Komersialisasi Agama

Semua agama mengajarkan pengorbanan demi kepatuhan terhadap Tuhan.

Orang yang sangat saya hormati membagi sejarah iman dan filsafat ke dalam tiga periode: pre-modern, modern, dan post-modern. Setiap periode ini mempunyai semboyan yang berbeda, yang membingkai pandangan mereka terhadap diri mereka  sendiri dan dunia secara umum.

Dalam periode pre-modern, semboyannya adalah “Credo Ergo Sum” (Aku percaya, karena itu aku ada). Cara orang memandang agama dan dunia mereka berdasar pada asumsi-asumsi (anggapan) yang tidak boleh dipertanyakan, yang berasal dari kebenaran-kebenaran yang mereka percaya diwahyukan Tuhan.

Dalam periode modern, semboyannya adalah ucapan filsuf Prancis Rene Descartes yang terkenal, “Cogito Ergo Sum” (Aku berpikir, karena itu aku ada). Identitas dan iman orang detentukan oleh pikirannya, oleh apa yang mereka bisa gambarkan dengan pikiran mereka.

Dan semboyan di masa kita sekarang, post-modern, adalah “Costco (supermarket diskon terkenal di Amerika) Ergo Sum” (Aku belanja, karena itu aku ada). Identitas orang ditentukan oleh barang-barang yang ia gunakan. Dan agama pada masa ini sama sekali tidak tidak masuk trend (tidak trendy alias ketinggalan zaman).

Apakah anda menggunakan benda-benda keagamaan (berupa pakaian, perhiasan, rekaman, buku, musik, dekorasi rumah…)? Mengapa?

Agama yang diperdagangkan

Sebagai orang Amerika yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat taat pada Kristen Injili (Evangelical Christian), pengalaman saya dalam hal komersialisasi dan personalisasi agama, saya percaya, sangat mendalam. “Hubungan pribadi” saya dengan Tuhan berjalan melalui perintah-perintah keagamaan yang saya rasakan sejak kecil. Gereja dipandang penting, namun yang lebih penting adalah sikap keberagamaan masing-masing orang. Dan, karena pandangan agama dan sosial mereka yang konservatif (kolot), aku tumbuh dengan dikelilingi orang-orang yang tidak merasa nyaman terhadap budaya populer Amerika. Bagi mereka, budaya populer tersebut (khususnya yang berkenaan dengan sex) kurang bermoral. Karena itu, mereka mencari berbagai cara untuk membuat kami jauh dari pengaruh pergaulan sekitar.

Dengan dua tekanan tersebut, komersialisasi agama benar-benar tak bisa dihindarkan. Dan, dalam banyak gereja kami, hal itu tidak dipandang buruk. Kenyataannya, hal itu tidak dilihat dari sisi baik atau buruk, atau bahkan tidak dihiraukan sama sekali. Bila anda Kristen dan serius dengan iman anda, maka anda mempunyai cara pandang tertentu, sehingga anda membeli barang-barang tertentu, mendengarkan musik tertentu, dan membaca buku-buku tertentu.

Buku, terutama, adalah wilayah komersialisasi yang sangat besar, dan merupakan sesuatu yang hari demi hari menjadi semakin akrab di linkungan saya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah toko buku Kristen Amerika. Setiap celahnya dibagi untuk lelaki, wanita, pemuda, dan seterusnya. Setiap batasan apa pun ada buku-bukunya sendiri, ada barang-barang khususnya sendiri. Ada buku-buku dengan jilid berkilauan dengan hiasan gambar guru-guru agama berpakaian rapi, yang tersenyum sambil menawarkan: Sepuluh Langkah Mudah Untuk Menurunkan Beat Badan – Untuk Orang Kristen! Atau judul-judul lain yang senada untuk setiap masalah dan isu pribadi yang ada di luar sana.

Bahkan Bibel pun dibuat dengan berbagai bentuk dan ukuran, dengan berbagai kajian untuk setiap orang dengan aneka pekerjaan. Untuk para pemain musik pop di Amerika, tersedia buku “Kristen alternatif”. Dan tentu saja  tersedia juga berbagai asesoris. Mulai dari WWJD (What Would Jesus Do?, apa yang akan dilakukan Yesus), berupa gelang dan T-shirt, sampai kalung dalam setiap bentuk dan ukuran.

Ya, Kekristenan Amerika telah dipersonalisasikan dan dikomersialkan secara menyeluruh.

Dan manakala kita telah mengkomersialkan agama, kita mengubah pesan dan teladan pengorbanan demi agama menjadi konsumsi tanpa akhir, menjadi sebentuk iman yang nyata tapi murah. Kita disimpangkan dari tugas sebenarnya untuk mempelajari cinta Tuhan dengan jutaan cara remeh melalui pembelian barang-barang, untuk menunjukkan bahwa kita mencintai Tuhan.

Lantas…

Lantas, apakah itu salah? Apa salahnya mengakrabkan agama seorang dengan cara seperti mereka mengakrabi iPod? Kita hidup di sebuah zaman yang membuat manusia semakin bebas untuk memilih sendiri apa yang dianggapnya paling penting. Dan nilai dari pilihan pribadi itu, yang tentu mempunyai banyak kekurangan, telah menggiring banyak orang di dunia ke dalam kemakmuran dan kemewahan, yang membuat pihak yang mengambil keuntungan tak akan pernah merasa puas. Mengapa hal itu tidak diterapkan secara bebas ke dalam agama seseorang sebagaimana kita menerapkannya ke dalam berbagai hal lain?

Kenyataannya adalah bahwa Tuhan – sementara saya sebagai orang Kristen percaya bahwa Dia adalah satu pribadi – tidak bisa dipersonalisasikan. Tuhan adalah pencipta kita, dan kita sebagai ciptaanNya seharusnya mencerminkan maksud-maksudNya, bukan mencerminkan yang lain. Seperti dikatakan Uskup Kallistos Ware, “Manusia diciptakan dengan citra (image) Tuhan, tapi pantulannya tidak benar.” Inilah perbedaan mendasar antara agama – pemujaan dan pengetahuan tentang Tuhan – dan  semua wilayah lain kehidupan.

Dalam seluruh hidup kita, kita bergaul dengan hal-hal yang diciptakan manusia: rumah kita, mobil kita, koleksi musik kita; segala sesuatu yang kita pilih berdasar selera dan penilaian kita. Tapi hubungan kita dengan Tuhan sama sekali berbeda. Dia pencipta kita, dan tanggung jawab kita adalah menyesuaikan selera-selera kita pada kehendakNya, bukan pada apa pun di sekeliling kita.

Saya percaya bahwa kita harus mencari Tuhan dengan cara kita sendiri – dan Tuhan berbicara pada masing-masing kita dengan cara yang berbeda – tapi Dia tetap merupakan Tuhan yang sama. Usaha mempersonalkan Dia – usaha untuk membuatnya cocok dengan sifat kita – bukanlah memuja Tuhan tapi memuja berhala yang kita ciptakan dan kita sebut “Tuhan”. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan itu sebenarnya hanyalah pemujaan terhadap diri sendiri, karena kitalah yang mendefinisikan Tuhan dan memastikan bagaimana dia berbicara kepada kita.[1]

Agama secara umum

Komersialisasi agama, sambil mempercayai bahwa dalam beberapa hal tidak bisa dielakkan di masa sekarang, menggantikan kenyataan batin iman dengan “citra” yang bisa dijual.

Konsep yang sama dari semua agama adalah keharusan berkorban demi mematuhi Tuhan.

Musa meninggalkan kesenangan di istana Fir’aun dan menemukan Tuhan di gurun. Muhammad menolak tawaran untuk menjadi penguasa di Makkah dengan syarat mau mengubah haluan da’wahnya, dan memilih untuk berhijrah ke Madinah. Dan Yesus mengatakan, “Jangan menyimpan kekayaan dunia untuk dirimu sendiri, yang bisa dirusak oleh rayap dan karat, dan pencuri bisa menjebol pintunya. Tapi simpanlan untuk dirimu kekayaan sorgawi, yang tidak bisa dimakan rayap dan karat, dan tidak bisa diambil pencuri. Sebenarnya, di tempatmu menyimpan kekayaan di situlah pula hatimu tertahan.”

Ketika kita mengkomersialkan agama, kita menukar ajaran dan keteladanan untuk berkorban demi agama dengan konsumsi tanpa akhir, sehingga menjadi sebentuk iman yang nyata tapi murah. Kita disimpangkan dari tugas sebenarnya untuk mengenal dan mencintai Tuhan dengan jutaan cara remeh berupa pembelian barang-barang untuk menunjukkan bahwa kita mencintai Tuhan.

Kita bisa berusaha mencari Tuhan sendiri. Tapi kita haru selalu sadar untuk memasrahkan kehendak dan penilaian kita pada tuntutan untuk berkorban, dan bahwa tujuan kita sebenarnya mengabdi kepadaNya, bukan kepada apa pun di sekitar kita.*

(Islamonline, Jonathan Pinckney, blogger, USA/Egypt,  artculture@iolteam.com)


[1] Karena itulah Islam mengajarkan bahwa Allah memperkenalkan diriNya melalui wahyu yang diajarkan kepada manusia melalui para RasulNya, mulai dari Adam sampai Muhammad. Dengan demikian, manusia tidak perlu ‘mencari-cari’ Allah dengan berbagai cara sendiri.

About these ads
Comments
One Response to “Komersialisasi Agama”
  1. Budaya Pop says:

    Ulasan yang sangat menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 980 other followers

%d bloggers like this: