Iblis Tidak Disuruh Sujud Kepada Adam?

Diskusi Dengan Seorang Muallaf

Ini tentang kasus Adam dan Iblis dalam Al-Qurãn, khususnya dalam surat Al-A’raf ayat 11. Di situ Allah berkata kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, dan mereka sujud, kecuali Iblis. Nah, pertanyaan saya adalah: “Kenapa Iblis harus menolak, padahal dia tidak disuruh sujud, karena yang disuruh adalah Malaikat; sedangkan Iblis bukan Malaikat?

Saya seorang mu’allaf, karena baru beberapa tahun masuk Islam. Ada banyak hal yang membuat saya tertarik pada Islam. Tapi saya kira faktor Al-Qurãn adalah yang terpenting. Dia punya persamaan dengan kitab-kitab agama saya terdahulu, namun juga ada perbedaan-perbedaan mendasar, dan itu bagi saya merupakan pencerahan.

Sebagai mu’allaf, anda hebat, karena mau menekuni Al-Qurãn. Padahal, orang Islam yang sudah menjadi ‘muslim’ sejak lahir kebanyakan malah tak begitu tertarik mempelajari Al-Qurãn.

Mungkin karena mereka merasa bahwa faktor darah itu sudah cukup untuk membebaskan mereka dari siksa neraka!

Ha ha! Mengapa mereka bisa merasa begitu? Nabi Muhammad pun tidak bisa menjamin kese-lamatan anaknya!

Karena Islam mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap diri masing-masing kan?

Ya. Al-Qurãn menegaskan bahwa setiap orang adalah pe-nanggung beban dirinya sendiri, sehingga tidak mungkin untuk dititipi beban orang lain.

Apakah beban yang anda maksud itu ada kaitan dengan perintah Allah?

Ya. Perintah Allah untuk menjadi hambaNya. Sebuah perintah yang bersifat umum.

Bila itu bersifat umum, saya ingin menanyakan sesuatu yang khusus.

Misalnya?

Bisakah anda terkena perintah yang ditujukan kepada saya hanya karena anda berkumpul dengan saya?

Hmh, bisa ya, dan bisa tidak.

Bagaimana bisa ya, dan ba-gaimana bisa tidak?

Bila anda dan saya adalah prajurit, dan perintah itu datang dari komandan kita, dan kita disuruh melakukan pekerjaan yang sama. Tapi, bila saya hanya tamu anda, dan perintah itu datang dari bos anda, saya tentu tidak bisa kena perintah itu.

Bingo! Anda telah membuka jalan untuk sebuah pertanyaan yang belakangan ini mengganggu pikiran saya.

O ya? Pertanyaan tentang apa?

Pertanyaan penting yang membuat saya penasaran. Sudah saya tanyakan kepada  banyak orang, termasuk mereka yang punya nama besar, tapi jawaban mereka tidak memuaskan saya.

Saya ingin dengar, dan akan coba menjawab. Tapi saya tidak lebih baik dari mereka, sehingga mungkin jawaban saya pun tidak akan memuaskan anda.

Iblis bukan Malaikat

Ini tentang kasus Adam dan Iblis dalam Al-Qurãn, khususnya dalam surat Al-A’raf ayat 11. Di situ Allah berkata kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, dan mereka sujud, kecuali Iblis. Nah, pertanyaan saya adalah: “Kenapa Iblis harus menolak, padahal dia tidak disuruh sujud, karena yang disuruh adalah Malaikat; sedang-kan Iblis bukan malaikat?

Pertanyaan bagus, tapi – maaf – ini juga sebenarnya pertanyaan bodoh!

Kenapa anda bisa mengatakan pertanyaan saya itu bagus, tapi juga bodoh?

Maaf! Sekali lagi, maaf! Anda mungkin hanya membaca terjemahan Al-Qurãn. Anda tidak atau belum memahami bahasa aslinya.

Saya sudah belajar bahasa Arab, sedikit!

Itu belum cukup. Sudah belajar banyak pun belum cukup, apalagi sedikit.

Karena itu anda menganggap saya bodoh?

Jangan marah! Ketika berhadapan dengan Al-Qurãn, saya selalu merasa sedang berhadapan dengan Allah. Karena itu, saya selalu merasa bodoh. Jadi, kalau tadi saya sebut anda bodoh, itu bukan penghinaan. Saya hanya ingin berbagi kesadaran ini. Kesadaran bahwa di hadapan Allah, kita semua bodoh. Setuju?

Hmh, ya, ya! Tapi, saya kira, saya bukan tidak memiliki kesadaran seperti itu. Saya hanya sedang berusaha memahami Al-Qurãn sebaik-baiknya.

Salut! Kalau begitu, sekarang kita bisa berdiskusi dengan pikiran yang jernih.

Bisa langsung menjawab per-tanyaan saya?

Menurut ulama (para ahli agama Islam), para ahli tafsir, Iblis itu adalah makhluk sebangsa Malai-kat.

Saya sudah mendengar dan membaca pendapat seperti itu. Tapi, apa landasan mereka?

Konteks ayat yang anda sebut itu sendiri, ditinjau dari segi bahasa, teori sastra, dan mungkin juga ilmu mantiq (logika).

Saya ingin penjelasan menga-pa Iblis ada bersama Malaikat? Jawaban yang anda sebutkan itu kan hanya tebakan! Saya juga su-dah baca Tafsir Al-Mishbah kara-ngan Quraish Shihab. Dia juga mengatakan Iblis memasukkan di-rinya ke dalam kelompok Malaikat, tapi dia tidak menyebutkan dalil tentang hal itu.

Ya, ya! Masuk akal bila ja-waban itu tidak memuskan anda. Lagi pula, kalau memang Iblis sendiri yang memasukkan diri ke dalam kelompok Malaikat, menga-pa Allah bisa menerima?

Ya. Selain itu, bagi saya, itu hanya tebakan!

Ya. Tapi jawaban ulama yang saya ajukan tadi itu bukan tebakan. Itu dalil berdasar logika! Ba-hasa pesantrennya dalîl ‘aqli. Ar-gumentasi berdasar pemahaman rasional, dan biasanya konteks-tual; dalam arti sesuai dengan konteks (karinah) masalahnya.

Tapi itu bukan jawaban yang saya harapkan.

O ya? Tapi, pertanyaan anda juga kan berangkat dari pemikiran rasional. Allah menyuruh Malaikat sujud kepada Adam, eh kok tiba-tiba muncul Iblis yang menolak perintah itu. What’s wrong with him? Kenapa si Iblis ini? Nggak disuruh sujud kok bilang nggak mau sujud? Begitu kan jalan pi-kiran anda?

Ya!

Nah, kalau begitu, sekarang saya tanya anda: “Kenapa pula Allah marah pada Iblis ketika dia tidak sujud, padahal dia tidak kena perintah sujud itu?” What’s wrong with Allah?

Saya tidak tahu!

Seharusnya anda tahu! Karena pertanyaan ini saya ajukan kepada logika anda berdasar kasus yang anda pertanyakan. Di situ ada sebuah kesimpulan logis yang bisa anda ambil.

Anda ingin menggiring saya untuk mengakui bahwa Iblis mememang juga disuruh sujud kepada Adam?

Bukan menggiring, tapi mengajak anda berjalan on the right track! Karena sejak awal saya lihat anda mengajukan pertanyaan berdasar logika, berdasar rasionalitas pikiran anda, maka saya ajak anda untuk menemukan jawaban dari jurusan itu. Tapi rupanya logika anda buntu. Anda tidak menjawab pertanyaan saya, “kenapa Allah marah pada Iblis bila Iblis (juga) tidak disuruh sujud kepada Adam?”

Yang saya tahu, Iblis bukan Malaikat. Dalam surat Al-Kahfi ayat 50 disebutkan bahwa Iblis adalah jin!

Oh! Jadi, anda sudah periksa ayat-ayat yang berkaitan dengan kasus ini.

Ya. Berdasar ayat itu, jawaban yang mengatakan Iblis sebagai “sebangsa dengan Malaikat” itu adalah salah. Lagi pula, dari mana kata “sebangsa” itu diambil?

O, sekarang anda juga ingin meninjau dari segi bahasanya? Kalau anda pahami ayat yang barusan anda sebutkan, di situ ada kata-kata kãna minal-jinni. Di situ ada partikel min, yang bisa berarti sebangsa, sejenis, segolongan, dan sebagainya. Juga bisa berarti berasal dari. Jadi, bila ayat ini anda jadikan dalil untuk memastikan bahwa Iblis adalah jin, itu juga hanya sebuah kemungkinan, bukan kepastian. Jelasnya, Iblis itu mungkin identik dengan jin, mungkin sebangsa, atau sejenis, atau segolongan.

Tapi tetap saja Iblis bukanlah sebangsa Malaikat! Itu kepastian yang saya pegang.

Siapa bilang? Sebuah hadis menyebut malaikat diciptakan dari cahaya, sebuah ayat menegaskan bahwa jin dibuat dari api. Apa keberatan anda bila, misalnya, cahaya dan api dikatakan sebangsa atau sejenis?

Apakah saya harus menggunakan tinjauan ilmu fisika?

Tak perlu sejauh itu. Lagi pula, saya mungkin tak akan bisa memahami penjelasan anda.

Lalu, apa maksud pertanyaan anda tadi?

Saya hanya ingin mengatakan bahwa Al-Qurãn itu, walaupun bisa memuaskan para ahli ilmu alam, bila mereka memahaminya, kenyataannya Al-Qurãn itu pertama kali turun di tengah masyarakat sederhana; masyarakat yang hanya menafsirkan gejala-gejala alam dengan hanya mengandalkan panca indra dan konsep-konsep sederhana. Di hadapan mereka, bila dikatakan bahwa cahaya dan api itu “sebangsa” atau “sejenis”, pastilah mereka bisa mengiyakan dengan cepat.

Dan dengan itu anda ingin membuat saya menerima bahwa Iblis adalah sebangsa Malaikat?

Saya tidak peduli anda mau terima atau tidak. Itu urusan anda. Tapi terlepas dari itu, ketika anda berusaha memahami Al-Qurãn, cobalah anda ‘pelototi’ teksnya secara langsung!

Maksud anda?

Anda tidak bisa memahami Al-Qurãn secara cukup utuh dengan hanya mengandalkan terjemahan. Bahkan juga tidak cukup walau anda sudah membaca puluhan tafsir!

Tampaknya anda mau mempersulit saya.

Sebaliknya. Saya justru ingin memudahkan anda. Setidaknya, saya ingin mengajak anda merenungkan pengalaman Roger Garaudy, seorang filsuf Prancis yang pernah dibuat bingung oleh ulama Al-Azhar, Mesir. Untuk bisa memahami Islam secara komprehensif (utuh; lengkap), mereka menyuruh Garaudy mempelajari ilmu fiqh dan ushul fiqhnya, tafsir dan ilmu tafsirnya, hadis dan ilmu hadisnya, dan banyak lagi.

Kenapa dia jadi bingung?

Karena ia lahir tahun 1920an, dan baru masuk Islam tahun 1982. Ia merasa tak punya cukup waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Tapi, untunglah ia bertemu dengan Raja Faisal, yang menegaskan padanya bahwa sumber utama Islam adalah Al-Qurãn. Faisal lalu menghadiahinya sebuah indeks Al-Qurãn yang disusun oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi. Buku inilah pembantu utamanya dalam mempelajari Al-Qurãn.

Dan buku itu ditulis dalam bahasa Arab?

Ya. Dan itu tidak menyulitkan Garaudy, karena sejak tahun 1940 ia hidup di Timur Tengah, khususnya di Aljazair yang dianggapnya sebagai tanah air kedua.

Intinya, seperti anda katakan sejak awal, saya harus memahami bahasa aslinya, dan menggunakan indeks tersebut?

Tadi juga sudah saya katakan bahwa penguasaan bahasa itu pun belum cukup.

Ilmu alat

Jadi, harus ditambah dengan penguasaan sastra, ilmu mantiq, dan entah apa lagi, seperti yang juga sejak awal anda sebutkan?

Saya hanya menyebut sebagian ilmu yang disebut ulama sebagai ilmu-ilmu alat, yang sebe-narnya semua bisa dipilah dan dipilih berdasar peran fragmatisnya.

Apa yang anda maksud dengan peran fragmatis itu?

Peran atau fungsi khusus dari setiap ilmu itu. Peran ilmu sharaf, misalnya, hanyalah sebatas bidang morfologi; penguraian bentuk kata dan berbagai variasinya. Tanpa penguasaan ilmu ini, misalnya, anda tidak akan bisa menggunakan kamus dan indeks yang saya sebutkan tadi. Terus, dengan ilmu nahwu, anda akan tahu berbagai bentuk kalimat. Dan dengan ilmu balaghah, anda akan memahami gaya bahasa (style) yang terdapat dalam Al-Qurãn.

Dan, dengan ilmu mantiq, apa yang bisa saya ketahui?

Nah, itu soal lain lagi. Ilmu itu sebenarnya boleh dikatakan sesuatu yang asing, karena memang diadaptasi orang Arab dari bangsa Yunani. Tepatnya dari logika Aristoleles. Karena itu nama asli ilmu itu adalah manthiq aristhi, logika Aristoteles. Meskipun demikian, ilmu ini bukan tidak berguna untuk memahami Al-Qurãn, karena banyak segi dari Al-Qurãn itu memang memerlukan peran logika. Satu segi, cara berpikir bangsa-bangsa Timur yang beragama Islam, pada umumnya masih lebih berbau takhyul dan mitos, dan ini bisa menghambat mereka untuk memahami Al-Qurãn yang sangat menuntut tumbuhnya sikap kritis.

Persiapan memahami Al-Qurãn

Intinya, untuk memahami Al-Qurãn itu dibutuhkan sebuah persiapan khusus?

Tepat! Al-Qurãn yang sangat hebat itu tak akan bisa dipahami dengan baik oleh sembarang orang. Ada sejumlah ilmu pokok yang harus dikuasai untuk bisa memahami Al-Qurãn secara global, dan itu tidak banyak dan tidak sulit. Juga ada banyak sekali ilmu yang harus anda kuasai untuk bisa memahami Al-Qurãn secara detail, bila anda ingin tahu semua. Dan, saya kira, tak ada seorang manusia yang bisa menguasai semua ilmu-ilmu itu.

Kalau begitu, tidak ada manusia yang bisa memahami Al-Qurãn secara menyeluruh?

Ya. Hanya bisa secara global, ditambah penguasaan khusus pada bidang-bidang tertentu dari orang yang bersangkutan.

Juga termasuk Rasulullah sendiri tidak bisa memahaminya secara menyeluruh?

Saya tidak mungkin meremehkan Rasulullah yang gurunya adalah Allah sendiri! Tapi, di masa hidupnya, beliau pernah mengatakan: antum a’lamu bi-umuri dun-yakum. Kalian lebih mengetahui bidang kehidupan kalian masing-masing. Pernyataan itu dikemukakan beliau kepada orang yang bertanya tentang masalah pertanian. Masalah cocok tanam. Pernyataan itu mengisyarakatkan bahwa  beliau tidak menguasi ilmu pertanian. Di satu pihak, mungkin yang bertanya itu mengira bahwa dengan menjadi rasul, dengan menjadi pengajar Al-Qurãn, otomatis Rasulullah jadi tahu segala hal.

Tadi anda mengatakan bahwa guru Rasulullah adalah Allah. Jadi, wajar doong kalau beliau tahu segala hal!

Yaa, memang menjadi murid Allah itu sesuatu yang sangat istimewa. Tapi, seistimewa apa pun, setiap orang tetaplah mempunyai tugas yang khusus, yang harus dijalaninya dalam batas-batas kemanusiaannya yang umum. Karena itu, beliau juga mengajarkan agar setiap urusan diserahkan kepada ahlinya masing-masing. Bila kita bawa ke dalam kehidupan sekarang, beliau pastilah tidak tahu ilmu fisika, matematika modern, biologi, embriologi, dan lain-lain ilmu modern, yang disinggung maupun yang tidak disinggung Al-Qurãn, yang nota bene memerlukan ilmu-ilmu modern itu untuk mengungkap isinya.

Pendeknya, Rasulullah sendiri hanya mengetahui Al-Qurãn secara global?

Saya kira, iya! Tapi ditambah dengan pengetahuan tertentu yang sangat mendetail, yang membuat beliau sangat layak disebut pakar.

O ya? Tentang apa?

Tentang akhlaq.

Akhlaq?

Ya. Karena missi utama beliau memang menawarkan Al-Qurãn sebagai konsep pembangunan akhlak mulia. Dalam hal ini, beliau bukan hanya pakar, tapi diri beliau sendiri adalah wakil atau wujud nyata dari konsep itu sendiri, sehingga dalam diri beliau tidak ada kesenjangan antara kata dan perbuatan.

Peran filsafat ilmu

Jadi, kalau anda mengatakan ada ilmu-ilmu pokok yang harus dikuasai untuk memahami Al-Qurãn secara global, apakah yang anda maksud itu ilmu akhlaq?

Bukan. Aisyah, istri Rasulullah, mengatakan bahwa akhlaq Rasulullah adalah Al-Qurãn. Karena itu, kalau mau meniru akhlaq beliau, yaa harus mengerti Al-Qurãn. Sebelum itu, pembantu pertama dan paling penting adalah ilmu bahasa. Dan ilmu itu terdiri dari tiga bidang kajian; yaitu (1) ilmu sharaf (morfologi), (2) ilmu nahwu (sintaksis), dan (3) ilmu balaghah (sastra; stilistika). Selain itu, yang paling menentukan adalah penguasaan filsafat ilmu.

Filsafat ilmu? Anda bicara seperti orang Barat saja!

Ha ha! Sejumlah sarjana Barat, misalnya George Sarton, juga Roger Garaudy, mengatakan bahwa Barat banyak berutang pada Timur. Lalu, Timur itu sendiri berutang pada siapa atau apa?

Saya tidak tahu.

Pada Allah, pada kitab-kitab-Nya, pada rasul-rasulnya, pada agamanya, yang sejak awal diturunkan di Timur Tengah.

Jadi, menurut anda, filsafat ilmu itu pun bukan murni ilmu Barat?

Ha ha! Tak ada manusia, yang tinggal di belahan bumi mana pun, yang berhak mengklaim diri atau wilayahnya sebagai sumber ilmu. Tapi, untuk soal yang satu ini, mungkin kita harus melakukan diskusi tersendiri.

Oke. Sekarang saya mau tahu apa manfaat filsafat ilmu dalam hubungan dengan pemahaman Al-Qurãn.

Pertama, filsafat ilmu itu bersifat netral. Ia berguna untuk memilah mana ilmu yang benar-benar ilmiah dan mana yang sekadar psudo ilmiah, alias ilmu palsu. Kedua, berdasar filsafat ilmu itu, anda bisa membuktikan bahwa Al-Qurãn adalah sebuah ilmu yang canggih, yang semakin menegaskan bahwa dia memang berasal dari Sang Pencipta. Ketiga, filsafat ilmu akan mengantar anda pada pemahaman Al-Qurãn secara obyektif, dalam arti bebas dari pengaruh-pengaruh pandangan subyektif anda.

Anda tentu sudah menguasai ilmu-ilmu itu?

Baru sedikit. Sangat sedikit! Tapi sudah bisa diterapkan untuk memahami kasus yang anda pertanyakan.

O ya? Bisa anda buktikan?

Baik. Pertanyaan anda di awal diskusi kita adalah tentang kasus Adam dan Iblis dalam Al-Qurãn, khususnya dalam surat Al-A’raf ayat 11. Di situ Allah berkata kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, dan mereka sujud, kecuali Iblis. Nah, pertanyaan anda adalah: “Kenapa Iblis harus menolak, padahal dia tidak disuruh sujud, karena yang disuruh adalah Malaikat; sedangkan Iblis bukan malaikat?

Ya, ya! Anda sudah menjawab panjang lebar, tapi saya belum puas.

Tapi saya juga mengajukan pertanyaan: “Kenapa Allah marah pada Iblis bila ia tidak disuruh sujud kepada Adam?” Dan anda tidak menjawab pertanyaan saya!

Saya datang untuk bertanya, bukan untuk menjawab.

Apakah, anda pikir, jawaban tidak bisa disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan?

Oh! Jadi pertanyaan anda itu adalah jawaban?

Setidaknya sebuah versi jawaban. Sebuah cara menjawab.

Tapi cara anda itu tidak saya pahami.

Tentu saja; karena otak anda hanya dipenuhi pertanyaan sendiri, yang mungkin menjadi kebanggaan, atau membuat anda sedikit sombong, karena belum ketemu orang yang bisa memberikan jawaban memuaskan. Menurut para kiai di pesantren, kesombongan itu bisa menghalangi masuknya ilmu. Dengan kata lain, pintu ilmu hanya bisa dibuka dengan kerendahan hati. Sayangnya, orang yang merasa rasional biasanya suka agak arogan.

Apa saya perlu minta maaf?

Saya tidak menganggap anda bersalah kepada saya. Bila arogansi itu ada pada anda, itu milik anda sendiri, dan tidak berpengaruh terhadap saya. That’s your own business. Kata anak-anak sekarang sih nggak ngaruh!

Anda melantur terus. Kenapa tidak langsung membahas ayat itu?

Baik! Ayat yang anda sebut itu, surat Al-A’raf ayat 11, dalam terjemahan Departemen Agama berbuyi: Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Sekali lagi saya tegaskan, ini terjemahan Dep-Ag, bukan terjemahan saya. Dan saya tidak memandang terjemahan Dep-Ag sebagai terjemahan standar apalagi final.

I don’t know! Saya tidak tanya soal itu.

Cuma untuk mengingatkan bahwa terjemahan Al-Qurãn karya manusia itu tidak sesakral aslinya. Tapi, karena anda berangkat dari terjemahan ini, ditambah dengan tafsir karya Quraish Shihab, maka tak masalah kita mulai dari sini, untuk sementara, sebelum mendiskusikan teks aslinya. Anda memasarkan terjemahan ayat ini karena, menurut anda, ada keganjilan kan?

Ya. Pertanyaan saya belum berubah. “Kenapa Iblis harus menolak, padahal dia tidak disuruh sujud, karena yang disuruh adalah Malaikat; sedangkan Iblis bukan malaikat?

Jawaban saya yang pertama, silakan periksa ayat berikutnya, ayat 12. Di situ bisa anda baca: Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” … Di sini jelas sekali kan? Ada kata-kata Aku menyuruhmu.

Tapi…

Tapi anda tidak teliti! Anda dipermainkan oleh logika sendiri, oleh rasionalitas sendiri, yang membuat anda berkesimpulan bahwa anda telah menemukan sebuah pertanyaan hebat, yang belum terpikirkan oleh siapa pun yang mengaku umat Islam!

Waah, anda jangan …

That’s no problem! Itu bukan penyakit anda sendirian. Kebanyakan orang, baik umat Islam dan lebih-lebih non-muslim, selalu bersikap apriori terhadap Al-Qurãn. Mereka suka merasa sudah tahu, padahal belum bertekun melakukan pengkajian. Saya sendiri pun pernah, dan sekarang kadang-kadang masih begitu.

Jadi, menurut anda, saya apriori, begitu?

Mengaku atau tidak, itulah yang terjadi. Anda membaca ayat 11, memikirkannya, merasakan ada keganjilan di situ, lalu terbentuklah sebuah pertanyaan, lalu seperti Archimedes anda berteriak eureka sambil berlari meninggalkan kamar! Anda ‘merasa’ menemukan ‘fakta’ bahwa Iblis tidak disuruh sujud kepada Adam … Padahal, ayat 12 yang anda abaikan menegaskan bahwa Iblis juga disuruh.

Saya membaca ayat itu! Maksud saya ayat 12 itu juga saya baca.

Lantas, kenapa masih memelihara pertanyaan bodoh itu?

Karena yang terpikir oleh saya adalah perintah dalam ayat 11 itu, yang hanya ditujukan kepada Malaikat.

Jadi, ayat 12 itu anda anggap bukan jawaban?

Saya tidak bisa menerima jawaban seperti itu.

Tentu. Karena yang anda cari adalah jawaban verbal; mungkin dalam bentuk kalimat “hai Malaikat dan Iblis sujudlah kalian kepada Adam”. Begitu kan?

Seharusnya begitu.

Jadi, Al-Qurãn itu harus disusun sesuai “keharusan” anda?

Bukan begitu, tapi…

Kaidah sastra

Di sinilah berlakunya ilmu sastra itu! Khususnya teori bahwa “yang sudah dimaklumi selayaknya dibuang”.

Maksud anda?

Itu salah satu kaidah sastra Arab, yang kemungkinan besar di-ambil dari Al-Qurãn. Teori ini berkaitan dengan teknik penyampaian gagasan, baik secara lisan maupun tulisan. Supaya bahasa yang digunakan tidak “boros”, maka pembicara dan atau penulis dianjurkan untuk tidak mengucapkan atau menulis hal-hal yang sudah diketahui, atau sudah bisa diketahui, atau ‘ditebak’ dalam istilah anda, oleh pendengar dan atau pembaca.

Kenapa harus begitu?

Tadi saya katakan supaya bahasanya tidak “boros”, tidak bertele-tele. Selain itu, pembicaraan atau tulisan, atau komunikasi secara umum, kadang-kadang bertujuan mendidik atau mencerdaskan. Merangsang orang berpikir, berusaha memahami hal-hal yang tidak disebut. Kata orang Melayu,  di balik yang tersurat (tertulis) itu biasanya ada yang tersirat. Ada yang terkesan, biasanya secara logis, dari sebuah kalimat atau wacana verbal.

Jadi, maksud anda, perintah sujud kepada Iblis itu ada secara tersirat?

Persis! Dan untuk memahami hal itu, kita tidak perlu menebak-nebak dalam arti menggunakan pemikiran subyektif belaka; karena isyarat-isyarat yang ada sudah dengan sendirinya membimbing kita untuk mampu membaca pesan-pesan atau pengertian-pengertian yang tersirat itu.

Bisa anda sebutkan isyarat-isyarat itu?

Pada ayat 12 jelas sekali ada kata-kata idz amartuka (ketika Aku memerintahmu). Bila anda memahami bahasa aslinya, partikel idz ini jelas mengacu pada detik-detik (momentum) ketika perintah itu (“bersujudlah kamu”) dibunyikan.

Tapi yang saya lihat bunyi perintahnya adalah: Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam”… Jelas sekali kan bahwa sasaran dari perintah itu adalah malaikat?

Itulah yang anda baca tertulis secara verbal. Itu susunan kata yang anda temukan. Tapi, anda pikir, apakah yang verbal itu berarti mewakili yang orisinal (original)?

Maksud anda?

Kita sedang bicara masalah bahasa dan sastra. Kita sedang membahas seni berbahasa. Tidak usah jauh-jauh. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering menggunakan seni bahasa tingkat tinggi, walau mungkin secara latah saja.

Contohnya?

Kalau anda memanggil sopir taksi atau tukang bakso, anda cukup berteriak “taksi” atau “bakso” saja kan?

Yaa…!

Anda sadar atau tidak bahwa yang anda teriaki itu adalah manusia?

Tentu saja.

Lalu, kenapa mereka tidak marah ketika disebut “taksi” dan atau “bakso”.

Karena sudah biasanya begitu!

Bung! Saya ingatkan lagi, kita sedang bicara tentang seni berbahasa!  Dilihat dari seni berbahasa, panggilan “taksi” dan “bakso” itu adalah perwujudan dari seni berbahasa tingkat tinggi. Di situ ada penghematan kalimat yang luar biasa, namun tetap berfungsi dengan jitu, akurat. Sebuah kalimat yang cukup panjang (“Hai Abang/ Bapak sopir taksi, tolong kemari, saya ingin menyewa taksi anda”) dilebur menjadi sebuah kata saja, “taksi”.

Anda ingin mengatakan bahwa seni berbahasa demikian itu juga ada dalam Al-Qurãn?

Ya!

Dan anda juga ingin mengatakan bahwa bunyi selengkapnya dari perintah dalam ayat itu adalah: “Kami katakan kepada para malaikat dan iblis, ­“Bersujudlah kamu kepada Adam”?

Ya!

Tapi itu adalah tebakan anda! Karangan anda!

Itu dalil, argumentasi, yang dihasilkan oleh teori bahasa, yang kita pahami dengan nalar kita. Bukan tebakan, bukan karangan. Kecuali bila anda hendak menihilkan kaidah-kaidah bahasa dan peran nalar. Dan bila itu yang anda lakukan, maka saya tak tahu lagi harus bicara apa; karena setahu saya Al-Qurãn yang ada di hadapan kita adalah sebuah teks. Sebuah wacana yang dikemas dalam sebuah bahasa, lengkap dengan segala kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya.

Saya belum puas!

Saya bukan telaga kepuasan. Senadainya saya pun mencekoki anda dengan suatu obat, obat itu baru akan terasa setelah melalui proses.

Bisa anda ajukan argumentasi lain?

Ayat dan konteksnya

Coba anda perhatikan “jalan cerita” dari kasus yang anda permasalahkan itu. Haraf diingat juga bahwa anda harus mempelajari kasus ini dalam seluruh ayat yang menyebutkannya, mulai dari ayat-ayat dalam surat Al-Baqarah, Ali ‘Imran, Al-Ma’idah, Al-A’raf, Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Yasin. Harus diingat juga bahwa anda tidak boleh hanya menyomot satu-dua ayat, lalu anda lari ke pasar untuk berjualan ayat itu. Anda harus tahu bahwa Al-Qurãn itu sebuah buku, yang terbagi ke dalam surat-surat, tema-tema tertentu, dan ayat-ayat. Bila anda hanya menjambret sebuah ayat begitu saja, bisa jadi ayat itu terlepas dari ikatan temanya. Bayangkan bahwa anda mencabut sehelai benang dari selembar kain. Perbuatan anda itu bukan hanya merusak sebagian kain, tapi juga membuat benang yang anda cabut kehilangan fungsi proporsionalnya. Seandainya ia laku juga di pasar, maka yang membuatnya laku itu kemungkinan besar adalah kepandaian anda membual.

Wah, anda kok nembakin saya terus sih!

Ha ha, maaf! Saya hanya ingin menegaskan bahwa pengambilan satu-dua ayat itu bukan sesuatu yang haram, asal anda sudah memahami konteksnya.

Jelasnya bagaimana?

Ayat-ayat Al-Qurãn itu selalu hadir dalam konteks-konteks atau tema-tema tertentu. Jadi, sedikitnya, anda harus memahami serangkaian ayat yang mewakili sebuah tema. Biasanya, rangkaian demikian itu juga diikat dengan rantai bahasa yang kompak dan indah. Dan di situ juga akan tampak bagaimana ayat-ayat itu satu sama lain saling menafsirkan (menjelaskan). Pada titik inilah, saya sering berpikir bahwa Al-Qurãn sebenarnya tidak memerlukan penafsiran manusia, kecuali Rasulullah.

Maksud anda?

Ada beberapa hal yang tidak dijelaskan Al-Qurãn, lalu Rasulullah memberikan penjelasan. Sekarang kita mendapati penjelasan-penjelasan Rasulullah itu dalam kitab-kitab hadis.

Apakah anda sudah memeriksa hadis-hadis yang berkaitan dengan kasus yang saya tanyakan itu?

Sudah. Tapi baru sedikit.

Ada tidak hadis yang menyebut bahwa iblis adalah sebangsa malaikat?

Tadi sudah saya katakan bahwa hadis menyebut malaikat dibuat dari cahaya (khuliqatil-malã’ikatu min nûr). Ini hadis Muslim, dan hadis ini ternyata menyebut asal kejadian jin dengan mengacu surat Ar-Rahman ayar 15, yang menyebut jin dibuat dari api (khalaqal-janna min mãrijin min nãrin).

Selain itu, hadis Abu Daud menyebut Setan juga, seperti jin, diciptakan dari api (inna-syaithãna khuliqa mina-nãri).

Jadi, setan dan jin sama-sama dibuat dari api? Kalau begitu, Setan hanyalah sebuatan lain dari jin? Lalu, iblis dibuat dari apa?

Nah! Pertanyaan anda ini mengajak kita merambah permasalahan lain lagi!

O ya? Permasalahan apa?

Story telling Al-Qurãn

Bila anda perhatikan ayat-ayat yang mengisahkan Adam, khususnya dalam surat Al-Baqarah dan Al-A’raf, pasti anda temukan Setan mulai muncul ketika Adam dan pasangannya memasuki al-jannah (sorga). Siapa gerangan Setan ini? Di ayat-ayat sebelumnya dia tidak disebut, kok tiba-tiba muncul sebagai penyesat Adam?

Benar juga. Jadi, menurut anda, setan itu siapa?

Kalau saya coba melihat Al-Qurãn dari sisi story telling-nya, dari segi gaya bercerita, saya jadi membayangkan sebuah film yang iramanya begitu cepat, menggulirkan cerita yang begitu padat, sehingga terasa ada “lompatan-lompatan”. Ini akan terasa ganjil dan memusingkan bagi yang tidak tahu ‘trik-trik’ bercerita, tapi sebaliknya justru sangat menarik bagi yang memahaminya.

Anda sedang bicara tentang Al-Qurãn atau tentang sebuah novel?

Ha ha!  Tadi kan saya menyebut story telling. Ini istilah sastra, yang bisa diterapkan pada sebuah novel, juga pada Al-Qurãn, karena ulama pun mengakui Al-Qurãn sebagai sebuah kitab bernilai sastra tinggi.

Terus, yang anda maksud lompatan-lompatan itu misalnya apa?

Ha ha! Maaf, saya jadi ingin tertawa lagi, karena seharusnya sejak awal saya sudah membahas masalah ini; yang boleh jadi bisa menjawab  pertanyaan anda secara cepat.

Jadi, sejak tadi anda mempermainkan saya?

Tidak juga sih. Saya hanya berpikir bahwa kita berasal dari latar belakang yang berbeda. Dalam hal ini, Rasulullah mengajar para sahabat untuk berkomunikasi, tentu dalam kokteks da’wah, dengan memperhatikan kadar nalar atau alam pikiran lawan bicara mereka (kallimu-nãsa ‘ala qadri ‘uqulihim). Dan itu tentu tidak bisa terjadi secara mendadak (instant). Lebih jauh, sabda Rasulullah itu saya pahami bahwa da’wah itu harus dimulai dengan sebuah usaha perkenalan di antara da’i (juru da’wah) dan mad’u (sasaran da’wah). Dialog panjang kita tadi, sebenarnya belum bisa dikatakan cukup untuk membangun perkenalan, tapi mudah-mudahan di antara kita sudah ada titik temu.

Oke. Sekarang langsung pada pertanyaan saya tadi!

Bila anda perhatikan susunan ayat-ayat yang mengungkap kisah Adam, khususnsya dalam surat Al-Baqarah dan dan Al-A’raf, anda bisa lihat “lompatan lompatan” itu secara jelas. Dalam hal penyebutan tokoh-tokoh, misalnya pada surat Al-Baqarah ayat 30, yang anda temukan pertama kali adalah Malaikat dan Khalifah. Pada ayat berikutnya (31), Khalifah ‘menghilang’, dan tiba-tiba muncul Adam. Karena kita sudah tahu kisah tentang Adam, dan di situ disebutkan bahwa Adam diangkat menjadi Khalifah, maka kita tahu sebelum membaca Al-Qurãn, bahwa Khalifah pada ayat 30 itu identik dengan Adam pada ayat 31. Dengan kata lain, Khalifah adalah jabatan, dan Adam adalah nama diri. Anda tahu apa yang istimewa di sini?

Ada lompatan dari penyebutan Khalifah ke Adam?

Ya! Dan yang saya maksud ‘lompatan’ itu sebenaranya adalah peralihan cepat tanpa diawali sebuah penjelasan. Ini adalah perwujudan dari teori sastra Arab, al-ma’lûm mahdzûf(un). Penjelasan-penjelasan yang diperkirakan bisa ditangkap dengan logika, dibuang! Artinya, dibiarkan menjadi sesuatu yang tersirat.

Kemudian, dari ayat 31 sampai ayat 33, tidak tampak ada lompatan demikian. Baru pada ayat 34, terjadi lagi lompatan, kali ini dari Malaikat ke Iblis!

Dan itu adalah masalah yang saya pertanyakan.

Ya. Dan sekarang anda sudah tahu jabawannya kan?

Saya masih mau mendengar penjelasan anda.

Baik! Bila ada lompatan, tentu ada sesuatu yang dilompati. Di sini, yang dilompati atau dilewatkan itu adalah penjelasan tentang siapa gerangan si Iblis itu…

Dan jawabannya adalah: Iblis itu sebangsa malaikat?

Ya. Dan anda mengatakan bahwa jawaban itu adalah tebakan.

Sebaliknya, anda mengatakan bahwa itu jawaban logis, berdasar teori bahasa, sastra, dan juga ilmu mantiq!

Ha ha! Ya, ya! Dan saya tidak peduli anda mau terima atau tidak; karena antara teori bahasa, logika, dan kenyataan pada teks tampak saling mendukung. Jadi, jawaban saya itu bisa dikatakan ilmiah; sementara bantahan anda hanya berkisar pada pemikiran tanpa dasar, bahkan mengabaikan kenyataan teks.

Jadi, berdasar kenyataan teks, menurut anda, maka iblis itu memang sebangsa malaikat, atau makhluk dari golongan malaikat?

Ya, dan bukan hanya berdasar kenyataan teks; karena saya juga menambahkan dengan penjelasan hadis bahwa Malaikat dibuat dari cahaya. Dan anda sendiri tahu bahwa Iblis adalah sebangsa jin, dan jin itu terbuat dari api.

Jadi, dengan demikian, iblis juga terbuat dari api?

Sampai saat ini saya belum sempat mencari dalil verbal yang secara langsung menyebut Iblis terbuat dari apa. Tapi, menurut Jalilaini, dalam tafsirnya, Iblis itu abul-jinni, bapak jin. Mungkin maksudnya bapak moyang jin.

Ini menegaskan bahwa Iblis memang terbuat dari api juga, seperti jin?

Bila kita pegang keterangan Jalilaini, yang juga tak menyebut sumbernya, logikanya ya begitu. Tapi, coba perhatikan lagi ayat-ayat berikutnya dari surat Al-Baqarah yang kita bicarakan ini.

Apanya lagi yang harus saya perhatikan?

Masih berkisar pada teori tentang lompatan. Tadi sudah saya sebut sampai pada ayat 34. Pad ayat 35, kita dapati Allah menyuruh Adam bersama pasangannya memasuki sorga. Pada ayat 36, ada larangan mendekati syajarah (pohon; sejarah). Lalu, pada ayat 37, tiba-tiba muncul tokoh ‘asing’, yang jauh sebelumnya tidak diperkenalkan kepada kita. Dia adalah Setan, yang membuat Adam dan pasangannya ‘tergelincir’ dari sorga! Bila anda periksa juga surat Al-A’raf, akan anda ketahui bagaimana cara Setan menyesatkan Adam. Nah, pertanyaan saya sekarang, menurut anda, Setan itu siapa? Atau sebangsa apa?

Kalau mengikuti logika anda, saya tahu jawabannya, tapi masih samar.

Kalau begitu, mari kita bikin jelas dengan memperhatikan urutan ini:

1.Allah menyuruh Malaikat sujud kepada Adam.

2.Tiba-tiba muncul Iblis dan menolak perintah sujud, dan Allah marah kepadanya. Ini salah satu indikasi bahwa perintah sujud itu juga berlaku bagi Iblis, tapi penjelasan tentang hal itu tidak disebutkan, alias dilompati.

3.Penjelasan tidak langsung kita dapati dalam ayat lain, yang menyebut Iblis adalah sebangsa jin, dan dari hadis yang menyebut malaikat dibuat dari cahaya, dan jin dibuat dari api. Bila Iblis sebangsa jin, dan jin dari api, berarti Iblis itu ‘sebangsa’ api. Dengan kata lain, jin dan Iblis itu “sebangsa”.

4.Setelah Iblis menolak perintah sujud dan kena marah Allah, Adam disuruh masuk sorga. Lalu, di sorga ia dan pasangannya digoda Setan. Siapa Setan ini?

5.Berdasar teori lompatan yang saya sebutkan tadi, Setan ini, logikanya, adalah sebutan atau nama lain dari Iblis!

Luar biasa! Tapi, maaf, masih ada keterangan lain tidak?

Saya sudah sebutkan hadis Abu Daud yang menyebut Setan dibuat dari api!

Okh, I see! Tapi, masih ada keterangan tambahan tidak?

Ha ha! Anda memang tak kenal puas rupanya. Ada keterangan tambahan dari  seorang guru saya. Dia menafsirkan bahwa Setan adalah Iblis yang aktif menyesatkan manusia, sedangkan Iblis adalah Setan yang pasif.

Setan yang pasif?

Ya. Mungkin dia sedang bobo setelah letih menggoda manusia?

Apa mereka juga mengenal rasa letih dan suka tidur?

Entahlah. Yang jelas, Rasulullah mengatakan bahwa Setan mengalir bersama aliran darah kita. Jadi, selagi jantung kita tetap sibuk mengalirkan darah, selama itu pula Setan aktif menggoda kita.

Waah, kalau begitu sih nggak ada istirahatnya doong!

Mereka baru beristirahat kalau sudah masuk neraka bersama korban-korban mereka!

Tapi, di neraka, yang katanya dibakar dan digebukin terus, bagaimana bisa istirahat?

Akh, masa bodohlah. Itu kan urusan mereka.∆

About these ads
Comments
27 Responses to “Iblis Tidak Disuruh Sujud Kepada Adam?”
  1. reza says:

    hahahaha seru juga nih bang…kalo dibikin film ttg ayat ini aktor/aktrisnya brapa org ya??
    hm.. jadi iblis n setan itu satu set ya?? kalo online namanya setan, kalo offline namanya iblis xixixixi

  2. reza says:

    dikit lagi bang? kalo kmasukan setan itu apa ya?

  3. Ahmad Haes says:

    Tergantung sudut pandangnya. Klo pandangannya ‘dukun oriented’ yaa setannya masuk ke diri org ybs. Klo sudut pandang Al-Quran, siapa pun yg ga mau dg ajaran Allah berarti kemasukan (ajaran) setan!

  4. Ahmad Haes says:

    Ha ha! Bakal seru sekalian alam klo ini difilmkan. Trus, km mo jadi yg mana? Yg online ato yg offline? (Pis!).

  5. oka says:

    bung ahmad, boleh tanya penjelasan tentang najis? sehari2 saya berkecimpung di petshop yang berisikan anjing beserta liurnya. terima kasih..

  6. Ahmad Haes says:

    Menurut para ahli fiqh, termasuk KH Ali Yafie, air liur anjing termasuk najis kelas berat (besar; mughallazhah). Tapi bila kita bersentuhan dg anjing dlm keadaan sama2 kering, Ali Yafie mengatakan tak ada najis. Bila salah satu basah (anjing atau kita), baru ada najis.
    Cara membersihkan najis besar, baik pada kulit maupun pakaian, harus menggunakan tanah. Setelah itu baru boleh menggunakan sabun. Penetilian ilmiah konon sudah membuktikan bahwa penggunaan sabun tidak mampu membersihkan najis (bakteri dsb) secara tuntas, dan baru tuntas setelah menggunakan tanah seperti ajaran Rasulullah.

  7. Antonio says:

    Wah parah komunikasinya diatas…gue ja jadi bingung neh…!!!
    gampangnya gini..(bolot banget sih…)

    Iblis itu ya malaikat tapi istimewa…malah merupakan salah satu makhluk yang paling indah yang pernah diciptakan (makanya dia doank yang dari api,malaikat yang lain diciptakan dari cahaya)…
    Iblis itu dulunya merupakan tangan kanannya Tuhan…mungkin dulu posisinya tu kaya Jibril sekarang…atau kalo menteri, dia menteri sekretaris negara…
    nah, iblis yang sekarang tu wujudnya ga asli (yang sering kita liat pake tanduk serem gitu2 deh) karena itu merupakan salah satu hukumannya yaitu memakai jubah kehinaan…

    terserah lo pada percaya pa ga….yang gua tau gitu…gitu aja koq repot…!!!

  8. Ahmad Haes says:

    Bung Antonio, bicara agama itu harus pakai dalil yang jelas, bukan ngasal begitu! Anda menyebutkan iblis begini dan begitu. Sumbernya apa dan dari mana? Terus, dengan sumber keterangan yang tidak jelas itu anda seenaknya saja bilang “terserah lo pada percaya pa ga”. Kalau anda tak mau repot, lebih baik diam. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak anda ketahui dengan pasti (tak tahu sumbernya dari mana!).

  9. Abu Khodijah says:

    Bismillah,
    assalamu’alaikum,
    saya mau tanya, apakah cara menafsirkan/memahami isi al qur’an adalah hanya dari segi bahasa saja?
    ada pendapat bahwa cara menafsirkan/memahami isi al qur’an adalah dengan cara sbb :
    Cara Pertama adalah dengan sunnah. Sunnah ini berupa: ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan diamnya (sebagai tanda setuju) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
    Cara Kedua adalah dengan penafsirannya para sahabat. Dalam hal ini pelopor mereka adalah Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhum. Ibnu Mas’ud termasuk sahabat yang menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sejak dari awal dan dia selalu memperhatikan dan bertanya tentang Al-Qur’an serta cara menafsirkannya, sedangkan mengani Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud pernah berkata: “Dia adalah penterjemah Al-Qur’an.” Oleh karena itu tafsir yang berasal dari seorang sahabat harus kita terima dengan lapang dada, dengan syarat tafsir tersebut tidak bertentangan dengan tafsiran sahabat yang lain.
    Cara Ketiga yaitu apabila suatu ayat tidak kita temukan tafsirnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, maka kita cari tafsirannya dari para tabi’in yang merupakan murid-murid para sahabat, terutama murid Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas seperti : Sa’ad bin Jubair, Thawus, Mujahid dan lain-lain.
    Cara keempat yaitu dengan dzohir bahasanya, dan ini yang terakhir?

    bagaimana pendapat anda? apakah ini benar?

    terima kasih atas jawabannya

  10. Ahmad Haes says:

    Bismilahirrahmanirrahim! Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh!
    Bila yang anda tanyakan adalah fakta tentang bentuk atau cara-cara penafsiran, yang anda sebut ada empat, maka jawaban saya adalah “benar”. Memang begitulah kenyataannya.
    Tapi yang paling menggugah adalah pertanyaan anda yang pertama, “Apakah cara menafsirkan/memahami isi Al-Quran adalah hanya dari segi bahasa saja?” Pertanyaan ini agaknya sekaligus merupakan kesimpulan anda setelah membaca tulisan saya; yaitu bahwa anda menganggap saya menafsirkan/memahami isi Al-Quran dari segi bahasa saja. Maka jawaban saya tentang hal itu sebagian sudah anda ajukan sendiri. Tapi satu hal harus saya tegaskan, yaitu cara penafsiran apa pun yang dilakukan, apakah namanya Tafsir bis-Sunnah (menjadikan Hadis sebagai sumber keterangan), Tafsir bil-Ma’tsur (menjadikan atsar Shahabat sebagai salah satu sumber keterangan), dan seterusnya, semua tidak mungkin dilakukan, tidak mungkin berjalan, bila mufassirnya tidak memahami bahasa. Dengan kata lain, bahasa (tepatnya tatabahasa dan ilmu bahasa) adalah modal dasar dan awal untuk kerja pemahaman dan selanjutnya penafsiran Al-Quran. Tapi bahasa bukan satu-satunya modal (alat), dan tidak akan pernah bisa menjadi satu-satunya alat untuk memahami/menafsirkan Al-Quran. Jangankan untuk memahami/menafsirkan Al-Quran, untuk memahami/menafsirkan sebuah berita di koran saja kita butuh ‘alat-alat’ lain selain bahasa.
    Saya kira, itu jawaban ringkas saya.
    Terimakasih atas perhatian anda pada tulisan saja, serta pertanyaan anda yang berharga.
    Jazzakallahu khairan katsiran!

  11. haryo says:

    boleh ga saya upload artikelnya di face book? thanks before

  12. Ahmad Haes says:

    Boleh, asal menyebutkan sumbernya.

  13. Ahmad Indra says:

    Assalamualaikum. Subhanallah! Ente muallaf? Toyib, toyib… Ane ijin copy ya. ntar tak tulis sumbernya: Ahmad Haes. Jazakallah khair.

  14. Ahmad Haes says:

    Silakan, silakan! Jazzakallah khairan katsiran.

  15. shahil says:

    Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Saya pernah didebat oleh sorang Kristen dalam milis debat_islam-kristen hal dakwaan Iblis tidak disuruh sujud ini. Dan dikatakan Tuhan zalim kerana menghukum Iblis sedang iblis tidak disuruh sujud.

    Saya menjemput (silakan) anda membaca perdebatan saya dengannya dalam kategori “koleksi debat_islam-kriten” dalam blog saya.

    ID blog saya ialah, http://shahil.wordpress.com

    Semoga mendapat sedikit pencerahan.

    Wassalam.

  16. gunadi says:

    Ada lagi satu penafsiran bahwa : tadinya Iblis itu adalah mahluk yang paling tunduk patuh kepada tuhannya Tuhannya, maka ketika diperintahkan sujud kepada Adam dia menolak karena merasa bahwa yang paling tepat itu sujud kepada Tuhannya, bukan kepada Adam. bagaimana tanggapan Anda

  17. shahil says:

    Maafkan saya menjawab bagi pehak tuan punya blog ini.

    Apa yang dikatakan bahawa Iblis menganggap hanya patut tunduk kepada ALLah bukan kepada Adam, adalah satu tafsiran JIL, atau Freethinker.

    Jelas ALLah menyuruh sujud kepada Adam adalah untuk memuliakan Adam sebagai manusia pertama. Maka tunduk itu merupakan kepatuhan kepada perintah ALLah, bukan tunduk untuk menyembah sebagai Tuhan.

    Tidak ada di dalam Hadith mahupun Athar yang mendukung kenyataan Iblis enggan tunduk kerana hanya mahu tuntuk kepada Tuhan. Ayat al-Quran jelas mengatakan bangkangan Iblis yang berkata “…bukankah aku lebih mulia dari Adam”. Dan tidak ada bangkangan Iblis dengan berkata “…aku tidak mahu tunduk kepada manusia melainkan kepada Engkau ALLah, hanya engkau Tuhan untuk disembah”, tidak ada tuntas.

    Maka “…aku lebih mulia…” menunjukkan bangkangan kerana Iblis menyangka dirinya lebih mulia dari Adam.

    Ketahuilah, tafsirannya sungguh jelas nyata dengan ayat itu. Maka mengapakah mahu di Qias dengan Tauhid? Bukan “…aku lebih mulia dari Adam” itu menunjukkan bangkangan kerana perbezaan darjat makhluk?

    Saya telah menemui tujuh tafsiran yang direka cipta kononnya Iblis teraniaya dalam kasus tunduk kepada Adam ini. Sesungguhnya ia adalah bertujuan untuk memurtadkan umat Islam lalu menyanjung Iblis, na’uzubiLLahi minzaalik.

    Semoga mencerahkan dan semoga sekelian kita di dalam pertunjuk ALLah Taala.

    Wassalam

  18. Ahmad Haes says:

    Ya, memang ada cerita seperti itu, dan di Indonesia pernah dipopulerkan oleh Nurcholis Madjid. Saya tidak menyinggungnya dalam tulisan ini, karena tulisan ini lebih mengutamakan pembahasan ayat-ayat yang berhubungan dengan perintah sujud tersebut.

  19. Ahmad Haes says:

    Anda benar! Terimakasih telah membantu saya memberi penjelasan. Jazzakallahu khairan katsiran.

  20. andi says:

    Alhamdulillah….tulisannya menyegarkan kembali yg terlupa.

    sifat api sangat cocok memang dilekatkan pada tokoh setan (api yg lepas kendali).
    manusia yg juga mempunyai unsur api dalam dirinya sangat mungkin berkolaborasi n berkoalisi dengan setan, jadilah setan berwujud manusia.

  21. imamgoblog says:

    Bagus sekali diskusi ini, Saya salut dan bangga bahwa tehnik penyampaian model begini adalah sebagai satu metode dakwah on line yang progressif dan funny.
    Saluut…., lanjutkan !!!
    Terima kasih.

  22. Ahmad Haes says:

    Terimakasih juga atas kunjungan dan apresiasi anda!

  23. Agus Qadry says:

    Ijinkan saya ikut menjawab pertanyaan seorang mu’alaf di atas yg menanyakan begini : “Ini tentang kasus Adam dan Iblis dalam Al-Qurãn, khususnya dalam surat Al-A’raf ayat 11. Di situ Allah berkata kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, dan mereka sujud, kecuali Iblis. Nah, pertanyaan saya adalah: “Kenapa Iblis harus menolak, padahal dia tidak disuruh sujud, karena yang disuruh adalah Malaikat; sedangkan Iblis bukan Malaikat?”
    Pemahaman anda pada teks Al-Qurãn, khususnya dalam surat Al-A’raf ayat 11 itu kurang benar,boleh dikata anda pny pemahaman ada 2 jenis kelompok yaitu malaikat & iblis.sebab menurut kitab tafsir yg saya baca bahwa pada saat Alloh SWT memerintahkan sujud kpd Adam saat itu memang ditujukan kepada malaikat karena saat itu belum ada jenis iblis,jadi semuanya adalah jenis malaikat,nama iblis muncul ketika terjadi penolakan dr sekelompok malaikat yg tidak mau mengikuti perintah Alloh tsb,sehingga Alloh mengecap mereka dg sebutan iblis(pembangkang)

  24. alcali says:

    maaf bukan mksd saya untuk mengurui…tp coba liat penjelasan ini….

    A. Jin
    Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata ‘jin’. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin.
    Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.
    1. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api.
    Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.
    Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.(QS.Al-Hijr : 27)
    dan Dia menciptakan jin dari nyala api.(QS.Ar-Rahman : 15 )
    2. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak
    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS.Al-Jin :11 )
    Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as.
    Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.(QS.An-Naml : 17 )
    Dan Kami angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.(QS.Saba’ : 12 )
    Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap . Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’ : 13)

    B. IBLIS.

    Iblis menurut bahasa arab berasal dari kata ablasa – yublisu – ilbisan yang berarti putus asa, frustasi atau berdukacita. Ilbis menurut Al Qur’an adalah salah satu dari golongan jin yang ingkar terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam as. Hal tersebut sebagaimana firman Allah:
    “dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat,’sujudlah kamu kepada adam,’maka kecuali ilblis. Dia adalah golongan jin, maka ia mendurhakai perintah tuhannya…” (QS. Al Khafi: 50)
    “Allah berfirman:”apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Nabi Adam as) diwaktu aku menyuruhmu?” ilbis menjawab:”aku lebik baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
    (QS al A’raf: 12)

    Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jenisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.
    Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (QS.Al-Kjahfi : 50)

    Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.

    Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS.Al-Baqarah : 34)

    Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam.

    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS.Al-Araf : 12 )

    Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT

    Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS.Al-Araf : 14-15 )
    Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya “. (QS.Shaad : 79-81 )

    Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada diantara keturunannya itu yang mati. Meski barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis.

    Sangat jelaslah ilbis itu bukan makluk baru ciptaan Allah SWT atau tafsiran beberapa ulama terdahulu ilbis itu merupakan malaikat yang membangkang Allah Azza Wa Jalla. Kedua ayat Al Qur’an diatas secara implisit dan tegas menyebutkan ilbis berasal dari golongan jin yang tercipta dari api. Sedangkan makluk Allah yang tercipta dari api hanya bangsa jin bukan manusia yang tercipta dari tanah atau bangsa malaikat yang tercipta dari cahaya (nur).
    Selain itu ada beberapa dalil yang membuktikan bahwa sebelumnya iblis bukan dari golongan malaikat melainkan golongan jin:
    1. Iblis memiliki keturunan, sementara malaikat tidak memiliki keturunan.
    2. Malaikat terjaga dari segala dosa, sementara ilbis tidak terjaga dari dosa.
    3. Iblis tercipta dari api, sedangkan malaikat tercipta dari cahaya.
    4. dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa syetan adalah jin.
    5. banyak riwayat dari rasulullah muhammad saw dan para sahabat yang sampai kepada kita yang menegaskan bahwa ilbis adalah jin.

    C. Setan

    Menurut bahasa Arab adalah ruuhun syariirun atau ruh yang sangat jahat/buruk, al-hayatul khabitsah atau suatu kehidupan yang sangat buruk dan mutamarridun madsadun atau pendurhaka yang merusak”. Sedangkan setan secara istilah adalah sifat yang jahat yang tersembunyi dalam diri jin dan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Jadi syetan adalah profesi atau sebutan dari kalangan jin dan manusia yang jahat. Hal ini sesuai dengan definisi Allah mengenai syetan dalam Al Qur’an:
    “syetan yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan jin dan manusia” (QS. An-Naas: 5-6)
    “ dan demikian kami jadikan bagi tiap – tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin. Sebagian lagi membisikkan kepada sebagian lagi perkataan – perkataan yang indah – indah untuk menipu manusia. Jikalau tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan,” (QS Al-An’am: 112)
    Jadi Setan adalah anak cucu keturunan dari Iblis dan Jin.

    Diantara sifat syetan itu adalah sifat congkak, sesat dan cinta terhadap kejahatan. Jin yang bersifat congkak dan cinta kejahatan disebut setan. Manusia yang memiliki sifat tersebut disebut juga setan. Setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin yang ditetapkan Allah sebagai musuh para nabi itu menperdaya sebagian yang lain dengan kata-kata indah yang dibisikannya. Yang dimaksud dengan membisikkan disini adalah memindahkan pengaruh internal dari sebagian kepada sebagian yang lain, menipu dan mendorongnya untuk berbuat congkak, sesat dan maksiat kepada Allah Azza Wa Jalla.
    Setan jenis manusia, sepak terjangnya dapat dilihat secara nyata dan jelas oleh mata telanjang kita, begitu pula bentuk permusuhan mereka terhadap nabi dan orang yang beriman itu. Sementara seyetan jenis jin bercampurbaur denjgan manusia untuk menjerumuskan dan menyesatkanya dengan cara – cara yang tidak diketahui manusia. Sebagaimana firman Allah di Al Qur’an:
    “dan kami tetapkan bagi mereka teman – teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada dihadapan dan dibelakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi”
    (QS Fusshilat: 25)
    “ dan orang-orang kafir berkata, “ya Tuhan kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kami kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina” (QS Fusshilat: 29)

    Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.
    1. Mengajak Kepada Perbuatan Keji
    Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah : 169 )
    2. Syetan Adalah Musuh Manusia
    Dan Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah : 208 )
    3. Memberi Janji Dan Angan-angan Kosong
    Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia
    Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS.An-Nisa : 120 )
    4. Syaitan Bisa Berujud Manusia
    Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus / jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.
    Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS.Al-Anam : 112)
    Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (QS.An-Naas : 1-6 )

    D. QARIN

    “barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah yang maha pemurah (Al Quran), kami adakan baginya setan, maka setan itulah menjadi teman (al Qarin) yang menyertainya” (QS az-Zukhruf: 36)

    Rasulullah muhammad saw bersabda tentang al Qarin, “tidak satupun dari kamu yang tidak diwakilkan oleh Allah seorang qarin (peneman) baginya dari bangsa jin.” Para sahabat bertanya. “apakah qarin itu juga diperuntukkan bagimu wahai Rasulullah Muhammad SAW?” beliau menjawab, “juga bagi saya, akan tetapi Allah SWT telah menolongku terhadapnya, lalu ia masuk Islam, sedangkan ia tidak akan menyuruhku kecuali pada kebaikan.” (HR muslim)
    Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “tidaklah ada seorang diantara kalian kecuali disertakan untuknya qarin dari jin dan qarin dari malaikat.”
    (HR Muslim dan Ibnu Mas’ud)

    Sangat jelas bahwa Qarin itu merupakan salah satu suku bangsa jin yang disebut QARIN yang ditugaskan Allah untuk selalu mengikuti manusia dalam setiap aktivitasnya. Kemungkinan jin qarin masuk Islam oleh pengaruh manusia dijelaskan Dr. Al Asyqar berkata: bisa jadi seorang muslim manpu menpengaruhi jin pendampingnya kemudian dia masuk Islam”.

    Tetapi Syeikh Wahid Abdus Salam Bali berkata: apa yang dikatakan oleh Dr. Al Asyqar perlu ditinjau, karena pernyataannya tersebut mengisyaratkan bahwa setiap muslim bisa menpengaruhi jin pendampingnya hingga masuk Islam, bahkan secara tegas beliau menyatakan hal ini. Padahal yang benar tidaklah demikian, karena pemberitahuan di dalam hadist tersebut lahiriahnya menunjukkan bahwa hal tersebut khusus bagi Nabi Muhammad SAW. Siapa yang menyatakan berlaku bagi umum maka ia harus mengemukakan dalil. Sepanjang yang saya ketahui tidak ada dalil yang mendukung pendapat itu.

    Sahabat Umar bin Khattab yang dikenal kuat aqidahnya dan baik komitmen agamanya, ditakuti syetan (golongan jin) tetapi beliau tidak manpu mengislamkan jin pendampingnya. Selain itu seandainya seorang muslim selain Nabi Muhammad SAW manpu mengislamkan jin pendampingnya niscaya tidak ada lagi diadakannya ujian dan cobaan.

    Seringkali kita mendengar kasus-kasus kesurupan dan menonton sinetron atau reality show bertema jin, dimana “makluh ghaib” yang merasuki tubuh manusia atau berada ditempat/rumah setelah dimediumisasi mengakui sebagai ruh Rasulullah Muhammad SAW, ruh personil walisanga, ruh bung karno, ruh raja-raja terdahulu dan ruh dari keluarga. Si “makluh ghaib” itu menyakinkan dengan manpu menyebutkan tempat suatu kejadian, peristiwa-peristiwa tertentu, silsilah/nasap keluarga dan sebagainya, hal ini membuat orang-orang disekitarnya menyakini bahwa yang merasuk memang ruh yang gentayangan.
    Kalaupun ada kesamaan antara pengakuan si “makluh ghaib” dengan sejarah hidup seseorang yang telah meninggal, bukanlah merupakan bukti bahwa itu ruh orang tertentu yang bergentayangan. Itu adalah ulah jin Qarin orang tersebut saat masih hidup. Si jin Qarin ini berumur panjang dari orang itu yang memiliki data-data lengkap mengenai kehidupan orang itu. Tentunya dengan mudah menjabarkan sejarah hidup orang itu.

  25. widz says:

    Tulisan2 rumit saudara ini sangat jelas menunjukkan bahwa Al Quran itu rumit. Al Quran itu hanya untuk golongan tertentu,, dengan tingkat pendidikan tertentu.

    hal ini bertentangan dengan Firman Allah bahwa Al Quran dibuat sebagai petunjuk. gimana mau jadi petunjuk,, untuk memahaminya saja bikin kepala botak kaya gini????

    da da ja sampeyan

  26. Ahmad Haes says:

    Memang benar. Al-Quran adalah petunjuk bagi orang2 yang mau meningkatkan dirinya, menjadi orang2 yang cerdas, berpandangan luas, berkesadaran tinggi dsb., yang bisa diandalkan untuk memimpin orang2 yang berpikir sederhana dan gampang botak.

  27. Ahmad Haes says:

    Komentar2 di Facebook:

    Ahmad Haes
    Di blog saya ada yg berkomentar spt ini: “Tulisan2 rumit saudara ini sangat jelas menunjukkan bahwa Al Quran itu rumit. Al Quran itu hanya untuk golongan tertentu,, dengan tingkat pendidikan tertentu. hal ini bertentangan dengan Firman Allah bahwa Al Quran dibuat sebagai petunjuk. gimana mau jadi petunjuk,, untuk memahaminya saja bikin kepala botak kaya gini???? Da da ja sampeyan.” Apa komentar anda?
    Like · · 4 hours ago

    Didah Rosidah likes this.
    Diar Triarsono tahu karena mau …
    bisa karena biasa …
    4 hours ago · Unlike · 1 person
    Diar Triarsono eh tapi itu ada sekelumit kejujuran … “botak” … hahahaha
    4 hours ago · Unlike · 1 person
    Maharani Dewi bialng aja, “udah tahu rumit kok dibaca terus, penasaran ya?”
    4 hours ago · Unlike · 1 person
    Nuhun Gusti wartoskeun weh bang agama mah kangge jalmi nu mikir sanes jalmi nu lieur.
    3 hours ago · Unlike · 1 person
    Fanan Angsoni betul hanya untuk golongan orang yang tersentuh aja (berprasangka positip ),bukan untuk orang yg berprasangka negatif terhadapnya.
    3 hours ago · Unlike · 1 person
    Siti Aminah Kalau baca kata “Rumit” jadi inget baca akunt FB orang, tulisan ttg hubungan statusnya “Rumit” hehe…
    3 hours ago · Like
    Rika Adinda kalau menurut saya sih memang otak agak berusaha keras utk memahaminya, tapi insya Allah pasti mampu krn sesuai dg fitrah manusia. Tinggal mau atau tdk utk berusaha keras. Walaupun saya blm memahami scr keseluruhan, tapi ada alur yg menunjukkan satu tujuan dalam setiap bahasannya, dan saya merasakan di ujung sana ada satu solusi dari seluruh permasalahan kehidupan. Menurut saya lho.. ^_^
    2 hours ago · Unlike · 1 person
    Siti Aminah Yg satu tau, ga ada pinter dan bodoh,
    Yg membedakan hanya “Mau atau tidak” dan “Fokus dan konsentrasi”
    2 hours ago · Unlike · 1 person
    Gempur Isa Bugis Tulisan2 rumit menunjukkan cara berpikir yg rumit. Itulah cara berpikir IB n his gang. rumit bin amit-amit haha!
    about an hour ago · Like
    Malik Al-Zabani Otak itu ciptaan Allah begitu juga Ilmu yani alQur’an juga ciptaan Allah jadi otak dan alQur’an ibarat baut dan mur nya pasti klop tidak ada alasan menjadi rumit sebab sejatinya otak diciptakan untuk alQur’an bukan untk mikir yang engga2….ada istilah aljahlu dzalamun…oleh karena itu alQur’an tidak bisa dipelajari sendiri harus ada gurunya kalau tidak ya pasti rumit….emang tadinya rumit tambah rumit lah…..
    52 minutes ago · Unlike · 1 person
    Abi Dzar Memanglah Alqur’an rumit bagi orang yg males mikir/belajar tp bagi yg mau ber-ILMU-kannya walaupun rumit ttp berusaha tuk memahamiNya!
    21 minutes ago · Like
    Kalisa Jurnal Al-Quran Tak ada ilmu yg sederhana, juga tak ada ilmu yg bisa disederhanakan.
    20 minutes ago · Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 968 other followers

%d bloggers like this: