya) Allah adalah wujud yang mutlak, karena Ia ada tanpa  diadakan oleh yang lain. Sedangkan selain Allah  semua diadakan  oleh Allah, alias makhluk (yang diciptakan)  Allah. Manusia diharuskan memikirkan/mengkaji makhluk Allah  (terma­suk dirinya sendiri) karena hanya manusialah yang  diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi.

Jadi, sekali lagi, nama Allah meliputi jauhar dan aradh Allah, yang mencakup zat dan identitasnya, yang terdiri  dari segala  makhluk dan sifatnya. Bila demikian, apakah  gerangan makna ucapan dengan nama Allah itu? Ini adalah lafaz yang pa­dat makna. Namun makna yang terkandung di dalamnya tidak bisa dipahami secara tumpang-tindih, tapi harus diurai secara  me­todis, sistematis, dan analitis, supaya diperoleh  pengertian yang obyektif. Sebagai salah satu bantuan, marilah kita guna­kan ilustrasi seperti ini:

A mewakili Allah sebagai jauhar (zat, oknum), B1 adalah ilmu  atau wahyu Allah, B adalah rasul, B2 mu’min  (pengikut rasul), dan C adalah alam semesta. Selain Allah adalah aradh-aradh Allah, yaitu identitas (tanda pengenal) Allah bagi  ma­nusia. Namun pada gilirannya, semua aradh itu menjadi jauhar­-jauhar tersendiri, yang masing-masing mempunyai berbagai    a­radh. Wahyu Allah misalnya, di satu sisi merupakan salah satu identitas  Allah. Tapi pada sisi lain ia adalah suatu  jauhar yang mempunyai berbagai aradh (identitas), misalnya  rekaman­nya  dalam bentuk tulisan. Namun aradh terpenting  dari  dari wahyu Allah adalah Rasulullah, karena akhlaknya adalah  Quran. Dengan kata lain, Rasulullah adalah the living Qurãn,  karena kita mengenal Al-Qurãn  dalam keadaan live (hidup) melalui priba­dinya.  Sebagai ” Al-Qurãn berjalan”, Rasulullah pada  gilirannya adalah  juga  suatu jauhar, yang melahirkan  berbagai  aradh, antara lain para mu’min yang meneladaninya, dan begitu  sete­rusnya.

Dengan  kata lain, jauhar dan aradh adalah suatu  rangkaian  yang maharumit namun sistematis yang  berpangkal pada Allah  sebagai khaliq (pencipta). Dan manusia adalah makhluk (makhluq) Allah yang paling beruntung, karena diposisikan se­bagai  ‘lawan bicara’ Allah untuk memperkenalkan dirinya melalui  ‘bahasa’ yang dipahami oleh manusia. Uraiannya  adalah sebagai berikut:

Suatu jauhar (zat/substansi/esensi) biasanya tidak bisa digambarkan  secara utuh hanya dengan  melihat  salah satu aradlnya. Bila penulis sebut nama Andi, misalnya, tentu anda bertanya;  Andi yang mana? Andi yang jangkung. Yang  jangkung mana?  Kalau soal jangkung, Bang Aziz juga jangkung. Itu lho yang  pakai kacamata. Tapi yang pakai kacamata juga  kan banyak. Akhirnya untuk menjelaskan siapa Andi yang penulis mak­sud,  maka penulis harus menyebutkan  berbagai  identi-tasnya, selengkap mungkin menurut pengetahuan penulis, sehingga anda akan relatif mudah  menemukannya. Tapi sebanyak  apa pun ciri Andi yang penulis sebutkan, itu  semua belum  menggambarkan Andi seutuhnya. Begitu juga halnya bila kita  menye-but Allah. Sebanyak apa pun pengetahuan kita tentang  aradh Allah (alam semesta, termasuk diri  kita,  sifat-sifatNya, wahyuNya), semua belum merupakan gambaran utuh tentang siapa Allah. Jangankan menggambarkan Allah secara  utuh, pengetahuan  kita  tentang alam semesta saja bahkan sangat minim, sehingga otomatis pengetahuan itu  baru  sedikit saja menggambarkan alam semesta.

Bahkan seberapa luas ilmu Allah pun, tidak dapat  dipa­parkan  oleh manusia. Kita baca misalnya dalam  surat  Luqman ayat 27:

Seandainya  pepohonan di bumi  seluruhnya  menjadi pena  dan  laut (menjadi tinta),  bahkan  ditambah  dengan tujuh laut lagi, semua tidak cukup untuk menuliskan  kalimat (ilmu) Allah…

Sebut saja salah satu ilmu Allah itu, misalnya,  Al-Qurãn. Salah  satu hal yang menarik dari Al-Qurãn  adalah  namanya  yang bermacam-macam, misalnya: Al-Kitãb, Al-Bayãn, Al-Furqãn, Adz­-Dzikru, dan banyak lagi. Tiap nama menjadi ciri yang menggam­barkan satu aspek Al-Qurãn, namun walaupun semua namanya  dikum­pulkan, semua belum merupakan gambaran yang utuh tentang  isi Al-Qurãn. Karena itulah sejak pertama kali diturunkan hingga se­karang pengkajian manusia atas Al-Qurãn  tidak juga mencapai  ti­tik akhir, belum juga tuntas. Namun bukan pula berarti  bahwa penyebutan Al-Qurãn  dengan banyak nama itu menjadi sia-sia; dan demikian juga kegiatan mengkajinya. Barangkali, lewat tinjau­an  Allah  Yang Mahatahu siapa manusia,  penyebutan  berbagai ‘ciri’ itu sudah dianggap cukup untuk memuaskan hasrat  manu­sia yang sok ingin tahu semua, tapi daya tampung otaknya  ha­nya bisa tahu sebagian saja dari segala ciptaan Allah (termasuk Al-Qurãn).

Jadi, boleh dikatakan bahwa penyebutan berbagai  sifat atau  keadaan (‘aradh) dari suatu jauhar adalah  suatu  usaha maksimal untuk memberikan gambaran minimal dari hakikat  jau­har itu seutuhnya. Yaitu minimal dalam arti sekadar  memenuhi daya tampung otak manusia.


[1] Ummul-Qur’an, hal. 24, cetakan ketiga, Mu’assasatu-risalah, Beirut.

About these ads
Comments
8 Responses to “Kajian Wahyu Pertama (8): Makna Ismun”
  1. andi says:

    jadi makna bismillahirrohmanirrohim yg bener kalau diterjemahkan apa pak? mohon penjelasannya.

  2. Ahmad Haes says:

    Untuk sementara, pakai saja dulu terjemahan yang ada, tapi dengan pemahaman yang lebih luas dan dalam. Tulisan saya hanya bertujuan membuka sebuah wawasan dan mengajak orang (khususnya umat Islam) untuk melakukan studi Al-Quran secara lebih bersungguh-sungguh. Selain itu, saya termasuk orang yang berpandangan bahwa Al-Quran pada dasarnya tidak bisa diterjemahkan secara jitu ke dalam bahasa apa pun, oleh siapa pun. Karena itulah umat Islam, bila ingin kualitasnya meningkat, harus berusaha mempelajari Al-Quran secara langsung.

  3. imam says:

    Assalamualaikum…
    Kajian yang sangat luar biasa.walaupun demikian ana juga jadi mulai ragu manakala sang penulis mengatakan bahwa ”saya termasuk orang yang berpandangan bahwa Al-Quran pada dasarnya tidak bisa diterjemahkan secara jitu ke dalam bahasa apa pun, oleh siapa pun.”,walaupun demikian ana tetap memberikan salutan pada sang penullis yang sudah berusaha maximal untuk mengurai sedikit tentang tirai di balik makna ismun dll.wallahu a’lamu bissowab

  4. Ahmad Haes says:

    Tidak apa-apa anda meragukan saya. Malah memang seharusnya begitu, karena saya memang tak punya otoritas apa pun untuk melahirkan terjemahan Al-Quran yang jitu. Selain itu, perlu ditegaskan bahwa pandangan demikian itu dianut oleh sebagian ulama dari masa ke masa. Jadi, saya “termasuk” di antara mereka. Bukan juga berarti saya mengaku setara dengan mereka, tapi hanya sepandangan; sedangkan ilmu saya masih terlalu jauh untuk disejajarkan dengan mereka.

  5. R Putrakusuma says:

    Saya sangat menghargai anda yang sudah berani membahas isi Al Qur’an.

    Jauhar (zat/substansi) Allah tidak bisa dikenali oleh manusia, tapi aradhnya bisa dan harus dikenali.
    —————————————————————————————————————————————-

    Justru Dzat Allah lah yang harus kita kenal terlebih dahulu sebelum kita beragama ( awaludinima’rifatullah )
    “aku tak kan menyembah Dzat yang tak ku kenal”
    Makanya , bagi yang belum pernah mengenal kembali ( dulu pernah mengenal saat dialam Ruh, cuma lupa) dilarang untuk memikirkan Dzat Allah….. karena pasti salah.
    Bagi yang sudah bisa mengenal kembali Dzat Allah , ya ga ada masalah.
    Dalam surat 29 ayat 5 , dijelaskan bahwa siapa saja / tak terkecuali bisa menemui NYA.
    Dalam surat 84 ayat 6 , asal bersungguh-sungguh menuju Allah (Dzat ) , pasti ketemu.

    Bagi yang sudah mengenal Dzat Allah , Makna Bismillahi = Dengan menghadirkan Dzat Allah.

    Carilah Guru / mursyid yang benar-benar paham…. bukan yang abal-abal.

  6. Ahmad Haes says:

    Terikakasih atas saran anda!
    Tapi bagi saya, mursyid saya adalah Rasulullah shlaallahu ‘alihi wa sallama, yang mengajarkan: tafakkaru fi-khalqillahi wa la tatafakkaru fi dzatihi. Silakan minta penjelasan ttg hal itu kepada mursyid pujaan anda.

  7. aghso says:

    TUK BPK YG MAMPU MELAWAN ROSUL YAITU MEMPELAJARI DZAT ALLAH DULU BARU MENYEMBAHNYA
    APAKAH ALLAH JUGA MINTA DISEMBAH APA RUGINYA ALLAH BILA KITA TIDAK SEMBAH KOK KALAU KITA GAK SEMBAH ALLAH MARAH.APA ADA PERINTAHNYA GITULOH .

  8. Rijaal says:

    Seru rasanya bila diskusi bukan untuk menjatuhkan yg lain. (30/32) Bila saya simpulkan Maka Bismillah itu Dengan ajaran/system/konsep/aturan Allah.
    Bahkan Muhammad menyuruh dalam setiap pekerjaan/perbuatan Harus Bismillah..
    bayangkan bila tiap individu/saksiyah memakai ismillah dlm stiap tugasnya ya? Pasti Makmur negeri ini! (7/96)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 987 other followers

%d bloggers like this: